





















Tuhan, ini titip tanya anak saya padaMu
Gunung Merapi jadi meletus tidak?
Kalau tidak, apakah harus ditebus dengan gempa bumi di Jogja ?
Bencana itu wajib antri untuk ditanggung negeri ini ya, Tuhan?
Kemarin kami menunggui gunungMu seperti menunggui ibu yang sedang hamil tua, tapi tidak juga mengeluarkan kandungannya. Tunggu punya tunggu, ternyata ada ibu lain yang datang belakangan, sedang stress hingga geger otaknya dan tidak diduga mengalihkan perhatian kami lebih seketika. Kami selalu terhimpit dari bawah dan atas ciptaanMu. Rasanya sakit.
Tuesday, May 30, 2006
Bencana Jawa Tengah, Mei 2006
Posted by Cisca at 12:29 PM
Sunday, May 21, 2006
Pemaknaan Baru Kebangkitan Nasional
Pengertian nasionalisme rentan terhadap manipulasi. Karenanya, harus dilihat siapa yang menggunakannya dan untuk kepentingan apa . Terlebih lagi dengan melekatkan kata "baru" di belakangnya.
Apa sebenarnya makna nasionalisme buat kita ?. Nasionalisme ialah persatuan secara kelompok dari suatu bangsa yang mempunyai sejarah yang sama, bahasa yang sama dan pengalaman bersama. Tetapi definisi seperti itu jarang terjadi. Yang biasa terjadi adalah pemakaian secara spesifik tentang pengertian nasionalisme itu. Untuk menghindari manipulasi terhadapnya, harus dilihat kasus perkasus.
Dalam konteks Indonesia kini, nasionalisme sering dikaitkan dengan semangat pembelaan terhadap negara kesatuan. Seakan-akan nasionalisme ilah negara kesatuan itu sendiri. Jargon NKRI merupakan alasan ampuh untuk pembenaran meredam kerusuhan di berbagai daerah. Menarik untuk dicermati reaksi-reaksi yang bermuatan nasionalis ini, misalnya pada waktu sebelumnya. Kasus perebutan wilayah Ambalat antara Malaysia dan Indonesia yang diikuti dengan pendaftaran ribuan relawan untuk mengamankan wilayah itu, atau pemaksaan oleh sejumlah orang terhadap aktivis Kontras untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya yang berakhir dengan kekerasan, ketika aktivis itu tidak hafal dan dianggap "anasionalis". Atau reaksi keras terhadap "lepasnya" Timor Timur dari Indonesia hingga penolakan terhadap amandemen UUD 1945.
Ilustrasi itu sekedar gambaran tentang artikulasi sentimen nasionalisme Indonesia yang belakangan ini menguat. Bangkitnya sentimen nasionalisme semacam itu tentu saja mengingatkan kita atas sikap dan praktik Orde Baru yang kerap melontarkan jargon "demi persatuan dan kesatuan". Nasionalisme sering diartikan sebagai sikap dan tingkah individu atau masyarakat yang menunjuk loyalitas dan pengabdian kepada bangsa dan negaranya. Padahal, secara empiris, nasionalime tidak sesederhana definisi itu. Dia tidak seperti bangunan statis, tapi selalu dialektis dan interpretatif.
Nasionalisme bukan pembawaan manusia sejak lahir, ia adalah hasil peradaban manusia dalam menjawab tantangan hidup. Dalam sejarah Indonesia misalnya, nasionalisme telah beberapa kali mengalami penafsiran ulang sesuai perkembangan basis materialnya. Sejarah pergerakkannya terlalu riuh rendah dengan berbagai peristiwa yang melatarinya. Bahkan hari kebangkitan nasional yang setiap tahun kita peringati itu, faktanya justru bermula dari primodialisme Jawa yang didirikan pada 20 Mei1908.
Kita memang harus bisa membedakan antara sejarah dan mitos. Sejarah menyangkut fakta, sedangkan mitos berhubungan dengan pemberian makna suatu fakta dalam upaya memberikan ketenangan atau jawaban kepada masyarakat.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa yang baru merdeka ini harus berjuang mencegah kembalinya penjajah Belanda. Saat itu, pemimpin bangsa berusaha mengobarkan semangat persatuan dengan mengenang kembali berdirinya " Budi Utomo " dengan istilah " Kebangkitan Nasional ". Untuk masa perang kemerdekaan, memang diperlukan penciptaan mitos ini. Meski faktanya Budi Utomo itu hanya menyangkut orang Jawa-- terutama nasionalisme Jawa--dikatakanlah bahwa seolah semangat Budi Utomo itu merupakan semangat nasional. Jelas bahwa Kebangkitan Nasional semacam ini adalah mitos untuk memberi semangat kepada rakyat, sesuai jiwa zeitgeist (jiwa zaman).
Sekarang zaman sudah berubah. Tantangan yang dihadapi bangsa ini juga sudah berbeda. Sudah seharusnya kita perlu pemaknaan kembali tentang peristiwa 20 Mei 1908 itu, setelah kita menyadari perbedaan mitos dan fakta dari penelitian para sejarawan.
Secara umum, kita mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya. Dalam definisi itu, apapun bisa masuk. Kalau argumen negara kesatuan penting untuk mengembangkan bangsa, tetapi kalau ada yang mengatakan negara federal akan lebih baik bagi peningkatan kesejahteraan kita sebagai bangsa, itu juga nasionalisme. Prioritasnya ada pada kegunaan untuk mencapai tujuan, dengan berbagai cara.
Kita perlu kebangkitan nasional baru dengan situasi nasional terkini, bukan dengan menciptakan mitos baru. Upaya revolusioner memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme yang menghancurkan ekonomi negara ini, membangkitkan kembali kecintaan kepada Tanah Air dengan tidak mengobral aset-aset negara kepada pihak asing, menghargai kearifan lokal dengan keleluasaan otonom yang diberikan, adalah kebangkitan nasional baru.
Bagi para pemimpin negara ini, ia harus bersama rakyat dan berjuang untuk rakyat. Ia harus mampu merebut kesempatan dengan membuat keputusan cepat pada saat kritis, meneriakkan perlunya menyinergikan nation and character building untuk kebangkitan nasional baru. Jika tidak, kita memang masih berhenti pada tahap terpesona dengan ritual dan mitos sejarah.
Posted by Cisca at 12:20 PM
Thursday, May 18, 2006
Maaf dan Terima Kasih
Saya tanya sungguh-sungguh kepada Toni, teman saya, orang Bali," Ton, apa benar orang Bali tidak mengenal ucapan maaf dan terimakasih? Mengapa?".
Dia membenarkan dan kemudian menjelaskan. Orang Bali tidak mengucapkan maaf dan terima kasih tetapi melakukannya. Jawabannya membuat saya terdiam, tapi saya katakan dengan lirih bahwa saya tidak pernah tahu tentang hal itu dan saya rasa perlu dipelajari juga oleh orang Barat.
Para pelacong dari luar Bali juga sering menanyakan hal itu sampai pada tahun 50-an, bahkan tembus ke tahun 60 an. Tetapi sekarang tidak lagi. Bukan karena jawaban dan penjelasannya sudah diberikan, tetapi karena orang Bali sudah mulai mengucapkannya dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dalam melayani pelancong. Disamping itu bahasa dalam lontar, pewayangan dan teater tradisipun sudah dioper ke dalam percakapan, sehingga terimakasih dan maaf sudah mulai diucapkan oleh orang Bali. Ini kemajuan atau kemunduran?.
Penonton Indonesia dikenal sebagai sopan tetapi pasif. Mereka menyaksikan apa saja dengan menutup mulut dan tidak banyak komentar. Hal ini membingungkan pelaku konser rock, karena tidak seorangpun ikut berjingkrak dan edan ketika mereka sudah jumpalitan setengah mati di atas panggung. Tetapi itu dulu.
Sekarang penonton dangdut sudah seperti edan ketika musik berbunyi. Mereka bisa lebih hot dari apa yang terjadi di panggung. Tidak jarang terjadi perkelahian dalam konser rock atau penyerbuan ke panggung sehingga panggung roboh dan mengakibatkan jatuh korban. Ini kemajuan atau kemunduran?.
Mungkin yang lebih jelas adalah di dalam percintaan. Secara literal atau harafiah, ucapan mencintai bukan tak ada dalam bahasa daerah maupun dalaam bahasa Indonesia. Tetapi prakteknya hanya mulus dalam sastra teater dan lagu.
Ketika terjadi peristiwa nyata yang memerlukan ekspresi vokal, semua itu menjadi seperti sulit diucapkan. Namun bahasa Inggris menolong. Dan orang tidak segan-segan untuk memilih mengucapkan "I Love You" daripada "Aku cinta padamu". Ini kemajuan atau kemunduran?
Di dalam undangan pernikahan, kini sudah tercantum kalimat baru, " Terima kasih Anda tidak memberikan ucapan selamat dalam bentuk cenderamata. Sedangkan di jalanan, dari ancaman klassik masa lalu yang terbaca: " Awas ada perbaikan", sekarang bunyinya jadi berbeda. "Maaf, perjalanan anda terganggu."
Sepintas lalu, seakan-akan kita kini menjadi lebih vokal dalam sopan santun dan mengekspresikan perasaan. Dan itu pasti tidak sedikit akibat imbas banyaknya membaca buku, nonton film asing, kursus-kursus kepribadian dan arus kunjungan pariwisata mancanegara. Kita ingin menunjukkan diri bahwa kita tahu etiket pergaulan. Kitapun mencoba idiom yang sudah menjadi aturan di dalam pergaulan internasional. Demi keindahan penampilan.
Dengan alasan serupa, pejabat dan pemerintah pun sekarang sudah mulai tak segan-segan untuk meminta maaf, baik kepada masyarakat/rakyat/bawahannya, karena tak dapat memenuhi tugas/kewajibannya sebaagaimana yang diharapkan. Meskipun demikian, diikuti dengan berbagai apologi yang buntutnya justru menyerang, bahwa maaf itu sama sekali tidak perlu, karena sebenarnya kesalahan berada di pihak orang lain atau paling sedikit keadaannyalah yang salah. Ini kemajuan atau kemunduran?.
Apa sebenarnya arti kemajuan dan kemunduran itu sendiri?. Apakah kita sudah boleh dianggap maju karena kita sudah fasih untuk mengutarakan perasaan?. Bagaimana kalau kefasihan itu sebenarnya hanya untuk menutupi atau malah menghapuskan praktek yang bertentangan di dalam perbuatan nyata?. Apakah orang yang bersalah menjadi hilang kesalahannya karena sudah meminta maaf ?. Apakah seorang pejabat dapat menjabat terus jabatannya asal sudah cepat-cepat memohon maaf atas semua keteledoran dan kesalahannya yang memalukan bangsa?.
Kita mendapat banyak pelajaran dari negeri maaf dan terima kasih (Barat). Disana para pejabat yang korup atau terlibat skandal tak hanya minta maaf, tapi kontan mengundurkan diri, semacam "harakiri" atas kesalahannya.
Apakah kita mundur, kalau tidak mampu merumuskan dalam laporan, padahal semua yang menjadi tugas atau rencana berjalan beres?. Bertambah wibawakahkah seorang lelaki karena dia dipuji, atau justru sebaliknya, ia menjadi begitu memancarkan kewibawaan karena hanya diam. Kita pernah mendengar pepatah "diam adalah emas".
Mudah-mudahan semua maaf yang berlaku di negeri ini bukan hanya sekedar upacara tanda basa-basi, tetapi pertemuan hati ke hati. Kita ucapkan dan kita lakukan sekaligus untuk lebih menyemarakkan, bukan menggantikan. Bukan diucapkan untuk dilaksanakan tetapi karena sudah dilaksanakan maka diucapkan. Maju atau mundurnya sangat tergantung darimana kita melihatnya, serta untuk apa kita menilainya.
Posted by Cisca at 12:17 AM
Wednesday, May 10, 2006
Buruh Migran
Cerita tentang buruh migran di luar negeri selalu saja mewartakan kisah perih. Bukan saja karena seringnya kasus yang menimpa mereka mulai dari penganiayaan, pemerasan, kekerasan hingga perlindungan hukum yang tidak jelas, tetapi juga karena sering kali diikuti berkembangnya praktek perdagangan manusia ( trafficking ) dengan berbagai dimensi. Celakanya, banyaknya kasus yang menimpa buruh imigran itu ternyata tidak juga mampu ditangani secara baik oleh pemerintah. Keberadaan mereka sering terlupakan dalam setiap kebijakan.
Satu diantara beberapa hal yang ikut memberi andil dalam pemarginalan buruh migran itu adalah stereotip konseptual yang menganggap bahwa migrasi adalah respons sosial atas kemiskinan daerah asal. Meski tidak sepenuhnya benar, namun mitos kemiskinan tampaknya juga memberi warna pada fenomena migrasi ini. Mitos inilah yang melemahkan posisi buruh migran dalam seluruh aktivitas pasar kerja, baik tingkat lokal, nasional maupun internasional. Buruknya posisi tawar pekerja itu diperparah lagi dengan kebijakan penempatan tenaga kerja internasional tanpa dasar jaminan perlindungan kepada migran pekerja, seperti yang dialami buruh migran di beberapa negara seperti Arab Saudi, Malaysia dan Singapura.
Persoalan buruh migran di luar negeri memang sangat kompleks. Terjadinya mobilitas tenaga kerja internasional yang terus meningkat itu, selain karena sulitnya bekerja di Indonesia, persaingan juga semakin ketat, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kebanyakan TKI adalah kelas menengah ke bawah dan rata-rata berpendidikan rendah. Adalah pilihan rasional ketika mereka menjatuhkan pilihan untuk menjadi buruh migran di luar negeri dengan tingkat upah yang lebih menjanjikan.
Namun dalam realitasnya, seringkali persoalan buruh migran menjadi "tragedi kemanusiaan" atas nama pembangunan. Padahal, dalam konteks pembangunan, keterlibatan kelompok migran ini tidak lagi dapat dipandang sebagai kelompok marginal, tetapi juga kelompok yang punya kontribusi besar sebagai penyumbang devisa negara.
Yang lebih memprihatinkan, aktivitas migrasi ( terutama perempuan) yang berlangsung dari negara-negara berkembang ke negara-negara industri maju, seringkali terjebak ke dalam perangkap trafficking. Berbagai konsekuensipun muncul, mulai dari perbudakan, pelacuran, sampai berperan sebagai prostitusi yang meraup keuntungan ganda dari industri seks. Sementara, peran dan keperdulian pemerintah terhadap mereka sangat minim. Keberadaan pekerja migran hanya dijadikan pelengkap penderita yang dapat diperah dan dieksploitasi.
Ironis. Ketika perolehan devisa negara menunjukkan peningkatan dari pengiriman tenaga kerja, namun terhadap buruh migran ini tidak pernah dianggap sebagai sebuah keterlibatan dalam proses pembangunan. Tidak pernah ada kebijakan publik yang berpihak kepada mereka, tidak ada pertimbangan untuk memberikan penghargaan kepada para buruh migran, baik di negara tujuan maupun di negara asal. Realitas mereka secara ekonomi-politik benar-benar terlupakan.
Bisakah pemerintah mempertimbangkan terciptanya peluang kerja berdasarkan kekuatan dan potensi lokal?. Jika tidak, mengapa tidak ada perangkat aturan sebagai dasar hukum yang melakukan kontrol serta melindungi seluruh aktivitas migrasi?. Sudah terbentukkah reorientasi program pembangunan melalui perencanaan matang dengan memprioritaskan terciptanya peluang usaha?.
Kalaupun realitas berkata bahwa posisi buruh migran belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan-kebijakan pembangunan, namun hal itu bukanlah sebuah justifikasi untuk terus melakukan dan menumbuhkembangkan segala bentuk eksploitasi dan kekerasan struktural terhadap mereka. Hentikan berbagai tragedi kemanusiaan atas nama pembangunan!.
Posted by Cisca at 4:05 PM
Thursday, May 4, 2006
Memahami Gejolak

" Lain lubuk , lain pula ikannya ". Pepatah itu ternyata tidak berlaku untuk persoalan yang mendera para pekerja di bumi pertiwi ini. Tengok saja, meski berada di daerah yang berbeda, fenomena upah minimum kota/kabupaten ( UMK ) terus bergulir menjadi persoalan yang sama bagi para pekerja. Mayoritas mereka menilai UMK tidak berbanding lurus dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Secara fundamental, upah memiliki porsi yang strategis dalam konteks hubungan industrial, terutama dalam sistem yang tidak memiliki sistem perlindungan sosial yang progressif seperti Indonesia. Artinya, buruh harus menyediakan sendiri jaminan kesehatan dan tunjangan hidupnya.
Berbeda dengan negara maju, penghasilan buruh walaupun kecil tetap mendapat dukungan dari negara, seperti pendidikan, health care dan anak. Karena sifatnya yang krusial dan menjadi satu-satunya sumber penghasilan buruh, upah menjadi isu yang sangat mendorong ketidakharmonisan di tempat kerja dan seringkali berakhir dengan pemogokan industrial. Apalagi dalam sistem yang cenderung tertutup dimana proses negosiasi di tingkat perusahaan belum sepenuhnya bisa diandalkan.
Depnakertrans mencatat bahwa upah menduduki peringkat pertama dalam daftar penyebab kemogokan. Meski seluruh proses diklaim mencerminkan apa yang disebut kebebasan berserikat dan berunding bersama (terutama karena buruh memiliki kesempatan untuk mengartikulasikan kepentingannya), namun secara teoritis proses itu sebenarnya jauh dari esensi hak itu sendiri.
Ini menunjukkan buruh memiliki keterbatasan dalam melaksanakan hak berserikat dan berunding bersama, walaupun banyak dan kuatnya instrumen hukum melindungi hak tersebut.
Padahal secara hukum, baik buruh maupun pengusaha memiliki hak yang sama untuk berunding bersama. Ini sejalan dengan pikiran dalam Konvensi Inti ILO
Sayangnya, banyak contoh kasus justru mementahkan preposisi itu. Dalam bernegosiasi sering kali buruh menghadapi dilema yang tidak memungkinkan mereka menegosiasikan kepentingan mereka secara maksimal. Ini dapat dilihat dari pengalaman di lapangan. Salahsatunya diceritakan bahwa buruh, sebelum dan masa perundingan, diminta untuk "memahami" posisi perusahaan yang sedang "sulit" karena buruknya situasi pasar. Merasa "tertekan" dengan masukan-masukan dari pihak manajemen, para buruh memutuskan untuk mengambil "jalan aman". Tujuannya agar mereka tetap bekerja, terlepas dari betapa sulitnya mereka harus memenuhi kebutuhan mereka setelah itu.
Sepanjang catatan yang ada, UMK/UMP yang ditetapkan biasanya hanya mencakup 87% - 93% kebutuhan hidup layak ( KHL) bagi buruh lajang. (Ini belum ditambah fakta bahwa patokan nilai KHL yang dipakai seringkali lebih rendah daripada yang dibayarkan oleh buruh). Persoalan akan bertambah jika seorang buruh harus menghidupi anggota keluarganya yang lain.
Buruh tidak bisa lagi diharapkan sebagai mesin pembangunan sosial dan politik negara. Fungsi serikat hanya sebatas "boneka bayangan" sebagai stempel tunduknya negara kepada persyaratan-persyaratan yang tersirat dalam Konvensi ILO. Karenanya serikat buruh tidak bisa lagi diharapkan menjadi alat perjuangan buruh. Dampaknya jelas, keanggotaan serikat buruh semakin menurun, yang pada akhirnya akan menghancurkan legitimasi serikat buruh dalam tataran yang lebih luas.
Ini berakibat kepada penggerogotan hak berserikat dan berunding bersama serta kekosongan hak-hak terebut. Ini menyebabkan kesulitan untuk melaksanakan dialog sosial dan tatanan pemerintahan yang baik pada tataran industrial. Matilah potensi buruh sebagai salahsatu kekuatan masyarakat sipil yang berdaya. Buruh justru akan menjadi kelompok "anak mama" yang sebenarnya menyuburkan potensi perlawanan dan berakibat kepada pergolakan sosial yang harganya justru lebih mahal.
Hak untuk berserikat dan berunding bersama jelas menuntut kedua belah pihak untuk bernegosiasi dengan niat baik dan saling percaya satu sama lain. Kepentingannya adalah mendorong proses produksi yang berkesinambungan. Bisa dipahami jika perusahaan juga menghadapi persoalan kompetisi pasar, tetapi alur pikir kita juga harus diubah menjadi "buruh yang sehat dan bahagia" yang menghasilan produktivitas yang tinggi.
Bukan buruh yang harus memahami situasi pengusaha yang kesulitan menghadapi kenaikan biaya dampak kenaikan BBM. Pemerintah, pada titik pertama harus mulai menghilangkan kebiasaan buruk yang berdampak pada tingginya biaya-biaya siluman ( diduga 20% dari total biaya produksi) yang harus dibayar oleh pengusaha.
Karenanya, UMK/UMP merupakan isu bersama yang harus menjadi perhatian setiap unsur di negara ini. Sama halnya seperti kita berbicara tentang bagaimana mengefisienkan anggaran pemerintah ataupun meningkatkan alokasi anggaran untuk kesehatan dan pendidikan. Begitu pula seharusnya kita memikirkan bagaimana memberikan kompensasi yang lebih tepat dan manusiawi kepada buruh. Perlu good governance yang dapat menyinergikan seluruh potensi dan sumber daya yang ada untuk penciptaan kondisi kerja yang layak.
Ini akan memungkinkan buruh untuk mempraktekkan hak berserikat dan berunding mereka sejalan dengan tujuan nasional bangsa. Dalam jangka panjang, para buruh tersebut akan menjadi kekuatan utama bagi demokrasi dan produktivitas negara. Pesimisme dan sinisme terhadap sistem yang dinilai kurang adil hanya akan mengakibatkan buruh memilih instrumen perjuangan sendiri seperti yang ditunjukkan oleh aksi-aksi yang ada. Ini membahayakan banyak pihak termasik buruh itu sendiri, juga negara.
Untuk mengantisipasinya, pendekatan yang lebih terbuka dan kompromistis harus dikedepankan. Kalau tidak, wallahualam. Bukan tidak mungkin, demo buruh yang kemarin diwarnai kerusuhan, pada hari rabu 3 mei 2006 itu, hanyalah "awal" dari pemberontakan yang lebih besar lagi. Inikah yang kita inginkan?.
Posted by Cisca at 11:05 PM
Tuesday, May 2, 2006
Menasionalkan Pendidikan Nasional

Permasalahan pendidikan nasional sesungguhnya sangat mendasar dan lebih menyangkut persoalan filosofis. Tapi perbincangan yang ada selama ini hanya mengacu pada problem teknis. Padahal, cara-cara teknis praktis itu tidak menjawab permasalahan, tetapi hanya menyembunyikan permasalahan dasarnya.
Cara pandang pendidikan dari segi teknis itu hanya mempersoalkan masalah mikropendidikan. Sebaliknya, persoalan makro, seperti filosofi pendidikan nasional justru tidak pernah disentuh, dianggap telah selesai.
Besarnya persoalan filosofis pendidikan bisa dilihat dari hilangnya identitas pendidikan nasional. Atas nama globalisasi dan persaingan ( tenaga kerja ) global, identitas pendidikan nasional dikaburkan oleh pawang pendidikan nasional dengan cara mengganti identitas nasional menjadi identitas internasional. Ini tampak dari fenomena seperti penyeragaman bahasa ke bahasa Inggris dan teknik komputer pada semua sekolah, tampak pada berdirinya sekolah-sekolah berstandar internasional dan kelas imersi ( kelas yang pengantarnya bahasa Inggris ), serta dari standarisasi pengelolaan pendidikan nasional.
Sekilas membanggakan, seakan kita sudah mencapai mutu internasional. Namun, bila diresapi lebih dalam lagi, internasionalisasi sistem pendidikan itu akan mengantarkan bangsa Indonesia ke lubang kematian. Bila sebagai bangsa tidak punya identitas lagi, sementara kemampuan teknologinya juga masih di bawah rata-rata, apa yang bisa dibanggakan sebagai bangsa ?. Kepentingan identitas nasional ini bukan hanya keperluan kaum chauvinistic, tapi juga mereka yang berpikir rasional. Penghilangan identitas nasional melalui pendidikan formal itu memiliki implikasi sangat luas terhadap kehidupan berbangsa, baik secara ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun budaya.
Secara ideologis, anak-anak muda tidak lagi mengenal ideologi negara karena mereka tidak diperkenalkan pada ideologi negara secara benar dan intens. Sejak dini mereka berkenalan dengan ideologi global yang bernama pasar bebas. Tanpa disadari, pendidikan kita akan melahirkan orang-orang yang sejak dini sudah berideologi neo-liberal. Padahal masyarakat Indonesia sangat beragam, sehingga tidak semua warga masyarakat akan terbebaskan melalui pasar bebas. Banyak warga yang memerlukan subsidi dari negara dan pertolongan dari sesama.
Karena ideologi yang dicekokkan sejak dini adalah ideologi kaum neo-liberal, maka sudah pasti sistem politik yang akan berkembang adalah politik kaum dagang. Mereka yang memiliki modal akan memegang kendali dalam proses pengambilan keputusan.
Secara ekonomi, model pendidikan yang menghapuskan identitas nasional itu akan mendorong tumbuhnya ekonomi global yang tidak berpijak pada kondisi geografis dan demografis bangsa. Secara geografis, Indonesia ini negara agraris, tetapi karena sejak SD diperkenalkan dengan teknologi komputer dan bahasa Inggris, maka orientasi kerja mereka tidak lagi pada sektor agraris dan kelautan, tetapi cenderung berorientasi pada teknologi informatika. Besarnya jumlah penduduk usia muda yang mencari pekerjaan di sektor industri informatika dan lemahnya kemampuan sumber daya manusia kita dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, akan menyebabkan penumpukan pengangguran di satu pihak dan kekurangan tenaga kerja di lain pihak, khususnya pada sektor agraris dan perairan.
Secara sosial, relasi antar individu yang dibangun oleh anak muda produk pendidikan formal, tidak lagi didasarkan pada solidaritas yang tinggi, tetapi kompetisi yang tinggi. Pendidikan formal sejak dinilah yang memperkenalkan tatanan sosial baru berupa kompetisi. Menurut para penganjurnya, kompetisi dalam mencari lapangan kerja akan sangat ketat sehingga hanya mereka yang memiliki kompetisi tinggi dan mampu berkompetisi sajalah yang akan menjadi pemenangnya. Bius semacam ini meresap pada diri murid, sehingga membentuk perilaku yang kurang solider terhadap sesamanya. Yang muncul justru perilaku yang kompetitif.
Secara budaya, internasionalisasi sistem pendidikan juga menghilangkan sistem nilai yang harus menjadi pedoman masyarakat untuk bertindak. Nilai-nilai tertentu yang semula menjadi acuan masyarakat untuk bertindak dianggap tidak relevan lagi dengan tatanan ideologi, politik, ekonomi dan sosial masyarakat yang telah berubah seiring dengan perubahan sistem pendidikan.
Sebagai bahan refleksi kita atas nasib pendidikan nasional itu, patut kita ingat kembali Ki Hadjar Dewantoro ( 1937 ), bahwa pendidikan adalah tuntutan di dalam tumbuh kembangnya anak-anak. Pendidikan menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Namun realitas praksis pendidikan nasional itu tidak mengembangkan kodrat anak, tapi justru mencerabut kodrat anak untuk memenuhi ambisi birokrasi pendidikan dan menyerahkan masa depan mereka pada identitas tunggal yang bernama pasar bebas. Ini sungguh menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi adalah ketika UU no.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sendiri mendorong internasionalisasi sistem pendidikan yang menghilangkan identitas nasional itu dengan menganjurkan agar setiap daerah memiliki satu sekolah bertaraf internasional.
Ini kekeliruan, karena tanpa disadari akan membuat bangsa Indonesia menjadi tidak beridentitas secara sistematik. Jika kita tidak beridentitas, otomatis kita akan dilecehkan oleh negara-negara lain dalam banyak hal, termasuk ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Posted by Cisca at 9:05 PM
Monday, May 1, 2006
Minggu 1 Pahing

Dalam usia beberapa tahun pohon cemara di muka rumah rebah, tak ada pilihan lain kecuali engkau berniat memahami matahari yang tak jatuh ke sumur, hingga lumut kian subur. Kau tak boleh menanam pohon lain di halaman yang sama, karena kau bukan penjaga kebun yang dapat membagi rata airnya.
Dan aku ingin sekali kau melahirkan patung-patung rusa di pekarangan, sebuah bar kecil, dan seorang anak perempuan berambut ikal yang menyetel televisi sendiri. Maaf, jangan kau pindahkan rumpun pandan dari halaman belakang, karena aku suka wanginya menyebar sampai ke kamar mandi.
Seharusnya kau juga tak gagal mengandung sungai, agar saat aku hanyut dalam peta aku dapat berpegangan pada rambutmu. Menjambaknya!. Sampai disitu aku berharap kau melupakan perahu-perahu yang tak ada jangkarnya, lalu mengingat-ingat kembali obat apa yang pertama kali kau beli saat demam bertahun-tahun. Bagaimana kau menafsirkan daun cemara yang jatuh ke dalam buku harianmu?. Ada anak burung gereja yang mematut-matut tangkainya, di senja hari sambil kau mengingat jalan-jalan ramai yang pernah kau lewati: pasar malam masih tutup, komedi putar, gula-gula dan wahyu yang kau dapati dari beberapa pengeras suara: " Mari membangun fondasi yang pasirnya kita tambang dari pantai sendiri. " Waktu itu kau masih berharap rumah yang dicat kuning dan sebuah kamar dengan gambar penyair Anwar.
Ayolah, tinggalkan rumahmu. Aku harus segera menukar uang asing agar dapat membelanjakan sayuran, membeli bibit cemara, beberapa pot kecil dan sebuah telepon yang dapat membuatmu bicara dengan hati. Apa yang kau tunggu?. Pada sebuah tangga penyeberangan, betapa kau bisa membaca sejarah tentang suara bayi yang hanya singgah.
Aku melihat kesetiaan menjadi sepasang mata yang harus tumpah airnya. Dan dari segala makna yang kuterka, betapa tragedi dengan anggun mampu menisik gorden jendela. Ayolah, tinggalkan rumahmu!.
Mendatangimu yang terbaring, aku nyaris lupa menghitung berapa kali aku gagal membuatmu tersenyum, berapa kali aku lolos dari jebakan macet. Kota ini terlalu kecil untuk 20 juta kendaraan bermotor, pemukiman yang terlalu padat, para urban yang bebas mendirikan bedeng di tanah yang semestinya jadi apotek hidup. Langit sering muram disini. Debu sudah jadi pelengkap bagi menu sarapan pagi. Aku seakan telah jadi bagian kebisingan di sekelilingmu. Kegaduhan para pendemo, jalan raya yang mengecil karena digerogoti pedagang kaki lima, juga persimpangan yang salah arus. Ah, betapa banyak orang sakit di kota ini. Jembatan dan pertokoan dihiasi bendera partai, suara azan yang kalah getar oleh knalpot motor. Bagaimana mungkin seorang pengamen bisa lebih galak dari seorang polisi?.
Melihatmu yang terbaring, kurasakan tatapanmu penuh bicara, sedangkan gerimis seperti menyileti hari-harimu yang memelas. Kota ini telah memberiku catatan demi catatan tentang seseorang yang merasa sangat berharga bila telah memberi, tapi siapakah gerangan yang terhempas bila yang kuat harus menang, dan bukannya siapa yang benar harus keluar dari jeratan?. Kini aku ikut terbaring di atas jerami.
Lalu, sakit itu akan kau letakkan dimana kalau tubuh sudah tak memberi tempat untuk tersenyum?. Terlalu sering kita menaiki anak tangga, tapi tak pernah kita kencangkan tali rekatannya. Padahal dari situ gelombang muncul bersama botol-botol dan menu yang basi, kita terus saja mengayak pasir pada jaring ikan hiu. Kalau bisa terbang, kau tak mungkin akan memilih jadi seekor burung. Sebab tanganmu bukan kepak kakimu, bukan langkah hidungmu, bukan cium matamu, bukan tatap. Hatimu endapan limbah yang mendidih di belakang pabrik.
Sekarang aku kembali pada buku yang berhalaman banyak. Kucari diriku disitu, dimana aku tinggal, sampai dimana aku tertinggal. Aku mulai dari awal menatap, menjejak dan bergerak. Lalu setelah itu biarkan waktu yang bicara.
Aku telah kalah dalam perkelahian massal dengan perasaan sendiri. Terbentur ribuan kali selama belasan tahun. Bicaralah Pram, tentang rumah yang diramaikan tawa anak-anak dan suara-suara daun di tengah malam. Betapa aku haus seribu sumur dan ladang yang menanam cahaya matamu. Tak ada kekayaanku selain puisi, tak ada mawar bisa kucium selain di tamanmu. Bicaralah Pram, sebelum awan jadi bendungan mendung dan lahar menguap ke udara. Kekalahanku begitu menyesakkan, sebab semua telinga tersumbat harum ruang tamu. Sedang suara-suara mereka seperti bendera tanpa negara.
Tak ada yang dapat kubanggakan selain ketulusanmu, yang dapat mematahkan seratus pilar kabut di sepanjang perjalananku. Kekalahanku ini telah memberiku luka, tapi aku bertahan karenamu. Bicaralah Pram, sebelum aku kehabisan darah dan semangat untuk membangun jalan menuju alamatmu. Aprilmu lebih hampa dari payung yang diterbangkan angin. Lebih sedih dari sebuah puisi sedih. Tidak adakah sedikit tempat di dunia ini untuk merahasiakan dukacita ini?. Aku punya pinsil biru untuk hari rabu, juga yang kelabu untuk hari Sabtu. Tapi tak ada kalimat yang kuasa merayakan jiwaku yang pucat. Sakit bukan lagi sakit dan tangan bukan lagi tangan. Aku menulis seharian, melukis semalaman. Kemanakah lenyap terbawa pensil putih hari-hari sedihku?. Kenapakah harus kurahasiakan lilin doa yang sia-sia menyala?. Entah tiba pada siapa Aprilmu. Entah menghampiri siapa Aprilku, karena payung yang kemarin petang tak bisa lagi bersilang jalan dengan puisi sedih yang sekarang...
Untuk : Pramoedya Ananta Toer
minggu pagi tigapuluh april
tahun duaribu enam masehi
Posted by Cisca at 8:05 PM
Friday, April 21, 2006
Haruskah ?

Ketika seorang anak bertanya," Mengapa ibu menikah dengan laki-laki yang menjadi ayahku, Bu?", sebuah gugatan terhadap laki-laki sedang terjadi. Sang anak merupakan saksi dari serangkaian kekerasan yang dialami oleh ibunya. Mungkin si anakpun tidak mengerti, mengapa ibunya begitu tegar mempertahankan perkawinan itu. " Demi anak-anak ", kata sang ibu setiap kali ia mendapat pertanyaan yang sama.
Laki-laki yang menjadi suami dan ayah dari anak-anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan telah menjadi awal dari jalan panjang kehidupan seorang perempuan. Dalam perkawinan itu, perempuan mengalami kebaikan juga kemalangan. Perkosaan hak reproduksi, penindasan, trafficking, bahkan pembunuhan karakter dan cita-cita terjadi secara kasat mata dan terselubung.
Anak yang bertanya dan menggugat keabsahan institusi itupun menjadi korban berikutnya, karena nilai-nilai dan norma yang dibangun di dalamnya mengondisikan suatu kepasrahan dan kepantasan seorang perempuan. Sebagai perempuan seseorang disadarkan dan bahkan dipaksakan tentang betapa bedanya ia dibandingkan dengan lelaki, baik dalam hak maupun kewajiban. Peningkatan status seorang perempuan seperti status keluarga, tidak berarti inisiasi atas martabat perempuan terjadi dengan sendirinya.
Kartini pun memulai hidup baru yang tidak pernah diidealkannya setelah ia menikah dengan sang bupati, yang menyebabkannya melupakan impian-impian seorang idealis. Sangkar emas rumah tangga ini kemudian menempatkan Kartini kembali menjadi perempuan kebanyakan, tidak seperti yang ia tulis dalam surat-suratnya.
Kalau perkawinan kemudian menjadi suatu akhir dari seluruh mimpi dan awal dari malapetaka, mengapa seorang perempuan harus kawin?. Bukankah ia juga perlu diberi hak untuk hidup membujang dan memilih mewujudkan cita-citanya sekaligus membantu mewujudkan cita-cita kaumnya?. Perempuan sebaiknya dilarang kawin, dan itu bukan tanpa alasan. Paling tidak ada alasan yang bisa disebut.
Perkawinan dapat menjadi penjara bagi kaum perempuan yang menjauhkannya dari dunia publik. Perkawinan itu menjadi suatu lembaga yang mengesahkan penindasan kecerdasan dan pembunuhkan kreativitas perempuan. Rutinitas dalam keluarga telah mendikte dan membatasi bukan hanya partisipasi perempuan dalam kegiatan publik, tetapi juga ide-ide kreatifnya. Dari perempuan lebih sering kita mendengar alasan anak sakit, menemani anak ujian atau pembantu pulang kampung, ketimbang laki-laki. Laki-laki tidak merasa harus bertanggungjawab untuk kegiatan yang bersifat domestik. Kecenderungan ini meninggalkan ruang yang begitu sempit untuk perempuan berkiprah dalam matra kegiatan yang lebih produktif dan yang menyaratkan konsentrasi dalam olah pikir. Ruang artikulasi dan aktualisasi diri perempuan atas kapasitas yang dimilikinya sangat terbatas.
Kalaulah perkawinan itu menjadi penjara yang mematikan kreativitas proses berpikir yang sangat potensial yang dapat dilakukan oleh kaum perempuan, mengapa ia harus mengorbankan dirinya untuk masuk ke dalam penjara itu ?. Rumah tangga harusnya menjadi tempat perempuan menemukan identitasnya, sementara suami tidak dapat menjadi mitra yang memfasilitasi rencana-rencana yang dimiliki perempuan.
Rumahtangga adalah ranah domestik yang menjauhkan kaum perempuan dari hak-hak yang secara hukum berlaku dalam publik. Perkawinan telah menyebabkan proses domestikasi perempuan yang mengembalikan perempuan ke ruang domestik. Banyak sekali perempuan yang telah menjalani hidupnya di ruang publik yang bekerja secara professional, kemudian memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka dengan alasan " ikut suami ", atau berhenti bekerja setelah memiliki anak pertama. Adanya mas kawin dalam perkawinan menjadi satu persoalan, karena dalam wilayah kebudayaan tertentu mas kawin memiliki nilai tukar atau pengganti yang disampaikan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Pertukaran semacam ini berimplikasi pada perpindahan hak atas perempuan ke keluarga suami dimana perempuan tersebut secara kultural tunduk kepada laki-laki atau bahkan pada keluarga laki-laki.
Proses domestikasi ini mendapat pengesahan secara sosial dan legal. Payung hukum tidak efektif dalam dunia domestik, sehingga kaum perempuan atas nama istri atau ibu rumah tangga tidak mendapatkan proteksi yang cukup dalam lingkungan domestik ini. Berbeda dengan ruang publik dimana hukum berlaku secara lebih efektif. Kekerasan yang dialami perempuan dalam rumah tangga misalnya, diperlakukan sebagai persoalan internal, kurang relevan secara sosial, sehingga praktek dan kepatuhan hukum tidak masuk sampai ke ruang domestik tersebut.
Perkawinan menjadi tempat yang melucuti seluruh kedirian perempuan. Perkawinan menyebabkan perempuan kehilangan dirinya karena ia harus menjadi bagian dari entitas yang lebih luas. Dalam proses ini potensi perempuan selain tersembunyi, juga kediriannya dikorbankan menjadi bagian dari suatu tatanan yang tidak ikut dia bangun. Pengorbanan semacam ini sering kali membuat kaum perempuan kesepian, kehilangan kawan dan dunia perempuan, karena ia harus hidup dalam dunia yang dikonstruksikan oleh para lelaki atau institusi-institusi yang berpihak pada lelaki.
Institusi perkawinan tidak semestinya menjadikan perempuan terkungkung dan kehilangan jati diri sebagai individu. Institusi itu dapat saja menjadi dukungan bagi pengembangan minat dan bakat yang memungkinkan aktualisasi diri dalam dunia publik. Banyak sekali perempuan yang beruntung dalam perkawinannya, namun lebih banyak lagi yang tidak mendapatkan dukungan dan justru setelah perkawinan terjadi, diri perempuan tenggelam dalam rutinitas dan kebosanan tiada ujung.
Alasan-alasan itu agaknya menegaskan perlunya pertimbangan seksama tentang persyaratan yang harus dipenuhi oleh perempuan, laki-laki dan lembaga-lembaga yang terkait, sebelum sebuah perkawinan dapat dilangsungkan. Apa cukup perkawinan itu atas kesepakatan dua orang ( laki-laki dan perempuan ) saja ?. Apakah pasal-pasal dalam buku nikah cukup menjadi pegangan hukum bagi jaminan hak-hak perempuan ?.
Bagaimana kita dapat melindungi perempuan dari kemungkinan perkosaan dalam rumah tangga atau pengingkaran terhadap kebutuhan strategisnya?. Jika kemaslahatan tidak dapat dicapai dan dijamin dengan adanya perkawinan, mengapa peristiwa itu disahkan?. Jika perkawinan itu menghilangkan identitas diri kaum perempuan, sebaiknya suatu perkawinan perlu digagalkan.
Sayangnya, dulu kita tidak sempat melarang sang bupati menikahi Kartini. Kalaulah Kartini tidak menikah, mungkin anak-anak tidak perlu lagi bertanya pada ibunya, " Mengapa ibu menikah dengan laki-laki yang menjadi ayahku, Bu?".
Posted by Cisca at 11:21 PM
Sunday, April 16, 2006
Granada - Gaza
Bangsa Israel, kaum Yahudi, tidak luput dari kisah pengusiran. Fenomena terakhir terlihat di depan mata, sebagian warga Israel harus keluar dari kandang perkampungan Gaza. Mereka diusir dan dikucilkan. Padahal bagi bangsa Yahudi, pengusiran dan pengucilan adalah sebuah dislokasi spiritual juga fisikal. Peristiwa pengusiran dari perkampungan Gaza membuka kenangan lama, peristiwa pengusiran bangsa Yahudi dari daerah Granada, Spanyol.
Waktu itu, tepatnya 2 Januari 1492, pasukan raja Ferdinand dan Ratu Isabella, dua penguasa Katolik, yang pernikahannya mampu menyatukan dua kerajaan Iberia kuno, Aragon dengan Castile, berhasil meluluhlantakkan negara kota Granada, satu wilayah pertahanan terakhir kaum muslim di daerah Kristen. Inilah awal pembersihan penduduk muslim dan Yahudi dari daratan Eropa.

Tiga bulan kemudian, 31 Maret 1492, Ferdinand dan Isabella menandatangani Perintah Pengusiran ( Edict of Expulsion), yang dibuat untuk membersihkan Spanyol dari bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi waktu itu diberi dua alternatif: memilih dibaptis masuk Kristen atau dideportasi.
Ada 80 ribu warga Yahudi migrasi ke Portugal, 50 ribu lainnya mengungsi ke kerajaan baru Islam, Utsmaniyyah. Di daerah kekuasaan Islam, kaum Yahudi seperti halnya warga Kristen, diberi status dzimmi (minoritas yang dilindungi). Status ini bentuk perlindungan militer dan sipil bagi mereka yang menghormati hukum dan supremasi negara Islam.
Dan sebagian yang lain, memilih masuk Kristen dan menetap di Spanyol, karena mereka sudah terlanjur jatuh hati dengan "al-Andalus" ( nama lain kerajaan Islam di Spanyol).
Orang-orang Yahudi yang menyeberang ke agama Kristen seringkali disebut "converse" ( umat yang berpindah agama), tapi komunitas Kristen lebih sering menjuluki mereka "marrano" (babi). Sebagian warga bekas Yahudi, karena ketidaktahuan mereka, dengan bangga memilih sebutan terakhir, "marrano", babi.
Sepenggal kisah di atas, ingin mempertegas ritual kehidupan bangsa Israel yang tidak lepas dari pengusiran dan pengucilan. Pengusiran dan pengucilan dari perkampungan Gaza, juga merupakan dari ritual dari kehidupan bangsa Yahudi. Hanya saja, kini mereka harus keluar dari wilayah yang dihuni sebagian besar penduduk muslim, yang bertahun-tahun mereka singgahi tanpa mau mengakui identitas mereka yang sebenarnya.
Satu ciri khas bangsa Yahudi, bangsa urban, warga Israel ini, memang unik. Mereka merasa berkuasa di berbagai wilayah, bebas dari jebakan-jebakan kekuasaan dan seringkali mengendalikan takdir mereka dengan logika dan penalaran sendiri.
Orang-orang Yahudi, dalam lintas sejarah dan bacaan-bacaan sejarah, merasa hidup dalam isolasi agama dan selalu meyandarkan diri pada takaran rasional. Mereka mengabaikan kitab suci, dan hampir pasti tidak memiliki rentetan pengalaman ritual "hukum suci" dari Taurat. Anehnya, cerita-cerita kaum Yahudi ini, kemudian dijadikan mitos.
Seperti halnya mitos soal warga Israel yang melarikan diri dari Mesir dan melewati Laut Merah. Cerita ini kemudian dijadikan mitos yang dikaitkan dengan cerita-cerita lain mengenai ritual inisiasi, pengarungan samudera, dan terbelahnya laut menjadi dua oleh para dewa untuk membuka dunia baru bagi bangsa Yahudi.
Pendeportasian warga Yahudi dari Gaza, pada titik yang lain, adalah satu ritus panjang kehidupan kaum Yahudi. Mereka tidak memiliki tempat singgah dan menyebar ke berbagai daratan di seantero dunia.
Hal lain, di luar kesepakatan damai Israel - Palestina, pengusiran warga Israel sebenarnya untuk menutupi wajah bopeng Amerika yang selama ini jadi benteng terakhir Israel. Amerika, tentu saja, malu kepada dunia karena tidak mampu menaklukkan "anak asuh"nya sendiri. Jalur kehidupan sebuah bangsa memang tidak selalu ditentukan oleh diri sendiri, tapi ia juga bisa ditentukan oleh bangsa lain.
Itulah sepenggal potret kehidupan warga Israel, juga Palestina, dimana identitas kehidupannya tercerabut oleh kepentingan-kepentingan negara-negara besar yang selalu merayakan demokrasi sekaligus mematikan demokrasi itu sendiri.
Posted by Cisca at 11:16 PM
Thursday, April 13, 2006
C i l a - C i l i

"Banyak orang yang cerdas!. Banyak orang yang pandai!. Tapi kecerdasan dan kepandaian itu hanya diperuntukkan untuk tujuan yang keji-keji belaka. Itu banyak terjadi dan kau tak boleh memasukkan dirimu ke dalam golongan orang yang seperti itu." ( Pramoedya Ananta Toer )
Pendidikan adalah segala-galanya bila ingin maju. Maju harkat pribadinya, maju nasionnya, maju peradabannya. Itulah salah satu dari banyak hal yang diangankan Pram.
Lewat novel Burunya, Pram mengatakan bahwa kemajuan bisa dicapai jika unsur mitos yang mencandra akal dan feodalisme yang membungkam rasio, bisa tertusuk tumpas dengan pendidikan. Sebab kedua paham itu menghalangi seorang manusia untuk merebut martabatnya sebagai manusia yang maju dan merdeka karena dipaksa oleh sebuah hierarki yang dibentuk oleh sistem feodalisme raja-raja.
Sebuah adegan ketegangan pendidikan dan feodalisme diperlihatkan Pram dalam salah satu paragraph di Bumi Manusia : " aku mengangkat sembah sebagaimana aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku. Dalam mengangkat sembah, serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri sampai sedatar tanah kalau mungkin…uh! Anakcucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini."
Karena tak rela menjalani kehinaan, maka Pram mengangankan bahwa semua pribumi kelak bisa mengecap pendidikan yang tinggi. Walaupun kita tahu Pram tak sanggup menjejaki angan-angan itu. Ia hanya lulusan SMP kelas 2 di Surabaya sebab sekolah keburu bubar karena serangan balatentara Jepang. Lalu di Jakarta pada usia 17-20 tahun, sembari bekerja di kantor berita Jepang, Domei, Pram mencoba mendaftar ikut kuliah filsafat dan sosiologi di sekolah tinggi Islam yang diasuh Dr.Rasjidi dengan bayaran 25 rupiah dari hasil menjual kemeja kaos putih dan biru muda yang baru duakali dikenakannya.
Tapi hasilnya nihil. Dan ia pun mengembara mencari pengetahuan dari buku-buku, dari klipingan koran dengan cara otodidak. Lalu himpunan dan data-data itu menjelma menjadi karya-karya besar lagi terpuji dan mengukuhkan namanya menjadi sastrawan dunia.
"Walaupun seorang yang enggak tamat SMP, saya ini doktor lulusan Amerika." ujar Pram bangga sembari tertawa.
Menurutnya tidak mesti orang belajar dengan membaca buku. Belajar bisa dengan mengamati, menghafal, memperhatikan, mendengarkan. Banyak belajar ilmu pengetahuanpun tidak menjamin orang menjadi kreatif. Bagi Pram, orang yang cedas dan kreatif adalah yang pandai menarik kesimpulan dari ilmu dan pengetahuannya dan pengalamannya.
Dalam beberapa kesempatan, Pram sungguh prihatin dengan tergusurnya pendidikan yang mengajarkan watak yang mandiri, kuat dan cerdas, menjadi pendidikan yang terkomersialisasikan.
Alih-alih ingin menggapai kualitas pendidikan yang baik dengan harga terjangkau. Para pelaku di dunia pendidikan kita lebih sibuk dan berpeluh menaikkan ongkos daripada menaikkan kualitas pendidikan. Hasilnya, watak yang dihasilkan dalam dinding-dinding kelas sekolah tak lebih dari watak manusia-manusia lama yang masih berada di alam agraris dan feodal.Watak ingin menjadi pegawai negeri, birokrat.
Ada banyak alasan mengapa profesi ini menjadi cita-cita, walau gajinya relatif kecil. Salah satunya adalah status pegawai negeri menjanjikan jaminan kepastian hidup dan masa depan.
Pendidikan kita, diakui atau tidak, selama ini memang tidak serius mencetak manusia-manusia yang berjiwa berdikari dan mampu merintis sebuah kerja mandiri dan tak harus menjadi budak bagi orang lain atau menjadi manusia kuli. Pendidikan kita seakan menjangkar dan memperluas kesadaran serta meluapkan keinginan bahwa bila lulus kelak akan menjadi pegawai negeri. Paling tidak menjadi pelamar pekerjaan dengan menenteng ijazah kesana-kemari dan mengantri panjang untuk mengambil formulir kartu kuning di depnaker ketika bursa kerja dibuka secara massal.
Para praktisi pendidikan barangkali menolak asumsi bahwa pendidikan menjadi terdakwa dalam hal ini. Namun kenyataan berbicara jujur bahwa sistem pendidikan kita tidak merangsang manusia untuk berkarya dan mandiri, melainkan mencetaknya sebagai manusia benalu dalam masyarakat. Buktinya, setiap tahun meruyak sebarisan panjang angka pengangguran sarjana.
Penting untuk menilai pengalaman secara seksama dengan ketajaman mata selidik. Sebab setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain, akan tinggak sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman adalah fondasi kehidupan.
Oleh sebab itu, tegas Pram, belajarlah menilai pengalaman sendiri dan membentur-benturkannya dengan lingkungan tempat dimana pengalaman itu tumbuh. " Beras menjadi putih bukan hanya karena tertumbuk alu, tetapi karena pergeseran dengan sesama beras karena tumbukan alu." kata Pram mengutip ucapan salah satu srikandi pergerakan nasional awal abad 20, Siti Soendari.
Bila penuntasan kasus korupsi dan penyelewengan sulit diberantas, maka ini bukan keanehan. Rendahnya usaha itu bukan hanya terkait dengan begitu rumitnya jaringan korupsi, aparat hukum dan negara yang mungkin tak becus, tapi juga terkait dengan masalah kesadaran. Kesadaran itu adalah kesadaran hidup menjadi ambtenaar di republik yang sudah sesak dengan pegawai negeri ini.
Banyak orang yang menjadi meester atau doktor hanya karena orangtuanya mampu membiayai atau karena diongkosi oleh orang lain. Ini bukan hal yang mengagumkan. Hanya orang yang bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi doktor atau meester atau insinyur dengan tenaga dan kekuatannya sendiri, itulah yang patut mendapat pujian. Itu tandanya orang-orang yang betul-betul punya kemauan, mempergunakan kecerdasan, kekuatan, dan kepandaian yang dimilikinya.
Titel akademi bukan tujuan manusia, itu hanya alat . Sama saja seperti pisau, mobil, pacul untuk menggampangkan orang dalam mencapai cita-citanya. Andaikan seorang anak gembel yang hidup di gubuk dan makan tak ketentuan bisa mendapat gelar akademi, itu baru hebat.
Jika kita masih percaya pada lembaga pendidikan, maka yang mesti dilakukan adalah mendorong lembaga-lembaga tersebut untuk membekali diri dengan kekuatan mendidik orang-orang dalam asupan pengetahuannya untuk menjadi manusia berwatak, mandiri, mau bekerja keras, serta memupuk daya saing dalam praktek bermasyarakat. Dan semua watak itu sulit kita dapatkan dalam mental orang-orang yang sedari dini bercita-cita menjadi kaum ambtenaar yang pemalas, miskin kreatifitas, dan kerjanya hanya rebutan proyek!.
Posted by Cisca at 7:04 AM
Monday, April 10, 2006
C a n t i k
Pembantu yang baru di rumah saya cukup berpotensi menimbulkan bibit kecemburuan di diri saya. Wajahnya mencolok berbentuk kotak dengan tulang pipi yang tinggi, dan kulit yang mulus. Matanya berbentuk almond sempurna, bibirnya merekah indah.
Saya curiga dia melarikan diri dari kampungnya ke Jakarta karena menjadi kembang desa di sana. Tentunya dia banyak menyusahkan kehidupan orang karena menjadi rebutan terlalu banyak lelaki. Sedangkan kalau saya yang berada di posisinya di desanya, saya sudah bisa membayangkan bisa-bisa orang-orang di sana langsung bedol desa.
Menjadi cantik tentunya berbeda dengan menjadi pandai, atau apa yang orang bilang sebagai inner beauty, bahwa kecantikan di dalam tentu akan memancar keluar dan membuat kita tampak lebih menarik. Untuk sekarang, saya justru ingin berkutat dengan penampilan luar itu.
Selama ini saya merasa risih jika tiba-tiba predikat " cantik " dilekatkan pada nama saya. Hidung saya kembang kempis, pipi saya terasa terbakar, dan mata saya hanya mampu menatap lantai. Saya hampir tidak pernah merasa cantik. Lebih jauh lagi, saya selalu mengecamkan pada diri sendiri untuk tidak usah repot-repot melongok di cermin untuk mengecek penampilan. Kalau tidak menghembuskan nafas panjang-panjang, maka giliran bibir saya yang maju karena saya selalu kecewa mendapati apa yang ada di dalam bayangan cermin itu.
Satu detik saya mabuk dengan penampilan diri sendiri, tentu saja hal pertama yang terjadi adalah saya bertemu model jelita yang mempelototi saya dari atas sampai bawah. Dan karena kepala saya hanya sepinggangnya, saya kurang bisa mendengar apa komentarnya tentang saya.
Saya mempunyai banyak sekali teman berwajah elok. Banyak. Dan sungguh elok. Saya sering termangu memandangi setiap jengkal wajah mereka dan mendadak ingin meraih obat serangga. Saya juga yakin teman-teman saya kadang mengalami hilang ingatan, akibatnya mereka memuji penampilan saya pada suatu hari. Sembari tersenyum saya terbata-bata mengucapkan terimakasih, namun di dasar hati saya yakin mereka lupa minum obat, dan karenanya, berhalusinasi.
Ketika saya bercermin dan pantulannya membuat saya terdiam dan terkagum-kagum, saya tahu di luar sana saya hanya membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk paling tidak menumpahkan saus makanan ke baju saya bagian dada. Satu menit yang lalu, boleh saja saya menjadi perempuan mempesona di kamar kecil itu, tapi ketika saya melangkah keluar dengan dagu terangkat naik lebih dari biasanya, mata saya hampir buta akibat seorang perempuan lain yang begitu terang benderang karena luar biasa cantiknya.
Saya tahu akan ada hari-hari dimana saya merasa tidak ingin ke luar rumah dan tidur seharian saja lalu mimpi menjadi secantik Daria Werbowy misalnya.
Dan mungkin yang saya butuhkan di hari-hari seperti itu adalah sekedar mengingat ujaran teman-teman saya bahwa, ...ya, saya bisa tampil cantik. Contohnya, ketika kehujanan, dengan mantel rajutan dan rambut di kuncir ekor kuda serta kacamata tebalpun, saya masih saja mendapat pujian itu.
Maka mungkin saya tidak usah menjelma menjadi burung merak yang senantiasa telihat pongah dengan penampilannya, dan yang lebih penting, saya juga tidak usah memirip-miripkan diri dengan burung unta yang lebih sering menenggelamkan kepalanya ke dalam tanah karena malu hati. Yang harus saya ingat adalah ketika orang lain tampil lebih cantik dari saya, tentu itu bukan akhir dari segalanya. Saya mencoba percaya bahwa saya tetap cantik dengan cara saya sendiri. Dan kalau masih saja saya memutar-mutar mata, tidak puas dengan penampilan diri sendiri, saya selalu bisa berkonsultasi dengan pembantu saya tadi. Saya yakin ia bisa mendidik saya untuk menjadi kembang desa berikutnya.
Posted by Cisca at 4:04 PM
Tuesday, March 28, 2006
I s t i r a h a t

Di dunia ini hanya ada satu bandara udara yang berani menghentikan segala kegiatan penerbangan selama satu hari penuh dengan alasan keagamaan, yaitu: Ngurah Rai - Bali, Indonesia. Benar, lusa 30 Maret 2006 ( Saka 1928 ) anda jangan ke Bali kalau mau jalan-jalan atau menikmati obyek wisata, karena mulai pagi hingga paginya lagi orang Bali menghentikan seluruh kegiatan rutinnya. Selama satu hari itulah yang disebut Nyepi. Saat itu di Bali tidak ada kegiatan kecuali merenungi dan merefleksi diri untuk menyambut kehidupan di kemudian hari. Mereka berpantang diri dari empat aktivitas rutin, yaitu : menyalakan api, bekerja , bepergian dan menikmati hiburan.


Makna yang paling cepat dapat ditangkap dari pelaksanaan nyepi adalah memberikan kesempatan kepada alam untuk beristirahat secara total selama 24 jam. Selama sehari dalam setahun, jalan-jalan di Denpasar ataupun Kuta yang biasanya akrab dengan kemacetan, diberi kesempatan untuk kosong secara total, bebas dari gas emisi yang polutis dari berbagai jenis kendaraan bermotor.
Nyepi merupakan momentum bagi manusia untuk melakukan refleksi terhadap perbuatannya di masa lalu, masa kini dan merenungkan masa depan. Atita, Wartamana dan Anegata ( masa lalu, masa kini dan masa depan ). Ketiganya berkaitan dalam konteks sebab akibat. Kebaikan perilaku di masa lalu dan di masa kini akan melahirkan pula kebaikan di masa datang. Demikian sebaliknya, bencana di masa kini adalah akibat kerakusan di masa lalu. ( Semoga bencana alam yang kemarin datang bertubi-tubi melanda negeri ini dapat menyadarkan kita untuk kembali ke jalan Tuhan ).
Bagi umat Hindu, Nyepi ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan Srada ( keyakinan / keimanan ) kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Selain mengajak manusia kembali dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan, momentum Nyepi juga mengajarkan umat Hindu untuk tidak henti-hentinya mengakui kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Kalau dilihat rangkaian acara tahun baru Saka, hari Nyepi hanyalah puncak yang lebih bersifat antiklimaks dari serangkaian proses ritualistik. Sebelum sampai pada puncak sepi, umat Hindu di bali melakukan ritual meriah yang disebut Melasti ( atau Makiyis ), sekitar 3 -4 hari sebelumnya. Mereka pergi ke pantai dan sumber air lainnya ( danau, pertemuan dua sungai, mata air suci, dsb ) dengan tujuan membersihkan benda-benda sakral yang dimiliki oleh desa ataupun kelompok warga ( klen ). Prosesi yang melibatkan ribuan umat itu dilakukan dengan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, pulang pergi, sambil mengusung benda sakral.
Sehari sebelum hari Nyepi, setiap desa mengadakan upacara bersih desa secara serempak dan bertingkat, mulai dari tingkat propinsi ( pada pagi hari ) dilanjutkan dengan tingkat kabupaten, sampai akhirnya desa dan kampung, yang dilaksanakan pada sore menjelang malam.
Dalam upacara bersih desa yang disebut Tawur Kesanga ini dilaksanakan arak-arakan berbagai efigi makhluk jahat ( setan, jin, butakala / raksasa, dsb ), yang disebut dengan Ogoh-ogoh ( berupa patung yang umumnya dibuat dari kertas seperti ondel-ondel ). Setiap desa paling tidak membuat sebuah ogoh-ogoh, tetapi karena umumnya setiap kelompok kecil juga membuat ogoh-ogoh, maka jumlah ogoh-ogoh pada setiap desa bisa mencapai puluhan. Setelah diarak berkeliling desa, ogoh-ogoh yang dibuat dengan biaya jutaan rupiah itu selanjutnya dibakar, sebagai representasi pemusnahan / pengusiran makhluk jahat.
Klimaks yang aneh ini juga bisa dilihat dalam berbagai bentuk kesenian pertunjukkan, misalnya pada tarian Barong yang diakhiri dengan usaha untuk menusuk diri sendiri.
Yang juga tidak kalah pentingnya untuk saat ini, hari Nyepi merupakan promosi luar biasa bagi pariwisata Bali, sebuah industri yang bersandar kepada citra ( imej ) keaslian dan keunikan. Cukup banyak wisatawan mancanegara yang sengaja memilih waktu untuk telah tiba di Bali sebelum hari Nyepi, agar mereka bisa secara langsung melihat keunikan dan keaslian budaya Bali dengan klimaks dan antiklimaksnya yang juga unik. Biasanya mereka adalah wisatawan religius yang ingin berwisata meditasi.
Nyepi memberikan keheningan pikiran, kestabilan emosi, dan kedalaman spiritual sehingga umat manusia bisa mengendalikan tindakannya. Mengeksploitasi potensi alam dan budaya untuk semata-mata kepentingan material dan hedonisme harus dicegah. Pantangan Nyepi mengajarkan manusia untuk tidak mengumbar hawa nafsu. Pantangan untuk menyalakan api, tidak secara literal harus diartikan mematikan api alias tidak memasak atau merokok, tetapi memadamkan pijaran nafsu yang menguasai diri, baik nafsu untuk berkuasa, menipu, menjerumuskan apalagi menghancurkan dan menginjak-injak harga diri orang lain.
Perayaan Nyepi di Bali memang bersifat lokal dengan sedikit kegiatan serupa di beberapa tempat, dimana terdapat sejumlah signifikan umat hindu dalam satu kawasan. Namun keberhasilan masyarakat Bali untuk menggaungkan perayaan ini ke berbagai penjuru dunia misalnya lewat penghentian penerbangan dari dan ke Bali membuat pesan pantangan hidup ( catur brata penyepian ), diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada masyarakat dunia terutama bagi mereka yang ingin dengan sungguh-sungguh berhenti sejenak untuk menambang keheningan dalam sepi.
Sunyi senyapnya Bali pada hari raya Nyepi mungkin bisa memancarkan ilham pada dunia untuk mengambil langkah-langkah terbaik dalam menyelamatkan alam dengan melakukan penghematan energi dan pengekangan hawa nafsu. Pantangan tidak bepergian sehari, tidak menikmati hiburan seharian, tidak menyalakan api seharian, dan tidak bekerja seharian mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk merenung sejenak tentang arti dari bekerja, menikmati hiburan, melakukan perjalanan, dan kegelapan dalam kehidupan yang penuh misteri ini.
Posted by Cisca at 10:28 PM
Friday, March 10, 2006
M a s i h
Kelaparan telah melalap sebagian rakyat warga Serang, Cirebon, Bandung dan Brebes. Mereka mulai makan nasi aking, nasi sisa yang sudah beberapa hari kemudian ditanak lagi. Nasi aking ini dikumpulkan berhari-hari yang nempel di bakul bambu. Karena sudah berumur, nasi aking bukan tidak mungkin digrogoti bateri. Ada saja penduduk yang jatuh sakit sehabis makan nasi aking itu, perut mulas juga diare.
Sekitar sepuluh keluarga yang kelaparan itu mendorong kita untuk mimpi di siang bolong. Tidak terbayangkan oleh kita, musnah kebutuhan dasar mereka. Bagaikan ayam mati di tumpukan beras. Subhanallah...
Kota terdekat dengan Jakarta tempat tinggal saya, di Serang misalnya. Kota Serang adalah ibukota propinsi Banten, lumbung padi yang tak boleh dikata tak pernah tidak subur makmur. Sama masyhurnya dengan kabupaten Karawang. Roda ekonomi yang berputar deras menggambarkan aktivitas perdagangan yang laju di Serang, memanggil-manggil para pengusaha yang lalu lalang di Jakarta-Lampung untuk transit di Serang.
Penduduk yang kelaparan itu bukan disebabkan oleh tidak adanya beras di kampung mereka atau sifat malas sehingga mereka tidak mau mencari nafkah, melainkan tidak tertanganinya hak-hak dasar mereka oleh pemerintah.
Padahal secara geografis, tempat tinggal mereka mudah terjangkau oleh aparat pemerintah dengan program-programnya bagi pengentasan kemiskinan. Mereka tidak pula terisolasi secara politis. Satu-satunya kelemahan mereka barangkali karena mereka tidak pernah mengeluh disebabkan oleh kemiskinan mereka. Juga mereka tidak pernah minta-minta kepada pemda untuk diperhatikan. Penduduk yang kelaparan yang memiliki KTP ini tentu tidak bisa berdalih atau terlalu lemah untuk berdemonstrasi. Sebaliknya hati mereka begitu murni sehingga mampu membersihkan hati kita yang belepotan ini. Subhanallah...
Selain diakibatkan bencana banjir ketika musim penghujan kemarin, harga gabah di Karawang juga merosot. Alasan tengkulak beras tidak lagi mampu mengulak secara memadai karena biaya transportasi naik berlipat. Di satu pihak, petani yang sudah jatuh itu, tertimpa tangga pula. Harga pupuk yang lebih mahal daripada harga gabah menyebabkan hidup para petani kita semakin mengenaskan. Subhanallah...
Rakyat miskin yang semakin dimiskinkan, yang jumlahnya bertambah banyak, didera kelaparan, penderitaan, dihantam bencana yang susul menyusul, rasanya malapataka itu tak tertanggungkan lagi. Miskin dan ditimpa bencana alam. Apalagi yang bisa dipertahankan dari harkat yang sudah compang-camping ini?. Rakyat miskin bisanya cuma menangis, menangis dan menangis. Sementara rawan pangan dan kelaparan di Papua yang belum teratasi, seakan-akan menunjukkan bahwa tidak ada lagi hiburan lain bagi rakyat miskin di seluruh pelosok tanah air kecuali menangis. Kemana nasib ini diadukan? Kepada Tuhan?. Rakyat miskin tidak tahu cara mengadu dengan baik, sementara gerak-gerik Allah tak tertebak.
Presiden Yudhoyono tampak kuyu, lelah dan menderita. Pemimpin mana di dunia ini yang mampu menanggungkan penderitaan yang susul menyusul ini?.
PIB ( Pemerintah Indonesia Bersatu) yang baru menapaki belum dua tahun pemerintahannya, sudah digempur habis-habisan oleh malapetaka yang rasanya tidak berkesudahan. Tuhan berfirman bahwa Allah tidak mengaruniai malapetaka tanpa umat mampu menanggungnya. Presiden dan kabinetnya tentu mampu menyemprot awan hitam yang bergayutan di atas langit negeri ini, sehingga pelangi bisa tercipta. Subhanallah...
Saat ini belum lagi anggaran tambahan untuk mengatasi pasca gempa di Aceh dan Nias, juga kesiagaan di pulau-pulau terluar nusantara di hitung, keburu flu burung menyerang kembali. Puluhan mungkin ratusan ribu unggas telah tewas, bahkan diperkirakan flu burung juga telah menulari kucing sebagai hewan peliharaan. Hitung-hitung APBN ( Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dihitung kembali, seperti menyusun anggaran baru yang bisa duakali lipat jumlahnya. Jangan-jangan harga BBM bisa dinaikkan lagi. Waduh!. Lho, memangnya kenapa?!. Oke, biar rakyat semakin mahfum bahwa pemerintah itu memang supersulit. Subhanallah...
Jumlah 17 trilyun rupiah untuk dana kesehatan dan pendidikan yang diambil dari subsidi BBM, dianggap para pakar kita sangat tidak cukup. Apalagi pencairan itu diicrit-icrit (bertahap). Lalu kita mengerti logika pemerintah bahwa jika tidak dipelit-pelitkan, dana yang disektor sekaligus sangat mudah dikorup. Sebenarnya kan urusan dikorup atau tidak itu kan urusan pemerintah, bukan urusan rakyat miskin. Yang pasti kenaikan harga BBM makin memicu laju kemiskinan.


Sekaranglah rakyat harus bangkit, syukur-syukur bisa meletuskan revolusi sosial. Tapi tidak cukup dari sabetan kanan kiri saja. Naikkan " harga diri " dengan kekuatan daya tawar yang hebat: " Kami rakyat miskin, mana duit kami!" ---kepada mereka yang mau main money politic.Ini kesempatan pula bagi para pemulung, anak-anak gelandangan, preman ( jangan cuma beraninya membentak-bentak rakyat yang sama-sama miskin didalam bus kota untuk minta sedekah) , gali, penjahat, dan pengemis, untuk tampil sebagai rakyat miskin yang punya hak atas dana BBM itu.
Tapi apa benar rakyat miskin punya perhatian terhadap dana BBM itu? Mungkinkah rakyat miskin antipati terhadap segala tetekbengek dana BBM itu yang cuma menguntungkan segelintir orang yang mendapat jatah membagi-bagikannya. Apakah para makelar dana BBM itu bisa menjamin hak dasar rakyat seperti kesehatan dan pendidikan?.
Atau rakyat miskin akan nrimo ( pasrah) saja terhadap nasib karena sudah terlalu lelah didera kemiskinan dan bencana?. Presiden Yudhoyono tak cukup tangannya untuk memuaskan semua rakyat miskin karena kelelahan dan menderita juga?. Lagi-lagi rakyat miskin yang sehari-harinya cukup mendaur ulang nasi yang layaknya untuk pangan bebek itu: nasi Aking.
Posted by Cisca at 4:03 PM
Tuesday, February 14, 2006
Nyatakan Cinta dengan Rasa

Pagi ini saya terbangun dan tidak lagi merasa diri saya sebagai orang Indonesia. Mata dan rambut saya masih hitam, kulit coklat dan tulang pipi menonjol, tapi saya sudah terkontaminasi. Ibarat sebuah disket yang salah format, saya mengalami erosi dan abrasi. Nama menjadi beban, karena citra saya tidak sanggup mengangkat simbol dalam bunyi.
Di dalam kamar saya tertindih oleh pikiran-pikiran tentang kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kesetaraan dan kemanusiaan yang diagungkan di seluruh dunia, tetapi kadang terasa sangat bertentangan dengan cita-cita adat dan tradisi Indonesia. Bentuk sayapun sudah lain, karena saya mengonsumsi dan dihiasi dengan aksesori yang tidak lagi berasal dari lingkungan alam sendiri. Saya adalah sebuah pasar hidup dari produk teknologi dan industri alam pikiran liberal, dengan semangat individualisme yang membuat saya benci kepada keluarga dan semangat gotong royong dalam masyarakat. Saya sudah menjadi sesuatu yang baru dan sekaligus juga virus.
Dengan ragu-ragu saya keluar dari kamar sambil membawa senjata, karena saya tetap harus membela diri kalau diserang oleh lingkungan, oleh saudara-saudara bahkan oleh anak dan pacar yang tak kenal, karenanya tak bisa menerima kehadiran saya lagi. Hidup adalah sebuah peperangan dan itu mungkin dimulai dari depan pintu, waktu bangun tidur.
Saya sudah memilih yang lain. Untuk itu saya masih memiliki hak untuk melawan dan akan saya pergunakan. Karena masa depan tidak semestinya hanya ditentukan oleh masa lalu, tetapi seluruh pembaharuan yang terjadi.
Lalu saya gebrak pintu dan meloncat keluar siap tempur. Tetapi di depan pintu ternyata terbentang ruang yang lain. Bukan yang biasa saya kenal. Sesuatu yang masih asing karena saya mencium bau yang belum pernah saya hirup sebelumnya. Atmosfernya begitu menggoda. Saraf-saraf dan kelenjar gairah saya terangsang. Tiba-tiba saya ingin bersatu tubuh dengannya. Tetapi baru saya mencoba menjajaki, tubuh saya berontak. Ia tidak lagi berada di bawah kekuasaan saya.
Walau saya tekadkan untuk berhenti beberapa saat, kaki saya terus melangkah dan jari telunjuk saya hampir saja menarik senjata, tepat ke arah kepala saya sendiri.
Terseret oleh kekuatan di luar kekuasaan saya, saya sampai ke pintu yang lain. Pintu yang perlahan-lahan terbuka ketika tubuh saya mencoba menerobosnya. Pintu yang menghantarkan saya ke luar tetapi sekaligus ke dalam ruang yang lain.
Saya terpesona. Ruang itu ternyata lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Lebih menyerang dan lebih merangsang. Dari seluruh dindingnya keluar tenaga yang seperti menghisap tubuh saya.
Senjata terlepas dari tangan dan tubuh saya tertarik dari segala arah. Saya bertahan. Pakaian saya tercabik sampai saya telanjang bulat. Kemudian bulu-bulu badan saya tercabut dari tubuh. Bukan main sakitnya. Saya menjerit menutupi rasa pedih itu. Tapi kemudian jari-jari tangan, lengan, kaki, telinga, hidung, seluruh bagian tubuh saya tercabut dan ditelan oleh dinding ruang yang buas itu.
Sekarang saya bukan lagi hanya kehilangan identitas Indonesia. Saya bangkrut atas seluruh kehadiran saya. Tetapi satu hal yang menakjubkan, ternyata masih ada yang tersisa.
Perasaan saya tidak kelihatan, tidak berwarna, tidak memiliki volume. Ia bisa tercerabut dan mengalir ke mana saja menerobos jarak, waktu dan segala hukum. Tetapi ia selalu kembali seperti bumerang.
Dengan rasa itulah saya menyaksikan ratusan, ribuan, berjuta-juta bahkan miliaran pintu menunggu di depan. Saya takjub, lalu yakin bahwa saya sedang memasuki alam pikiran orang lain. Saya sudah tersesat ke dalam rencana orang lain. Ini kekalahan besar Indonesia yang tak boleh terulang lagi.
Lalu saya peluk rasa yang sekarang menjadi nyawa saya. Saya berbalik dan bergegas hendak kembali. Pulang dan bertahan adalah jalan terakhir yang terbaik. Tetapi begitu saya berbalik, kembali saya terpesona. Di depan saya, tepatnya di belakang saya berdiri Indonesia.
" Apapun yang kamu lakukan, aku selalu berdiri di belakangmu," bisiknya.
" Saya orang Indonesia, karena saya lahir dari keluarga Indonesia. Tetapi apakah saya Indonesia ?. Wajah saya cenderung meruncing, hidung runcing, tulang pipi kurus, mata cekung dan kulit coklat muda. Saya menyanyikan Indonesia Raya dan mengibarkan Sang Saka dan menjiwai semangat gotong royong, bahkan sudah lulus penataran P4, tetapi saya sudah dalam pikiran orang lain. Berhakkah saya menyebut diri saya Indonesia ?. Apakah saya sudah menjadi orang asing setelah saya tidak lagi memakai kain sarung, tetapi jins, sepatu dan referensi berpikir barat ? ".
" Hey, sekali kamu lahir sebagai orang Indonesia, kamu sudah terkutuk sebagai Indonesia. Apapun yang kamu lakukan, topeng siapapun yang kamu mainkan, aku tetap di belakangmu," kata Indonesia yang tiba-tiba masuk ke lubuk hati.
" Aku bukan hanya bangsa, bukan hanya teritorial, bukan ideologi, bukan paham, bukan agama, bukan hanya kekuatan moral dan politik, tetapi sebuah konsep sebagaimana juga Rusia, Australia, Amerika, Perancis, Inggris, Jepang dan sebagainya. Indonesia adalah sebuah fenomena rasa," kata Indonesia lagi.
Rasalah yang menyebabkan segala perbedaan tetap berbeda. Tetapi anehnya masih terus membuat kita selalu bersama-sama. Rasalah yang akan terus tumbuh dalam masa pemerintahan presiden pilihan rakyat yang memimpin negeri ini untuk masa lima tahun. Rasalah yang kita harapkan akan menjadi primadona era baru yang sudah begitu banyak diganduli harapan oleh 250 juta rakyat yang selama ini hanya dibodohi pemimpinnya. Rasalah yang selama ini telah hilang. Rasa itu yang harus kita bangun kembali. Tidak cukup hanya politik, ekonomi dan teknologi, tetapi juga kebudayaan yang diberdayakan secara tepat dan proporsional.
(To : My Mom, Sis and Brother)
Thanks for still loving me and my son, we're also loving you...
Posted by Cisca at 9:14 PM
Friday, February 3, 2006
Kemana Kita ?
Jerit tangis rakyat yang kelaparan,
yang kehilangan pekerjaan,
yang anaknya macet sekolah karena ketiadaan biaya,
yang kehilangan sanak saudaranya akibat bencana alam,
dibunuh,
bunuh diri,
dijual,
tidak hanya menyayat di desa-desa di seluruh pelosok tanah air, tapi juga terdengar di kota-kota besar.
Sawah yang tenggelam akibat banjir (padahal siap panen) ,
harga gabah yang semakin jatuh,
banjir berhari - hari di pedesaan yang miskin,
tanah longsor,
uang bantuan yang dikorup,
bertengkar kecil-kecilan yang mengakibatkan nyawa melayang,
gaji buruh yang sangat minim,
demonstrasi menuntut keadilan,
keracunan massal,
ribuan pengangguran mendadak akibat perusahaan tutup,
tak mungkin kembali ke luar negeri sebagai TKI akibat masuk black list,
dan penderitaan bayi-bayi yang kurang gizi,
Perebutan kekuasaan di tubuh partai-partai di dalam pemerintah,
geng-geng preman,
kredit macet triliunan rupiah,
kayu-kayu penebangan liar yang tak juga bisa dimanfaatkan,
para cendekiawan " bunuh diri " ramai-ramai,
orang-orang suci yang bisanya cuma rapat-rapat,
para pahlawan yang ternyata hanya orang-orang biasa yang tidak memiliki daya tahan,
( siapa menolak kemewahan justru mendapat durian runtuh )
pengemis-pengemis kecil memenuhi ibukota,
anak-anak kecil yang diperkosa dan dibantai,
para preman meneror para penumpang di angkutan umum,
baku tembak karena cemburu, dendam,
juga karena rebutan rejeki.
Semua itu merupakan kebangkrutan politik, ekonomi, dan sosial. Tidak ada obat, peredam dan pencegahannya kecuali revolusi sosial.
: Perlu Angkatan Muda.
Angkatan muda dan revolusi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam kacamata para ideolog dan sosiolog, revolusi selalu berarti manifestasi perubahan sosial yang paling spektakuler.
Ada beberapa kelompok cara pandang tentang revolusi ini:
* Revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan berskala luas. Intinya terletak pada keluasan dan kedalaman perubahan yang meliputi segala bidang. Ini revolusi yang biasanya bersifat " sudden " dan " radical ", menjadi lawan dari reformasi yang biasanya " slow " and " partial ".
* Revolusi dengan menitikberatkan pada penggunaan kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Disini berarti revolusi adalah lawan dari evolusi.
* Revolusi yang terpahami sebagai " perubahan domestik yang cepat, fundamental, dan penuh kekerasan dalam nilai-nilai dominan dan mitos masyarakat, dalam institusi politik struktur sosial, kepemimpinan, dan kebijakan serta kegiatan pemerintahan ".
Jadi selain perubahan yang fundamental dan menyeluruh, revolusi juga melibatkan mobilitas massa yang bergerak secara cepat. Umumnya disertai kekerasan, walaupun ada juga ( walau jumlahnya tidak banyak) tidak memakai kekerasan, seperti Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur.
Semangat perubahan yang bergolak-golak hanya bisa ditampung dalam jiwa angkatan muda dan bukan angkatan tua.
Tidak bisakah lagikah kita bangkit sedikit lalu berlari sedikit, ketika semuanya sudah tidak mengenal lagi suara kesedihan rakyat?
Kenapa seakan tiada yang lebih elok selain: proyek.
Ya !. Proyek.
Kongres: proyek
Studi banding: proyek
Pemeriksaan keuangan: proyek
Restrukturisasi dan rekonstruksi daerah bencana: proyek
Penyehatan Bank: proyek
Agen otomotif: proyek
Rakyat lapar nasi: proyek
Agama: proyek
Perang: proyek
Ahh....Bagaikan bangsa yang tak punya lagi harapan, hati yang tulus dan kejujuran. Selain hanya: proyek. Tidak ada lagi kejujuran, perjuangan demi keadilan dan kebenaran. Padahal rakyat masih kekurangan
: makanan, minuman, barak untuk tubuh-tubuh beberapa keluarga, obat-obatan, listrik, pendidikan, juga belaskasihan.
Siapa sangka, mereka yang halus bagai satria, suci bagai pertapa, ternyata pelengkap racun yang merambat ke dalam saluran darah rakyat yang terus-menerus didera penderitaan ?. Dengar saja nyanyian para elite politik yang sangat ulung meninabobokkan rakyat. Padahal mereka juga termasuk penaik darah profesional, yang sampai mau berantem dengan sesama mereka dengan alasan yang serba luhur.
Posted by Cisca at 10:02 PM
