
"Kring..kring..kring..., suara bel sepeda Phoenix buatan Taiwan itu membelah panasnya Jakarta di sebelah barat dan kota. Sarman, si pemilik sepeda itu, ringan saja mengayuh tunggangannya melawan arah. Kadang "nyalib" di depan kendaraan lain yang melaju kencang. Raungan klaksonpun bersahutan mewakili kekesalan pemilik kendaraan lain. Peluh bercucuran dari wajah pak Sarman yang terlihat lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.
Namun suara klakson kendaraan lain tak membuat pak Sarman grogi, tetap santai dia mengayuh pedal sepedanya. Lewat kayuhan sepedanya inilah pak Sarman menyambung hidup keluarganya. Pria berusia 42 tahun ini adalah salah seorang pengojek sepeda yang kini masih banyak di kawasan Jakarta Kota. Bahkan menjadi tunggangan alternatif yang tak lekang oleh panas hujan dan tak lapuk oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Habis mau bagaimana lagi ?. Berjalan kaki ke tempat beraktivitas pasca kenaikan BBM ?. Apa Mungkin ?. Lihatlah bagaimana kondisi trotoar di negeri ini. Trotoar bukan lagi untuk pejalan kaki, tapi sudah dimonopoli oleh pengendara motor dan pedagang kaki lima. Belum lagi kondisinya yang tidak terawat, masih banyak terdapat kawat bekas galian, berlubang-lubang tidak rata dan ditumbuhi pepohonan yang akarnya kadang menyandung para pejalan kaki. Belum lagi galaknya pengendara motor yang jika mereka melajukan motornya di atas trotoar, lantas ada pejalan kaki yang dianggap menghalangi jalan mereka, mereka akan membunyikan klaksonnya, mempelototkan mata sambil mengumpat, Woi, minggir!. Nggak ngeliat apa lu!". (Minggir?. Lha mau minggir ke mana lagi. Trotoar kan tempat kami berjalan kaki?. Apa kami mesti turun ke bahu jalan untuk berjalan?. Yah, terpaksalah daripada saling ngotot, ngeyel, dan memang akhirnya hanya itulah yang bisa kami lakukan. Berjalan kaki di bahu jalan raya sambil mangkel di hati pula. Kadang masih juga beresiko keserempet oleh sliwerannya kendaraan umum seperti metro mini, kopaja, mini angkot dan pengendara lainnya. Belum lagi kami harus berjalan menghindar dari kerumunan para pedagang buah-buahan dan kaki lima lainnya yang ikut meramaikan suasana pertrotoaran disini. Aduh....)
Lain halnya dengan pak Sarman yang satu ini. Keluwesannya mengendarai sepedanya menembus semrawutnya lalulintas merupakan alasan mengapa masyarakat masih setia memilih angkutan tradisional ini. Bahkan pak Sarman telah mempunyai pelanggan tetap yang menggunakan jasanya usai jam kantor. Bersama sekitar 60 orang rekan-rekannya, pak Sarman menunggu penumpang dengan sabar di depan Stasiun Kereta Api Beos , Kota.
"Saya sudah tujuh tahun ngojek sepeda" katanya. Sebelum menjadi pengojek, pak Sarman mengaku pernah bekerja di berbagai toko dan pabrik di ibukota, namun ketidaksenangan diperintah oranglain membuatnya banting setir. Awalnya menjadi pengojek sepedapun gara-gara tetangganya menawari untuk membawa sepeda yang tidak dipakai lagi. "Yah..akhirnya keterusan sampai sekarang," katanya lagi sambil tertawa terkekeh mengusap peluh di dahinya.
Yang tidak bisa disembunyikan adalah guratan wajahnya yang seolah menjadi bukti kerasnya perjuangan hidup.
Soal penghasilan, pak Sarman menuturkan, "Yah...lumayanlah bisa mendapatkan 15 ribu sampai 20 ribu rupiah sehari, karena tidak dibebani setoran. Kalau pengojek lain yang masih dibebani setoran, harus menyisihkan sejumlah 15 ribu hingga 20 ribu rupiah kepada pemilik. Ini sepeda Phoenix saya beli seharga 300 ribu rupiah, kalau yang baru sih bisa sampai 500 ribu rupiah," katanya sambil menunjuk sepedanya yang telah dilengkapi jok tambahan itu.
Karena menjadi pihak yang lemah, daya tawarpun rendah. Sulit bagi mereka mematok harga. Nominal Rp.1500,- dianggap layak untuk berjalan dari Stasiun Kereta Api Beos menuju kantor pos yang berjarak sekitar 300 meter. Namun tak jarang pula, seberapapun uang yang diberikan penumpangnya mereka terima dengan ikhlas.
Kendati minim dalam penghasilan, mereka tidak minim dengan kebaikan. Bahkan persainganpun disikapi dengan bijak. Tenggang rasa menjadi sebuah keharusan ketika melihat ada teman yang belum mendapat penumpang. Mereka sadar betul bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Untuk apa saling sikut jika hanya menimbulkan penderitaan yang berujung pada ketidaknyamanan dalam hidup dan bertambahnya musuh ?.
Meski tidak semua pengojek sepeda memiliki sifat seperti pak Sarman ini, namun ada kesamaan yang tidak bisa hilang dari mereka, yaitu komunitas marjinal. Namun rasa "nrimo" lah yang membuat kaum terpinggirkan ini menjadi "survive". Setelah merasa cukup, tidak ada lagi niatan untuk merebut milik orang lain.
Saat ini ojek sepeda hanya ada di kawasan Jakarta Utara dan Kota. Mereka para pengojekpun menjadi fasih dengan perkembangan yang ada di wilayah itu, bahkan mereka sekaligus berfungsi sebagai pemandu wisata di kawasan yang memang terkenal dengan kota tua yang banyak peninggalan bangunan bersejarahnya. Dengan uang sekitar 20 ribu rupiah, kami bisa diajak berkeliling kota. Mulai dari Stasiun kota, Museum Sejarah Jakarta, hingga ke pelabuhan Sunda Kelapa, sambil dengan senang hatinya mereka menceritakan sejarah bangunan-bangunan yang ada di sekitar situ. Akan lebih menyenangkan lagi jika hal ini dilakukan pada malam hari, setelah terik matahari Jakarta terganti oleh semilir angin laut.
Kehidupan kadang terasa tidak berubah. Kala senja menyisir pantai teluk Jakarta, pak Sarmanpun dengan bersenandung lirih--entah lagu apa yang dinyanyikannya--membelokkan setang sepedanya ke rumah, menemui anak dan istrinya. Masih tampak sesungging senyumnya karena mengantongi hasil tetesan keringat yang diperolehnya seharian. Sembari berdoa pada Sang Khalik, "Tuhan, berilah kesempatan pada saya untuk bisa berbuat baik dan menjadi lebih baik lagi"
(Ah, sebait doa sederhana dari pak Sarman dan rekan-rekannya, yang masih sawang sinawang dengan koor serempak para anggota DPR ketika menerima tambahan tunjangan sepuluh juta rupiah, di tengah duka abadi karena naiknya harga bahan bakar minyak di negeri ini), terdengar jelas sampai kami kembali membuka hari esok.
Sunday, October 30, 2005
Yang Masih Tercecer
Posted by Cisca at 5:29 PM
Tuesday, October 25, 2005
Tigaperempat Bulan Satu Perenungan
Memasuki bulan Ramadhan ini , kita mempunyai suguhan istimewa yang mendahului sahur pertama untuk berpuasa. Yaitu "hidangan" teror bom dan bahan bakar minyak. Hal yang pertama, selain mengundang perhatian dari seluruh kalangan dunia, juga menimbulkan anggapan pada masyarakat luas bahwa negeri kita adalah lahan bagi hidupnya satu bangsa yang telah disarangi kelompok teroris. Mungkin tak ubahnya laba-laba yang pernah saya lihat membuat jejaringannya di sudut-sudut dan langit-langit rumahku. Jika seperti itu keadaannya, maka kesimpulannya sudah jelas. Sayalah yang lalai. Lalai dalam memperkirakan bahwa segumpal kotoran ternyata tak lebih dari setitik debu yang jika dibiarkan terus menerus akan berkelompok dan menjadikan pemandangan di rumah sayapun tak bersih lagi.
Namun bom bukanlah debu seperti debu yang beterbangan di atas kepala saya ataupun seperti sarang laba-laba di dalam rumahku itu. Ia dapat menimbulkan ledakan debu yang sangat dahsyat. Tidak hanya kepada harta benda yang kita miliki, rumah kita yang berdiri di atas tanah negeri ini, tapi juga ledakan ketakutan di hati seluruh penduduk dunia.
Bahkan Mesir yang beberapa tahun terakhir dikenal sebagai negara yang cukup amanpun, ternyata eskalasi kekerasan di negeri itu belakangan ini cukup mencemaskan pula. Arab Saudi juga sampai sekarang masih dalam pertarungan melawan kelompok garis keras yang bersembunyi di negara itu. Begitu pula di Marokko, juga Cassablanca yang menjadi saksi bisu aksi antikemanusiaan ini.
Saya tidak pernah mengerti mengapa tindak kekerasan kini semakin menjadi-jadi justru ketika peradaban semakin menua. Seingat saya, pijakan analisis yang terkait dengan masalah terorisme ini adalah masa terjadinya tragedi 11 September tahun dua 2001, empat tahun yang ada di hadapan jika kita berjalan balik menghampiri peristiwa itu.
Setelah masa itu, ada dua perasaan yang saling "menikam" hati umat Islam. Pertama, rasa duka karena tragedi itu mengorbankan rakyat yang tidak bersalah. Kedua, rasa suka karena mereka--pelakunya--menganggap sebagai ekspressi perlawanan umat Islam terhadap Amerika yang selama ini selalu memojokkannya. Kedua perasaan yang saling menikam itu meninggalkan bekas yang sama saja: luka. Rasa suka seperti yang bagaimana jika aksi berdarah berarti bersekongkol dengan kejahatan ?. Namun pada perjalanan selanjutnya, rasa duka itupun terkalahkan dengan rasa suka setelah Amerika menyatakan perang terhadap kelompok Osama bin Laden yang bersarang di Afganistan. Aksi protespun memenuhi negara Islam. Bahkan aksi-aksi protes ini menobatkan seorang Osama sebagai "pahlawan Islam".
Ketika Amerika menghadapi Uni Sovyet di Afganistan, untuk menaklukkan Sovyet, Amerika pernah juga melakukan hal yang sama, yaitu bekerja sama dengan garis keras Islam yang juga melibatkan Osama. Karena mempunyai keinginan yang sama, maka terjalinlah kerja sama yang rapi untuk menghancurkan musuh bersama saat itu, yaitu Sovyet. Oleh karena itu, ketika kelompok Osama yang dulunyapun dilatih Amerika untuk menghancurkan Sovyet kini berbalik menyerang Amerika, maka penamaan yang tepat untuk kondisi itu tak lain adalah senjata makan tuan. Silang kepentingan yang menjadi pemainnya.
Mari kita bedah perkembangan teror yang terakhir ini banyak menghantam umat Islam sendiri. Ada perbedaan antara koalisi umat Islam dan kelompok garis keras yang dilakukan ketika Amerika menyerang Osama, dengan koalisi yang dilakukan Amerika dan garis keras untuk menghadapi Sovyet. Perbedaannya ada pada tujuan dan sokongan kekuatan. Untuk menumpas "musuh" sebesar Amerika perlu kekuatan tangguh secara militer dan ekonomi. Sedangkan "koalisi tak bersenjata" antara umat Islam dan garis keras tidak mumpuni, lambat launpun melemah dan kemudian hancur. Umat Islampun "menginjak" figur seperti Osama, dengan bermunculannya slogan dimana-mana bahwa Osama merusak citra Islam.
Di sisi lain, kalangan garis keras yang merasa dikhianati, menuduh negara-negara Islam bekerja sama dengan musuh. Aksi kekerasanpun mulai dialamatkan kepada mereka, termasuk Arab Saudi, Maroko, Mesir dan kami Indonesia. Kitalah yang selalu menjadi sasaran kekecewaan siapapun dan apapun terhadap perputaran waktu yang senantiasa mengandung kejadian, peristiwa dan yang kemudian menjadikannya sebagai sejarah.
Sekarang tentang saudara seibu kita disini. Keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi bahan bakar minyak dan membagikan dana kompensasinya dalam bentuk bantuan langsung secara tunai kepada rakyat telah mengalihkan isu politik yang sensitif tentang hal itu, menjadi isu yang sangat teknis di lapangan. Ketika bantuan tunai dana kompensasi BBM itu sedang dibagikan kepada seluruh rakyat, antrian warga yang sedemikian panjang membuat kondisi fisik saudara kita menjadi lemas dan akhirnya pingsan dalam barisan rakyat miskin. Bahkan ada yang pingsan dan tak tertolong lagi hingga menemui ajalnya. Ada pula diantara kita yang mengomel karena tidak dapat menahan diri untuk bersabar menghadapi situasi di lapangan. Bahkan seorang nenek di Jogjakarta nekat menerjunkan dirinya ke dalam sungai untuk bunuh diri saja karena sudah frustrasi dengan urusan penerimaan kartu kompensasi BBM itu. Jika takut bunuh diri tapi tidak takut membunuh yang lainnya, seseorang di negeri inipun dapat dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain di luar dirinya hanya karena faktor emosi. Seorang ketua RT (rukun tetangga) di daerah Jambi kabupaten Bungo, tewas dibunuh salah seorang warganya yang emosi karena korban tidak mendaftarkan warga tersebut sebagai warga miskin penerima dana kompensasi BBM.
Ada lagi pernik yang lucu. Di Sulawesi tengah kabupaten Donggala, ada keluarga yang menolak di daftar sebagai warga miskin karena malu dengan anggapan itu. Yah, istilahnya biar miskin yang penting sombong. Ini menyulitkan badan pusat statistik disana. Karena selain kurangnya waktu untuk pendaftaran dan tenaga pendata, juga kondisi geografis yang sulit dijangkau. Untuk mencapai daerah pegunungan dan kepulauan di sana harus naik kuda, bahkan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Kalau ada warga yang malu dianggap miskin dan menolak bantuan tunai tersebut--padahal memang miskin keadaannya--ada lagi keluarga yang keadaannya cukup layak namun mengaku miskin supaya bisa mendapatkan bantuan itu. Ada pula diantara kita yang mengajukan protes jika tidak didaftar sebagai warga miskin, karena kemiskinan adalah identitas rakyat di negeri ini. Kita khawatir jika tanpa identitas kemiskinan itu, pemerintah tidak dapat mengenali kita lagi...
Padahal, penentuan kriteria keluarga miskin inipun sebenarnya tidak luput dari persoalan tentang bagaimana variabel yang disebut miskin itu, jika dikaitkan dengan tingkat penghasilan keluarga. Ada sebuah keluarga yang rumahnya dibangun dengan sistem gotong royong--seperti arisan pembangunan rumah-- sehingga kondisi rumah yang ditempatinya tampak layak. Padahal jika ditinjau dari besarnya penghasilannya perbulan, mereka tergolong miskin.
Ada lagi yang berkesan seperti bantuan salah alamat. Dana kompensasi BBM dikirim kepada keluarga yang tergolong mampu, sehingga bantuan tunai itu bukan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari , tapi malah digunakan untuk membeli baju baru buat lebaran. Ada kepala desa yang dihajar karena urusan pembagian subsidi tunai langsung itu, namun ada pula kepala desa yang diam-diam ketahuan menyunat uang bantuan itu hingga 20%. Ini semua terjadi memang karena buruknya pengamanan dan kontrol kita selama di lapangan.
Dan yang paling memprihatinkan, semua ini terjadinya justru pada bulan Ramadhan. Bulan yang seharusnya tepat untuk sebuah kontemplasi yang manis pada diri setiap umat Islam.
Rakyat di negeri ini selalu terpapar sebagai model dari dua realita hidup: Islam dan kemiskinan. Kemiskinanlah yang menobatkan dirinya menjadi ibu dari semua keturunan dan anak cucu persoalan di negeri ini. Agama yang tidak mampu menggerakkan umatnya untuk mengamalkan ibadahnya dalam hidup bermasyarakat, diibaratkan sebagai bapak yang lama kelamaan menjadi impoten karena setiap hari ibu selalu mengomel tentang urusan dapur. Dan bapakpun mulai banyak berdiam diri karena sudah pusing tak menemukan lagi cara jitu untuk menenangkan ibu yang selalu menuntut penghasilan yang memadai, sebagai landasan kebutuhan hidup.
Posted by Cisca at 5:24 PM
Saturday, October 15, 2005
Air Mata
Izinkanlah kami, rakyat miskin, untuk memeras airmata darah. Itulah satu-satunya yang kami punyai, tinggal. Tidak, tidak. Kami rakyat miskin tidak menangis lagi. Kami hanya meminta izin untuk tetap sengsara disebabkan ketidak becusan kami dalam berburu nafkah. Jangan cambuk lagi kami dengan kasih sayang, cambuklah kami dengan penderitaan sepuluh tahun lagi, duapuluh tahun lagi, limapuluh tahun lagi, supaya kami, rakyat miskin, terus belajar bagaimana bertahan di segala cuaca.
Ketika menyadari bahwa setiap hari kami sangat kesukaran dalam mengatur uang belanja kami yang cupet, kami sadar, semakin mempersulit kerja siapapun yang mencoba menolong kami. Ya, kami menjadi beban. Beban yang berat sekali bagi siapa saja yang memikul kami.
Bagaimana kemungkinannya jika kami mengajukan eutanasia saja. Sekitar separo dari penduduk negeri ini, rakyat miskin, bisa dieliminasi supaya beban yang menyebabkan semuanya menderita bisa berkurang dalam sekejap. Tak ada gunanya memelihara rakyat miskin. Disamping sangat menghambat moderinisasi, rakyat miskin juga sangat boros dalam melahap kekayaan bangsa.
Kenaikan harga BBM memang fatal. Kami, rakyat miskin, ditempeleng telak. Kami terkapar. Ada saja anak-anak kami yang mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar yuang sekolah. Tidak tanggung-tanggung, 27.000 murid sekolah di Bogor terancam putus sekolah. Dewasa ini, kami yang jumlahnya ribuan, macet sekolahnya. Lalu menggelandang mencari pekerjaan apa saja. Kami juga menjadi pemulung, pengemis, penjambret, pencuri, perampok, pemerkosa, pembunuh, agen dari segala kerusuhan dan huru-hara. Pernah dengar sopir taksi yang dibunuh dan duitnya dijarah?. Itulah kerja kami. Kami membunuh kami, karena hanya dengan jalan itu kami bisa hidup.
Mitsubishi hengkang dari kebun kita dan memilih berinvestasi di Thailand, yang menyebabkan kami mampus. Berapa ribu karyawan yang kena PHK?. Tanpa dibunuhpun kami sudah tewas. Nah, beban dari yang berwajib berkurang dalam mengurus kami, setelah kami mundur dari dunia ramai. Alangkah mudahnya mengurangi derita. Barangkali sebentar lagi menyusul Honda, Hyundai, KIA, Toyota, Daihatsu, Suzuki, apa susahnya. Perusahaan besar datang dan pergi sesuka hati. Seperti datang dan perginya awan yang membentang di langit yang dapat diharapkan menjadi hujan.
Kami, rakyat miskin, memang sering bikin ulah yang menyebabkan para investor tidak tenang hidupnya. Yang berwajib tidak memperbaiki semua itu karena memang tidak mampu. Rasa aman, rasa tidak digerogoti, sudah sangat berat untuk ditanggulangi. Memang menyelenggarakan konferensi, kongres, muktamar, dan rapat-rapat jauh lebih memikat karena ringan, namun duitnya banyak, daripada menjaga para investor itu dari segala rongrongan.
Musim semi ekonomi Indonesia telah tiba, yang menikmati tentulah hanya para petinggi dan elite politik. Meski terdengar kata-kata mutiara: "Pesta yang buruk adalah pesta tanpa mengajak kaum miskin", tolong jangan ajak kami ke pesta, sebab itu cuma basa-basi yang sudah disobek dari lembar buku-buku pelajaran bagi orang-orang beriman. Orang-orang beriman sudah memiliki buku-buku baru yang lebih cocok.
Apalah arti musim semi ekonomi bagi rakyat miskin?. Semuanya itu cuma pembicaraan yang tidak mampu kami pahami. Yang kami butuhkan hanyalah yang serba konkret. Jika kami sakit beri kami obat. Jika lapar, beri kami makanan. Kalau sedih, hibur kami. Tapi, itu semua sudah tamat. Yang kami perlukan cuma eutanasia. Nah, kerjakan sekarang, mumpung penderitaan kami belum bertambah-tambah. Sekitar seratus delapan puluh juta jiwa bakal lenyap sekelebatan. Itulah pengertian yang selama ini kami yakini.
Kami tahu, beban berat tidak bisa dipikul terus menerus tanpa dipunggah dari pundak. Ayo, beristirahat. Kami berteduh di bawah pohon besar untuk melepas lelah dan peluh yang mengucur. Kami susun kembali karung-karung besar beban yang menggunung di sisi kami ketika kami lelap. Kami bermimipi sejenak: Mimpi tentang anak-anak yang kami lahirkan yang menempuh hidup di kemudian hari. Anak-anak ceras dan berbakti yang tetap saja digarong oleh masa depannya.
Andai kami bisa membentengi keturunan kami dari segala kerusuhan dan saling menerkam lewat mimpi kami ini. Ah, mimpi adalah godaan yang kami bangun sendiri dengan perih. Waktu jaga sudah kembali, haruskah kami terus bermimpi dan tak kembali lagi ke bumi. Alhamdullillah. Hidup hanya sepenggal catatan kusam yang tidak dibaca lagi. Kesanalah segala kesedihan berlabuh sampai kapal rusak dan tak mampu melaut lagi. Kami hanya rakyat miskin yang setiap saat dilupakan. Yang boleh dianggap tak pernah ada. Robeklah catatan dan kamipun lenyap.
Segala pasang surut APBN, harga minyak, dan para investor tak juga tertarik untuk mengadu untung di sini karena bahaya mengancam di setiap sudut kota, itu kesalahan kami, rakyat miskin, yang tidak memahami seluk-beluk citra dari segala penampilan. Kami sudah pasrah dengan segala tangan yang terikat ke belakang. Gusur kami, usir dan hardik. Penggal!, maka kepala kamipun menggelinding.
Kami, rakyat miskin, tinggal punya air mata darah. Seperti yang sudah diumumkan oleh Tsunami, Buyat, demam berdarah, flu burung, Polio, raskin, maupun tanah longsor dan banjir. Semua keterbukaan sudah tertutup bagi kami. Sampai disini riwayat kami. Jangan diperpanjang lagi derita yang hanya meninabobokan. Kami letih.
Konyol kami tak mampu melepaskan beban sendiri tanpa bantuan siapapun. Segalanya pernah ditulis. Segalanya pernah dikenang. Untung bagi kami yang kami hadapi hanyalah sisa-sisa kekuatan dari masa lampau yang sungguh tak sakti mencoba memberi nyawa kami. Yang papa, yang sengsara. Keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, meski bagaimanapun pernah kami cecap, sedikit. Selamat tinggal.
Posted by Cisca at 5:14 PM
Tuesday, October 4, 2005
S e n y u m
Mengapa para koruptor yang tertangkap dan diadili tampak tersenyum manis?. Kenapa?. Boleh jadi hanya para psikolog yang tahu persis, mampu mengorek rahasia senyum mereka. Namun demikian, bolehlah kita menduga-duga arti senyum manis para jawara penilap uang negara itu.
Kemungkinan para koruptor meyakini bahwa uang negara yang berada di bawah kekuasaannya adalah uangnya. Mereka meyakini bahwa gaji cupet hanya mengantar keluarga menuju jurang kehancuran, sehingga harus diburu upaya-upaya radikal untuk mengatasinya. Mereka meyakini bahwa kedudukannya sebagai pejabat merupakan berkah yang memberi peluang untuk memperkaya diri sendiri, sementara negara tidak mungkin mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya. Mereka meyakini bahwa setiap orang adalah koruptor, sehingga apa salahnya untuk tidak berbeda dengan sesamanya. Mereka meyakini bahwa bagi Indonesia sudah tidak ada harapan lagi melewati krisis dasamuka di negeri ini, sehingga setiap pejabat harus cukup bijaksana untuk mengambil tindakan-tindakan seperlunya untuk memperlambat kehancuran itu dengan menggerogotinya perlahan-lahan, supaya tidak sakit-sakit amat sekaratnya.
Ya, di Indonesia, hanya orang gila tidak korupsi. Jadi, setiap orang jadi tertuduh korupsi. Jika setiap orang jadi tertuduh koruptor, betapa sehatnya orang Indonesia. Hanya orang-orang sehat yang mampu korupsi. Jika seseorang sakit-sakitan, korupsinya tidak meyakinkan sehingga tidak pantas mendapat sebutan koruptor.
Lebih-lebih lagi, segala tindakan para koruptor mengatasnamakan dan demi kejayaan bangsa dan negara. Dus, tak akan ada penghalang lagi dalam melaksanakan cita-cita itu. Untuk bangsa dan negara, segala daya harus habis-habisan disumbangkan. Jika tidak, sungguh tak pantas disebut koruptor. Begitulah, setiap koruptor berlomba untuk berjasa bagi bangsa dan negara. Dengan demikian, mereka harus tampak tersenyum manis supaya memikat segenap rakyat.
Senyum Abdullah Puteh, gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, tampak pipinya terangkat montok dan manis sekali, jauh lebih manis daripada senyum yang ia berikan kepada istrinya. Senyum itu begitu telak menonjok kita hingga kita terkapar, masih juga ia menambah celetukan "Emangnya gue kagak tau kalo korupsi loe lebih gede!". Memang, kita harus mengakui bahwa korupsi kita jauh lebih gede ratusan kali daripada dia yang cuma tiga milyar rupiah lebih sedikit. Senyum yang sinis dan begitu tampak bijaksana tak membawa-bawa nama kita secuilpun. Bahkan, ia sudah bersumpah di bawah kitab suci Al Quran (yang kita tentu takut melakukannya) bahwa ia tidak bersalah dan sama sekali tidak melakukan tindakan korupsi.
Dalam senyum sehari-harinya ketika masih memegang jabatannya, ia tidak segitu manisnye. Khusus dalam peristiwa yang bersejarah itu, ia telah memberikan senyumnya begitu syahdu sehingga kita bagaikan mengalami pencerahan. Rasanya, jika kita tak mampu mengendalikan diri, kita akan serempak berteriak menyambutnya, " Korupsi kami jauh lebih gila!"
Senyum Mulyana W. Kusumah yang merebak ketika ia diseret oleh petugas, meski tampak lelah dan kuyu, namun begitu penuh pengertian atas segala sesuatu yang penuh rahasia itu. Ia yang paling muda dan bersedia menjadi martir, tentu hal yang itu merupakan sikap hidup yang penuh keteladanan. Ia mahfum, bahwa jika uang yang amblas sekitar 90 milyar rupiah, bagaimana mungkin seseorang yang bisa menyelamatkan seluruh jajarannya cuma minta 150 juta rupiah. Kan mustahil.
Apakah kita punya keberanian untuk menjadi martir, menjebakkan diri di sarang macan dengan resiko yang begitu besar. Karir dan keluarga hancur demi kebenaran. Dibanding Puteh dan Mulyana, kita cuma macan kertas. Secara mental dan tingkah laku, kita ini tak lebih dari jiwa budak mental kere, dan hal itu tampak begitu jelas bagai siang bolong dalam senyum Puteh yang penuh pelecehan terhadap jiwa kita. Betapa lemahnya kita!.
Sementara itu, tataplah senyum sepuluh orang bekas anggota DPRD Solo (1999-2004) yang dikerangkeng dalam kasus Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2003. Senyum mereka penuh kebanggaan diri. Senyum mereka yang menohok dada kita dengan penuh kesadaran diri. Kesepuluh orang itu tampak tersenyum ngobrol santai di balik kerangkeng yang bersih, yang bukan tidak mungkin memaki-maki kita dengan: "Bangkai kalian!".
Sungguh, betapa kerdil kita dalam mengikuti gerak hidup yang rutin, miskin dan menyedihkan. Kita membiarkan tubuh dan jiwa terseok-seok tanpa mampu membela dan meningkatkan diri untuk sekedar hidup pantas di tengah kemewahan yang melangit. Menapaki zaman gila, zaman bangsat, dimana kejujuran jadi tinja yang menempel di aspal jalanan sehingga banyak orang kecipratan sampai belepotan dan bau itu dibawa kemana-mana. Bau busuk yang tanpa kita sadari mencoba menjunjung hidup secara adil dan manusiawi, yang hasilnya cuma menggelikan di mata para paksasa yang memamah biak batang-batang kayu gelondongan.
Dan senyum kita, sungguh senyum yang tidak dibuat-buat, meski menjengkelkan karena tampak begitu tolol. Begitu tolol di hadapan para penguasa dan pejabat yang sangat lihai memainkan perannya dalam memanipulasi nilai-nilai yang kita agungkan sebagai penjelmaan ilahiah.
Masih banyak ragam senyum dari sejumlah senyum yang belum tampak di dalam layar monitor. Masih harus menunggu berapa lama lagi. Senyum para raksasa yang gigi-giginya sebesar gajah, tentu senyum yang sangat berbahaya bagi keselamatan hidup kita, bangsa dan negara. Kita, rakyat kecil yang ketakutan bisanya cuma menangis. Namun, tangis rakyat kecil adalah tangis kesejatian. Tangis kesejatian yang tak mungkin dimiliki para raksasa yang sudah terlanjur kepentok jalan buntu.
Posted by Cisca at 4:32 PM
Friday, September 30, 2005
Diktator Kecil
Rakyat yang kelaparan adalah ayat-ayat Allah yang menenggelamkan kita ke dalam samudra kegelapan sehingga kita seperti orang yang hilang kesadaran. Tak mampu bernafas, tak mampu berenang, kita dibelit arus yang kuat menyeret kita ke dasar dari segala lumpur. Semua kemampuan kita untuk tegak berdiri telah runtuh oleh ketidak jujuran kita. Beban tanggung jawab yang keras mengira kita mampu memikulnya, tidak dan tidak. Itu semua di luar kekuasaan kita.
Tersebar di lembaran-lembaran kitab suci, yang tak bisa kita tafsir seratus persen karena lebih pelik daripada telaga yang paling pelik. Namun, alhamdulillah, kita punya kekuasaan yang dengan stempel kediktatoran untuk mendesakkan kemauan kita. Semua wajib mengikuti kita.
Kita adalah diktator kecil dengan kekuasaan besar, karena mampu menilap uang rakyat yang sedang sekarat. Apalah arti Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Nias, maupun sembilan gunung yang siap meletus, yang seluruhnya berada di bawah kekuasaan kita. Kita adalah kekuasaan yang bisa bikin puyeng murid, orangtua murid, guru dan rakyat papa lainnya yang kandas sekolahnya. Kita adalah diktator kecil di masing-masing meja kecil kita, namun daya rusaknya persis kapal perusak. Setiap keluarga bisa kita hancurkan dengan sewenang-wenang. Seluruhnya memakai ukuran-ukuran kita sendiri, sebagai keperkasaan hukum, yang tidak pernah lengah memantau seluruh situasi.
Seluruh peta telah kita kuasai. Seluruh tambang sudah kita gali. Seluruh padang dari segala kawasan sudah terperangkap dalam pemantauan kita. Ya, kita adalah gurita!. Mbahnya segala gurita adalah kita, diktator kecil yang rakus, yang memamah biak, yang terus menelan apa saja yang masuk mulut. Tidak ada sesuatupun yang mampu mengenyangkan kita.
Biar kecil tapi diktator, itulah segalanya. Kita barangkali cuma pesuruh kantor, tukang ngumpulin berkas-berkas atau satpam. Tapi jangan salah, kita bisa gertak seorang professor doktor hingga keder dan menuruti perintah kita karena kedudukan kita di pusat pemerintahan. Diktator kecil bisa mengubah demokrasi menjadi premanisme karena cara kita memberi wawasan, taktik atau cercaan untuk berkelit dari kebohongan menjadi kebenaran. Semua dosen di seluruh negeri tunduk dan patuh. Jika membangkang, kita sikat. Kita bisa menaikkan gaji kita sampai 400% dan tidak perduli terhadap protes dan pemogokan dosen yang lain.
Rakyat yang menangis adalah ayat-ayat Allah yang berdemonstrasi menuntut keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, menggerogoti jalan raya, bergentayangan di bus-bus kota. Kita tahu kebutuhan sudah menjadi hak rakyat, tapi diktator kecil tak mau tahu. Rakyat yang menjerit, yang sudah tak mampu menyekolahkan anaknya meski di kelas-kelas miskin sekalipun, minta tidak dibeda-bedakan antara kelas mewah dan kelas kere. Diktator kecil harus tetap membedakan karena karena hasil sabetan yang berbeda. Begitu juga dukungan diktator kecil atas universitas yang mata duitan. Protes para mahasiswa dianggap suatu bentuk yang tidak paham cara pengelolaan universitas yang membutuhkan biaya mahal. Tobatnya para dosen sudah menyundul langit, harus cari biaya sendiri untuk memajukan dan memelihara universitas karena ongkos untuk semua itu sudah digondol sang diktator.
Diktator kecil tidak perduli di tengah bobroknya dunia pendidikan, masih mampu menelurkan para jagoan fisika. Para jawara kecil itu mengharumkan nama bangsa dan dunia pendidikan, ketika rakyat dimana saja makan apa saja yang bisa masuk mulut.
Rakyat yang mengais-ngais apa saja yang bisa dimakan adalah ayat-ayat Allah yang merongrong hati kita siang malam untuk memahami kebutuhan dan hak yang saat ini sudah semakin hilang dari ingatan kita. Kita tidak tahu lagi dimana adanya kebutuhan dan dimana adanya hak itu. Jati diri kita sudah musnah dimakan birokrasi. Para birokrat, dimanapun berkutat, tidak mengenal lagi reformasi karena reformasi sudah dilipat-lipat. Kita semua sudah lupa bahwa gerakan reformasi pernah digulirkan.
Rakyat yang menaruh harapan besar kepada reformasi, tinggal gigit jari karena yang muncul justru para diktator kecil. Para diktator kecil ini mengerikan karena kelihatan tidak berkuasa, tetapi ternyata sangat menindas.
Diktator kecil menguasai seluruh sektor. Sektor reformasi maupun sektor konservatif. Mereka menyelinap di pemerintahan, lembaga, departemen, partai, LSM, maupun bermain independen. Sebagai free lancer, diktator kecil mendukung semua elemen yang bertikai dan berperan sebagai penengah, kelihatannya. Padahal ia sebenarnya pengobar kerusuhan. Dalam huru-hara, ia memperoleh keuntungan lebih besar dari kedua elemen yang saling bermusuhan itu. Konyolnya, kedua kelompok yang bertengkar itu percaya kepadanya dan menyerahkan urusannya.
Dalam "dunia nafkah" yang rakyat hidupi sepanjang hari, rakyat punya etika profesi. Rakyat tidak mencaplok nafkah orang lain, karena jika hal itu dilakukan, rakyat tidak tahu sopan santun. Rakyat juga memegang tanggungjawab moral untuk tidak melakukan hal-hal yang terlarang karena di atas itu bercokol moral yang dijunjung tinggi. Sementara itu, rakyat juga punya tanggung jawab sosial yang mematuhi aturan dan hukum yang berlangsung di dalam masyarakat.
Diktator kecil tidak perlu mematuhi etika profesional, tanggungjawab moral maupun sosial. Yang penting bagi diktator kecil adalah serang, terjang. Meradang, urusan nanti belakangan. Tak perduli sakit dan sedih. Tetap sabar, senyum tetap mengulum. Diktator kecil yang berkuasa atas segala hal yang terungkap dan tersembunyi. Diktator kecil sudah mengatur siapa yang harus benar dan siapa yang harus berperan sebagai yang salah. Semua pendukungnya berteriak: "Hidup diktator kecil !".
Posted by Cisca at 6:29 PM
Thursday, September 15, 2005
Skala Prioritas

Dalam skala prioritas berbeda, tidak akan pernah terjadi kata sepakat kalau kompromi makin lama makin dituding sebagai rekayasa yang tidak demokratis. Maka ditempuhlah jalan voting dengan berbagai cara hingga keluar pemenang. Tetapi setelah ada yang menang, yang lain merasa dirinya kalah. Sampai disitu semuanya tampak normal. Tetapi posisi kemenangan sudah berlabel kemuliaan sehingga menimbulkan keirian.
Kekalahanpun menjadi keaiban yang berakhir sebagai rasa hina sehingga lahir dendam. Fungsi oposisi tak akan pernah menjadi proses bersparing partner, tetapi usaha penggulingan. Disitu perbedaan menjadi pertentangan, perseteruan dan akhirnya permusuhan.
Apakah itu sebuah penggambaran yang salah?. Tidak mungkinkah kita sudah terlanjur menempuh jalan yang salah karena ingin memestakan kebebasan?.
Kita pikir dengan memakai baju demokrasi segala keberuntungan yang kini menjadi atribut negara-negara maju, otomatis akan berjatuhan dari langit tanpa perlu upaya apa-apa lagi. Lalu kita tinggal menunggu untuk memungut hasilnya sebagai durian runtuh.
Siapa yang mau mengaku terus terang bahwa sekarang ini dirinya masih sedang belajar mempraktekkan demokrasi?. Semua cenderung mengatakan mereka sedang menjalankan demokrasi, meskipun kita selalu mengakui era ini adalah era pembelajaran. Dan yang sangat penting, kita lupa bahwa sebelum bisa "memakai" demokrasi, kita harus sepakat dulu tentang maknanya.
Itulah konsekuensi mimpi besar kita yang memfatwakan bahwa yang kita perlukan hanya sebuah sistem yang tepat, rapi dan berjalan mulus. Sungguh mengherankan mengapa kita bisa begitu saja percaya bahwa sistem bisa hidup otomatis tanpa sentuhan manusia. Komputer yang paling canggih sekalipun memerlukan operator. Bagaimana sistem itu akan berjalan kalau tidak digerakkan oleh manusia-manusia yang terlatih ? . Bahkan, bilamana dia sudah bergerak dengan sendirinya sebagai mekanisme yang otomatispun, masih harus terus diawasi citra manusia agar bisa "hidup" laras. Artinya, disamping canggih, sistem tetap mampu menjawab seluruh fenomena baru yang tiba-tiba mencuat.
Adanya sistem yang sudah berjalan dengan sendirinya karena dominasi individu yang sewenang-wenang ( karena dikultuskan sebagai pemimpin ), tidak akan terjadi lagi. Tapi tampaknya tak ada "pahlawan" yang akan sudi membiarkan manusia hanya berperan sebagai robot-robot dan sistem menjadi berhala. Cepat atau lambat mereka akan terusik. Dengan bahasa yang lebih cantik " terpanggil dan menamakan tindakannya sebagai kebangkitan manusiawi".
Kita tidak akan bisa selamanya bicara tentang sistem hanya sebagai sistem. Di belakang sistem itu ada chip pemikiran yang berasal dari manusia. Yang pada batas tertentu harus dikembangkan dan ditingkatkan, karena kalau tidak bisa kadaluarsa. Atau pada batas tertentu minta pengakuan, karena ia memang sudah memberikan pengorbanan dan jasa. Bagaimanapun hebatnya masa lalu, setiap zaman tetap memiliki kehendak yang harus dikejar oleh manusia-manusia penghuninya, yang nasibnya selalu " ketinggalan kereta ".
Terlalu salahkah kita kalau dikatakan sejujurnya---kendati pikiran kita ingin menolak--- bahwa kita kini memerlukan kehadiran "orang kuat" yang memiliki kharisma dan membuat kita semua patuh kepada hukum agar keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, pemerataan dalam segala hal terjadi ?. Tetapi mulainya bukan karena semata-mata didorong oleh hasrat nurani sendiri.
Agar para saudagar kelas kelontong maupun kelas kakap tidak seenaknya memainkan kelihaiannya, menjerat keuntungan dan sukses dengan dalih berbakti kepada negara. Ada etika kemanusiaan yang membatasi seluruh cabang profesi sehingga tak hanya hirau pada kesejahteraannya sendiri, tetapi kepada kelayakan setiap individu, sesuai dengan sila keadilan sosial dalam dasar negara.
Terlalu konyol kan kalau kita berkoar bahwa kini kita merindukan sebuah rezim yang begitu kuatnya sehingga hukum tegak dengan penuh wibawa?. Itu berarti bukan sistem, tetapi manusia pelakunya yang menjadi skala prioritas. Anda pasti berkata, tidak. Para intelektual pasti dengan tak ragu-ragu lebih menobatkan "sistem" sebagai Ratu Adil di dalam ramalan Joyoboyo. Bahkan, SBY semasa kampanye, ketika ditanya wartawan tentang satria "piningit", beliau mengatakan itu bukan orang, namun sistem. Dan kita memang sedang melaksanakan itu. Maka kita tendang sistem desentralisasi yang kita anggap biang kerok segala kebrengsekan masa lalu, lalu memuja dan memestakan otonomi daerah. Namun belum benar-benar terlaksana, sudah timbul seabrek masalah, karena itu melahirkan raja-raja yang bandel di daerah.
Skala prioritas kita memang pada dasarnya berbeda. Jadi, bukan hanya dalam hal adat istiadat, bahasa, keyakinan, kita memang tak sama, seperti yang diungkap dalam Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga dalam pemahaman tentang hal-hal yang aktualpun, kesimpulan kita lain-lain. Ada yang tidak mau menerima realita bahwa kualitas manusia kita tidak sepadan dengan negara kita yang besar dan luas dengan segunung permasalahan tertunda, sehingga kontan menuding kegagalan kita selama ini karena sistem yang salah. Pelaksanaan yang tidak bereskah, prosesnya yang menyalahi prosedurkah, dan sebagainya. Yang dinobatkan kemudian menjadi prioritas adalah sebuah sistem yang canggih, lebih tepat, lebih pas. Undang-undang Dasar 1945 misalnya, yang awalnya dipuji karena supel dan fleksibel, sekarang dicerca habis karena tidak lengkap. Tapi untuk membuat yang baru, kitapun tak kuasa. Bukannya tidak mampu, tetapi setiap berunding selalu ada skala prioritas yang berbeda sehingga tak pernah ada kata sepakat.
Ada juga yang melihat kunci dari semuanya adalah kaliber manusianya. Semua yang sedang pegang kekuasaan sekarang dalam pemerintahan maupun swasta berasal dari sebuah masa lampau.
Pemimpin Indonesia di masa depan, mungkin sekarang masih sekolah di TK atau masih dalam kandungan. Mereka mestinya diberikan dunia lain dengan memberikannya pendidikan baru. Paling sedikit agar tabu mengopi yang dilakukan oleh orangtuanya.
Pendidikan tak lagi hanya memfokus pada pendidikan formal sekolah, sebagaimana yang semakin menajam sekarang. Tetapi pendidikan total, baik dari orangtua, lingkungan, serta pendidikan moral. Banyak hal mesti dirembuk kembali, antara lain untuk memberi arti yang baru pada kompomi.
Banyak orang sudah bicara sinis tentang Pancasila, khususnya karena Pancasila sudah dipakai sebagai senjata untuk menggebuk. Namun, sampai sekarang Pancasila masih tetap merupakan dasar negara. Satu di antara sila-silanya menyebutkan tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Itu adalah esensi dari kompromi dan sekaligus demokrasi.
Skala prioritas mungkin akan selamanya berbeda, tetapi tidak harus dibungkam dengan voting. Juga tidak dibunuh dengan "kompromi", namun diberikan ruang gerak dan pengertian tentang tenggangrasa. Bahwa kepentingan bersama bukan diurus lebih dahulu, tetapi memang tempatnya tidak bisa di belakang. Tidak mungkin dikemudiankan.
Dan itu akan sangat mudah dicapai bila mayoritas alias suara terbanyak menghormati minoritas. Sesuatu yang kini sering dimaknakan tak ada dalam demokrasi, karena yang lebih banyaklah yang menang dan berkuasa. Walhasil, sebenarnya skala prioritas tak berbeda, yang ada adalah beberapa pengertian yang sudah menyimpang secara mendasar sebagai akibat erosi budaya yang dibiarkan saja.
Posted by Cisca at 4:14 PM
Monday, September 12, 2005
Yang Terbuang

Saya baca lagi perasaan hati seorang pelajar yang puluhan tahun lalu adalah salah satu mantan penerima beasiswa dari negara Indonesia untuk melanjutkan kuliahnya di negara sosialis. Sayangnya, karena ia dianggap terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia, mahasiswa itu dicabut paspornya secara semena-mena oleh pemerintah Indonesia. Ia terpaksa mengambil kewarganegaraan lain agar bisa pulang ( meski hanya sebagai turis ) sekedar menengok keluarganya di Indonesia, dengan jatah waktu berkunjung selama 60 hari.
Selama puluhan tahun tinggal di luar negeri, silaturahmi dengan sesama orang-orang terbuang dari negeri sendiri sering dilakukannya untuk membentuk tali kekeluargaan sekaligus melipur kerinduan pada keluarga di tanah air. Kadang mereka kumpul-kumpul di KBRI sebagai sarana menjaga identitas sebagai orang Indonesia. Jika bertemu dengan teman-teman dari Indonesia, mereka sangat antusias menyambutnya, layaknya sanak famili yang lama tak bersua.
Meskipun sekarang mereka telah pensiun, bahkan ada yang telah bermenantukan perempuan Indonesia yang juga ikut menetap di sana, (dan menantu perempuannya inilah yang kerapkali memasakkan masakan soto Indonesia ala negeri itu ketika timbul kerinduan pada rasa masakan kampung sendiri), namun mereka belum juga boleh menetap kembali di Indonesia.
Kini, di tengah kebahagiaan, kepedihan, dan kerinduan di negeri orang,-- sehubungan dengan adanya berita pemberian amnesti presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada anggota Gerakan Aceh Merdeka, juga pemberian izin kepada tokoh-tokoh Gerakan Aceh Merdeka yang berada di luar negeri untuk boleh kembali ke Indonesia--, mereka seolah menemukan wacana baru. Akankah kiranya pak SBY memberikan hati dan pikiran untuk memikirkan nasib mereka?.
Di usia senja mereka, mereka sangat mengharapkan bisa pulang ke kampung halaman, berkumpul seterusnya dengan keluarga dan kembali menetap di Indonesia.
Posted by Cisca at 6:09 PM
Thursday, September 8, 2005
Ibadah Sosial
Dua sisi dari sekeping mata uang di Indonesia adalah kelaparan rakyat dan kemewahan pejabat. Itulah nasib yang digaruk dari gatal sejarah jika sebuah negara tidak memiliki negarawan.
Banyak cendekiawan dilahirkan di negeri ini, namun untuk mencapai taraf negarawan agaknya tidak cukup hanya dengan sebuah negara yang rangkaian gugus pulaunya telah diguncang gempa dan tsunami yang sangat besar kerugiannya itu. Seorang negarawan harus dilahirkan. Tidak bisa dicetak, bahkan dalam kelas yang paling cantik sekalipun seperti STPDN.
Apalah gunanya kitab suci dan para malaikat jika kita lebih suka duduk-duduk sambil ngobrol tentang ayat-ayat suci yang tipis kemungkinannya dapat mengais berkah dari masyarakat yang isinya berantem melulu. Kita ini memang paling bersemangat kalau disuruh berantem. Bisa berantem di parlemen, di jalan tol, berantem rebutan lahan, berantem berebut rezeki, berantem di daerah konflik, berantem di tempat bencana, berantem rebutan tender, berantem di KPU, ataupun di istana.
Apa saja bisa menimbulkan perkelahian. Bangsa filosof seperti Indonesia ini memang ujung-ujungnya selalu mengemukakan filsafat, pandangan hidup, sikap dan sejenisnya justru pada saat seharusnya menganalisis masalah yang sebenarnya sangat rasional dan bercokol pada masalah realitas sosial. Masyarakat filosof tentunya tidak pandai berdagang, tidak pandai mengurus negara, karena tugasnya memang hanya berfilsafat. Jika pandangan kita tentang kebenaran menjadi tersinggung, kita lantas berantem.
Apa lagi yang bisa perbuat ?. Atau kita ucapkan Alhamdulillah saja atas apapun hasil yang kita peroleh ?. Yah, alhamdulillah, kita masih bisa berantem.
Dewasa ini umat Islam malah dijangkiti penyakit yang jauh lebih mengerikan yang sudah kronis: berantem sesama muslim. Kalau yang satu merasa paling jago daripada gerombolan lain dan yang merasa paling jago ini meneropong kepada yang dianggapnya musuh itu, lantas di dalam benaknya menyimpulkan kalau gerombolan itu bukan Islam, langsung saja gebuk!. Padahal kelompok yang dianggapnya bukan Islam itu itu rajin shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, membayar zakat, membaca Al'Quran, membayar hewan kurban ketika Idul Adha, selalu shalat Jumat, bahkan sudah haji dan umroh.
Apa yang salah dengan semua ini ?. Bisakah kita menyalahkan diri sendiri yang kerjanya hanya mengelus-elus ayat suci dan tidak mempraktekkannya?. Masih tebal dalam anggapan kita bahwa pekerjaan ngaji lebih suci daripada pekerjaan lainnya. Ngaji memang oke, tetapi mempraktekkannya ke dalam kehidupan bermasyarakat, jauh lebih oke lagi.
Menurut nabi Muhammad rasulullah saw, ada 3 hal yang menjadi musuh Islam. Yaitu : kemiskinan, kebodohan dan penyakit. Fokus perhatiannya adalah pada penderitaan umat Islam yang dilanda kebodohan dan kemiskinan dimana-mana. Juga pada keterbelakangan yang menggelayuti sepanjang hayat, serta penyakit yang semakin menggila menggerogoti para keluarga muslim karena ketidakberdayaan atas mahalnya obat dan tidak terjangkaunya biaya rumah sakit. Semua yang dinyatakan oleh Rasulullah itu pada dasarnya lahir dari tidak adanya keadilan dalam masyarakat. Elite politik yang berkuasa hingga habis masa berkuasanya juga tidak mampu memberikan keadilan itu pada rakyatnya. Karena memang fokus perhatiannya tidak disitu. Dibiarkannya saja rakyat terus sengsara, karena disitulah nikmatnya kekuasaan. Para pembesar yang berkuasa tidak mungkin memberikan sedikit saja sedikit kenikmatan kekuasaannya kepada rakyat jika rakyat tidak menyembah dulu.
Itulah hukum kekuasaan. Kesalahan rakyat adalah karena rakyat adalah rakyat. Maka rakyat harus bisa naik menjadi elite politik yang berkuasa. Darisitu nanti baru bisa memberikan keadilan kepada sesamanya yang dulu senasib sependeritaan.
Lihatlah sifat aneh dari yang bernama kekuasaan itu: ketika Indonesia masih dilanda kesengsaraan karena gempa dan tsunami, eh koq ya tega-teganya menyelenggarakan dua konferensi sekaligus. KTT Asia Afrika dan Konferensi Umat Islam Indonesia. Juga pembelian rumah di Swiss seharga 70 milyar rupiah, yang jika ditotal seluruh biayanya bisa menghabiskan seratus tiga puluh milyar rupiah. Opo ra' hebat !. Koq ya ndak sungkan dengan para donatur. Kan bisa saja nanti dikiranya..oh, jadi selama ini dana bantuan itu untuk pembiayaan gengsi-gengsian tho ?!. Koq ya ndak rikuh sama yang ngasih bantuan.
Jawabnya: tentu saja, kita ini bangsa filosof koq. Kita bisa mencari jawab untuk segala tingkah laku kita itu di dalam filsafat. Sementara, penderitaan saudara-saudara kita terlalu banyak yang tidak bisa dijawab dengan filsafat. Misalnya saudara kita yang dilanda bencana gempa di pulau Nias. Bantuan yang datang ke sana tidak cukup pantas untuk membangun kembali kehidupan mereka selayaknya.
Rasanya para ulama harus menggulung lengan untuk memimpin ibadah sosial umatnya dalam meneladani Rasulullah, jika tidak mau umat menemui jalan buntu...
Posted by Cisca at 6:07 PM
