
Di dunia ini hanya ada satu bandara udara yang berani menghentikan segala kegiatan penerbangan selama satu hari penuh dengan alasan keagamaan, yaitu: Ngurah Rai - Bali, Indonesia. Benar, lusa 30 Maret 2006 ( Saka 1928 ) anda jangan ke Bali kalau mau jalan-jalan atau menikmati obyek wisata, karena mulai pagi hingga paginya lagi orang Bali menghentikan seluruh kegiatan rutinnya. Selama satu hari itulah yang disebut Nyepi. Saat itu di Bali tidak ada kegiatan kecuali merenungi dan merefleksi diri untuk menyambut kehidupan di kemudian hari. Mereka berpantang diri dari empat aktivitas rutin, yaitu : menyalakan api, bekerja , bepergian dan menikmati hiburan.


Makna yang paling cepat dapat ditangkap dari pelaksanaan nyepi adalah memberikan kesempatan kepada alam untuk beristirahat secara total selama 24 jam. Selama sehari dalam setahun, jalan-jalan di Denpasar ataupun Kuta yang biasanya akrab dengan kemacetan, diberi kesempatan untuk kosong secara total, bebas dari gas emisi yang polutis dari berbagai jenis kendaraan bermotor.
Nyepi merupakan momentum bagi manusia untuk melakukan refleksi terhadap perbuatannya di masa lalu, masa kini dan merenungkan masa depan. Atita, Wartamana dan Anegata ( masa lalu, masa kini dan masa depan ). Ketiganya berkaitan dalam konteks sebab akibat. Kebaikan perilaku di masa lalu dan di masa kini akan melahirkan pula kebaikan di masa datang. Demikian sebaliknya, bencana di masa kini adalah akibat kerakusan di masa lalu. ( Semoga bencana alam yang kemarin datang bertubi-tubi melanda negeri ini dapat menyadarkan kita untuk kembali ke jalan Tuhan ).
Bagi umat Hindu, Nyepi ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan Srada ( keyakinan / keimanan ) kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Selain mengajak manusia kembali dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan, momentum Nyepi juga mengajarkan umat Hindu untuk tidak henti-hentinya mengakui kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Kalau dilihat rangkaian acara tahun baru Saka, hari Nyepi hanyalah puncak yang lebih bersifat antiklimaks dari serangkaian proses ritualistik. Sebelum sampai pada puncak sepi, umat Hindu di bali melakukan ritual meriah yang disebut Melasti ( atau Makiyis ), sekitar 3 -4 hari sebelumnya. Mereka pergi ke pantai dan sumber air lainnya ( danau, pertemuan dua sungai, mata air suci, dsb ) dengan tujuan membersihkan benda-benda sakral yang dimiliki oleh desa ataupun kelompok warga ( klen ). Prosesi yang melibatkan ribuan umat itu dilakukan dengan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, pulang pergi, sambil mengusung benda sakral.
Sehari sebelum hari Nyepi, setiap desa mengadakan upacara bersih desa secara serempak dan bertingkat, mulai dari tingkat propinsi ( pada pagi hari ) dilanjutkan dengan tingkat kabupaten, sampai akhirnya desa dan kampung, yang dilaksanakan pada sore menjelang malam.
Dalam upacara bersih desa yang disebut Tawur Kesanga ini dilaksanakan arak-arakan berbagai efigi makhluk jahat ( setan, jin, butakala / raksasa, dsb ), yang disebut dengan Ogoh-ogoh ( berupa patung yang umumnya dibuat dari kertas seperti ondel-ondel ). Setiap desa paling tidak membuat sebuah ogoh-ogoh, tetapi karena umumnya setiap kelompok kecil juga membuat ogoh-ogoh, maka jumlah ogoh-ogoh pada setiap desa bisa mencapai puluhan. Setelah diarak berkeliling desa, ogoh-ogoh yang dibuat dengan biaya jutaan rupiah itu selanjutnya dibakar, sebagai representasi pemusnahan / pengusiran makhluk jahat.
Klimaks yang aneh ini juga bisa dilihat dalam berbagai bentuk kesenian pertunjukkan, misalnya pada tarian Barong yang diakhiri dengan usaha untuk menusuk diri sendiri.
Yang juga tidak kalah pentingnya untuk saat ini, hari Nyepi merupakan promosi luar biasa bagi pariwisata Bali, sebuah industri yang bersandar kepada citra ( imej ) keaslian dan keunikan. Cukup banyak wisatawan mancanegara yang sengaja memilih waktu untuk telah tiba di Bali sebelum hari Nyepi, agar mereka bisa secara langsung melihat keunikan dan keaslian budaya Bali dengan klimaks dan antiklimaksnya yang juga unik. Biasanya mereka adalah wisatawan religius yang ingin berwisata meditasi.
Nyepi memberikan keheningan pikiran, kestabilan emosi, dan kedalaman spiritual sehingga umat manusia bisa mengendalikan tindakannya. Mengeksploitasi potensi alam dan budaya untuk semata-mata kepentingan material dan hedonisme harus dicegah. Pantangan Nyepi mengajarkan manusia untuk tidak mengumbar hawa nafsu. Pantangan untuk menyalakan api, tidak secara literal harus diartikan mematikan api alias tidak memasak atau merokok, tetapi memadamkan pijaran nafsu yang menguasai diri, baik nafsu untuk berkuasa, menipu, menjerumuskan apalagi menghancurkan dan menginjak-injak harga diri orang lain.
Perayaan Nyepi di Bali memang bersifat lokal dengan sedikit kegiatan serupa di beberapa tempat, dimana terdapat sejumlah signifikan umat hindu dalam satu kawasan. Namun keberhasilan masyarakat Bali untuk menggaungkan perayaan ini ke berbagai penjuru dunia misalnya lewat penghentian penerbangan dari dan ke Bali membuat pesan pantangan hidup ( catur brata penyepian ), diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada masyarakat dunia terutama bagi mereka yang ingin dengan sungguh-sungguh berhenti sejenak untuk menambang keheningan dalam sepi.
Sunyi senyapnya Bali pada hari raya Nyepi mungkin bisa memancarkan ilham pada dunia untuk mengambil langkah-langkah terbaik dalam menyelamatkan alam dengan melakukan penghematan energi dan pengekangan hawa nafsu. Pantangan tidak bepergian sehari, tidak menikmati hiburan seharian, tidak menyalakan api seharian, dan tidak bekerja seharian mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk merenung sejenak tentang arti dari bekerja, menikmati hiburan, melakukan perjalanan, dan kegelapan dalam kehidupan yang penuh misteri ini.
Tuesday, March 28, 2006
I s t i r a h a t
Posted by Cisca at 10:28 PM
Friday, March 10, 2006
M a s i h
Kelaparan telah melalap sebagian rakyat warga Serang, Cirebon, Bandung dan Brebes. Mereka mulai makan nasi aking, nasi sisa yang sudah beberapa hari kemudian ditanak lagi. Nasi aking ini dikumpulkan berhari-hari yang nempel di bakul bambu. Karena sudah berumur, nasi aking bukan tidak mungkin digrogoti bateri. Ada saja penduduk yang jatuh sakit sehabis makan nasi aking itu, perut mulas juga diare.
Sekitar sepuluh keluarga yang kelaparan itu mendorong kita untuk mimpi di siang bolong. Tidak terbayangkan oleh kita, musnah kebutuhan dasar mereka. Bagaikan ayam mati di tumpukan beras. Subhanallah...
Kota terdekat dengan Jakarta tempat tinggal saya, di Serang misalnya. Kota Serang adalah ibukota propinsi Banten, lumbung padi yang tak boleh dikata tak pernah tidak subur makmur. Sama masyhurnya dengan kabupaten Karawang. Roda ekonomi yang berputar deras menggambarkan aktivitas perdagangan yang laju di Serang, memanggil-manggil para pengusaha yang lalu lalang di Jakarta-Lampung untuk transit di Serang.
Penduduk yang kelaparan itu bukan disebabkan oleh tidak adanya beras di kampung mereka atau sifat malas sehingga mereka tidak mau mencari nafkah, melainkan tidak tertanganinya hak-hak dasar mereka oleh pemerintah.
Padahal secara geografis, tempat tinggal mereka mudah terjangkau oleh aparat pemerintah dengan program-programnya bagi pengentasan kemiskinan. Mereka tidak pula terisolasi secara politis. Satu-satunya kelemahan mereka barangkali karena mereka tidak pernah mengeluh disebabkan oleh kemiskinan mereka. Juga mereka tidak pernah minta-minta kepada pemda untuk diperhatikan. Penduduk yang kelaparan yang memiliki KTP ini tentu tidak bisa berdalih atau terlalu lemah untuk berdemonstrasi. Sebaliknya hati mereka begitu murni sehingga mampu membersihkan hati kita yang belepotan ini. Subhanallah...
Selain diakibatkan bencana banjir ketika musim penghujan kemarin, harga gabah di Karawang juga merosot. Alasan tengkulak beras tidak lagi mampu mengulak secara memadai karena biaya transportasi naik berlipat. Di satu pihak, petani yang sudah jatuh itu, tertimpa tangga pula. Harga pupuk yang lebih mahal daripada harga gabah menyebabkan hidup para petani kita semakin mengenaskan. Subhanallah...
Rakyat miskin yang semakin dimiskinkan, yang jumlahnya bertambah banyak, didera kelaparan, penderitaan, dihantam bencana yang susul menyusul, rasanya malapataka itu tak tertanggungkan lagi. Miskin dan ditimpa bencana alam. Apalagi yang bisa dipertahankan dari harkat yang sudah compang-camping ini?. Rakyat miskin bisanya cuma menangis, menangis dan menangis. Sementara rawan pangan dan kelaparan di Papua yang belum teratasi, seakan-akan menunjukkan bahwa tidak ada lagi hiburan lain bagi rakyat miskin di seluruh pelosok tanah air kecuali menangis. Kemana nasib ini diadukan? Kepada Tuhan?. Rakyat miskin tidak tahu cara mengadu dengan baik, sementara gerak-gerik Allah tak tertebak.
Presiden Yudhoyono tampak kuyu, lelah dan menderita. Pemimpin mana di dunia ini yang mampu menanggungkan penderitaan yang susul menyusul ini?.
PIB ( Pemerintah Indonesia Bersatu) yang baru menapaki belum dua tahun pemerintahannya, sudah digempur habis-habisan oleh malapetaka yang rasanya tidak berkesudahan. Tuhan berfirman bahwa Allah tidak mengaruniai malapetaka tanpa umat mampu menanggungnya. Presiden dan kabinetnya tentu mampu menyemprot awan hitam yang bergayutan di atas langit negeri ini, sehingga pelangi bisa tercipta. Subhanallah...
Saat ini belum lagi anggaran tambahan untuk mengatasi pasca gempa di Aceh dan Nias, juga kesiagaan di pulau-pulau terluar nusantara di hitung, keburu flu burung menyerang kembali. Puluhan mungkin ratusan ribu unggas telah tewas, bahkan diperkirakan flu burung juga telah menulari kucing sebagai hewan peliharaan. Hitung-hitung APBN ( Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dihitung kembali, seperti menyusun anggaran baru yang bisa duakali lipat jumlahnya. Jangan-jangan harga BBM bisa dinaikkan lagi. Waduh!. Lho, memangnya kenapa?!. Oke, biar rakyat semakin mahfum bahwa pemerintah itu memang supersulit. Subhanallah...
Jumlah 17 trilyun rupiah untuk dana kesehatan dan pendidikan yang diambil dari subsidi BBM, dianggap para pakar kita sangat tidak cukup. Apalagi pencairan itu diicrit-icrit (bertahap). Lalu kita mengerti logika pemerintah bahwa jika tidak dipelit-pelitkan, dana yang disektor sekaligus sangat mudah dikorup. Sebenarnya kan urusan dikorup atau tidak itu kan urusan pemerintah, bukan urusan rakyat miskin. Yang pasti kenaikan harga BBM makin memicu laju kemiskinan.


Sekaranglah rakyat harus bangkit, syukur-syukur bisa meletuskan revolusi sosial. Tapi tidak cukup dari sabetan kanan kiri saja. Naikkan " harga diri " dengan kekuatan daya tawar yang hebat: " Kami rakyat miskin, mana duit kami!" ---kepada mereka yang mau main money politic.Ini kesempatan pula bagi para pemulung, anak-anak gelandangan, preman ( jangan cuma beraninya membentak-bentak rakyat yang sama-sama miskin didalam bus kota untuk minta sedekah) , gali, penjahat, dan pengemis, untuk tampil sebagai rakyat miskin yang punya hak atas dana BBM itu.
Tapi apa benar rakyat miskin punya perhatian terhadap dana BBM itu? Mungkinkah rakyat miskin antipati terhadap segala tetekbengek dana BBM itu yang cuma menguntungkan segelintir orang yang mendapat jatah membagi-bagikannya. Apakah para makelar dana BBM itu bisa menjamin hak dasar rakyat seperti kesehatan dan pendidikan?.
Atau rakyat miskin akan nrimo ( pasrah) saja terhadap nasib karena sudah terlalu lelah didera kemiskinan dan bencana?. Presiden Yudhoyono tak cukup tangannya untuk memuaskan semua rakyat miskin karena kelelahan dan menderita juga?. Lagi-lagi rakyat miskin yang sehari-harinya cukup mendaur ulang nasi yang layaknya untuk pangan bebek itu: nasi Aking.
Posted by Cisca at 4:03 PM
Tuesday, February 14, 2006
Nyatakan Cinta dengan Rasa

Pagi ini saya terbangun dan tidak lagi merasa diri saya sebagai orang Indonesia. Mata dan rambut saya masih hitam, kulit coklat dan tulang pipi menonjol, tapi saya sudah terkontaminasi. Ibarat sebuah disket yang salah format, saya mengalami erosi dan abrasi. Nama menjadi beban, karena citra saya tidak sanggup mengangkat simbol dalam bunyi.
Di dalam kamar saya tertindih oleh pikiran-pikiran tentang kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kesetaraan dan kemanusiaan yang diagungkan di seluruh dunia, tetapi kadang terasa sangat bertentangan dengan cita-cita adat dan tradisi Indonesia. Bentuk sayapun sudah lain, karena saya mengonsumsi dan dihiasi dengan aksesori yang tidak lagi berasal dari lingkungan alam sendiri. Saya adalah sebuah pasar hidup dari produk teknologi dan industri alam pikiran liberal, dengan semangat individualisme yang membuat saya benci kepada keluarga dan semangat gotong royong dalam masyarakat. Saya sudah menjadi sesuatu yang baru dan sekaligus juga virus.
Dengan ragu-ragu saya keluar dari kamar sambil membawa senjata, karena saya tetap harus membela diri kalau diserang oleh lingkungan, oleh saudara-saudara bahkan oleh anak dan pacar yang tak kenal, karenanya tak bisa menerima kehadiran saya lagi. Hidup adalah sebuah peperangan dan itu mungkin dimulai dari depan pintu, waktu bangun tidur.
Saya sudah memilih yang lain. Untuk itu saya masih memiliki hak untuk melawan dan akan saya pergunakan. Karena masa depan tidak semestinya hanya ditentukan oleh masa lalu, tetapi seluruh pembaharuan yang terjadi.
Lalu saya gebrak pintu dan meloncat keluar siap tempur. Tetapi di depan pintu ternyata terbentang ruang yang lain. Bukan yang biasa saya kenal. Sesuatu yang masih asing karena saya mencium bau yang belum pernah saya hirup sebelumnya. Atmosfernya begitu menggoda. Saraf-saraf dan kelenjar gairah saya terangsang. Tiba-tiba saya ingin bersatu tubuh dengannya. Tetapi baru saya mencoba menjajaki, tubuh saya berontak. Ia tidak lagi berada di bawah kekuasaan saya.
Walau saya tekadkan untuk berhenti beberapa saat, kaki saya terus melangkah dan jari telunjuk saya hampir saja menarik senjata, tepat ke arah kepala saya sendiri.
Terseret oleh kekuatan di luar kekuasaan saya, saya sampai ke pintu yang lain. Pintu yang perlahan-lahan terbuka ketika tubuh saya mencoba menerobosnya. Pintu yang menghantarkan saya ke luar tetapi sekaligus ke dalam ruang yang lain.
Saya terpesona. Ruang itu ternyata lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Lebih menyerang dan lebih merangsang. Dari seluruh dindingnya keluar tenaga yang seperti menghisap tubuh saya.
Senjata terlepas dari tangan dan tubuh saya tertarik dari segala arah. Saya bertahan. Pakaian saya tercabik sampai saya telanjang bulat. Kemudian bulu-bulu badan saya tercabut dari tubuh. Bukan main sakitnya. Saya menjerit menutupi rasa pedih itu. Tapi kemudian jari-jari tangan, lengan, kaki, telinga, hidung, seluruh bagian tubuh saya tercabut dan ditelan oleh dinding ruang yang buas itu.
Sekarang saya bukan lagi hanya kehilangan identitas Indonesia. Saya bangkrut atas seluruh kehadiran saya. Tetapi satu hal yang menakjubkan, ternyata masih ada yang tersisa.
Perasaan saya tidak kelihatan, tidak berwarna, tidak memiliki volume. Ia bisa tercerabut dan mengalir ke mana saja menerobos jarak, waktu dan segala hukum. Tetapi ia selalu kembali seperti bumerang.
Dengan rasa itulah saya menyaksikan ratusan, ribuan, berjuta-juta bahkan miliaran pintu menunggu di depan. Saya takjub, lalu yakin bahwa saya sedang memasuki alam pikiran orang lain. Saya sudah tersesat ke dalam rencana orang lain. Ini kekalahan besar Indonesia yang tak boleh terulang lagi.
Lalu saya peluk rasa yang sekarang menjadi nyawa saya. Saya berbalik dan bergegas hendak kembali. Pulang dan bertahan adalah jalan terakhir yang terbaik. Tetapi begitu saya berbalik, kembali saya terpesona. Di depan saya, tepatnya di belakang saya berdiri Indonesia.
" Apapun yang kamu lakukan, aku selalu berdiri di belakangmu," bisiknya.
" Saya orang Indonesia, karena saya lahir dari keluarga Indonesia. Tetapi apakah saya Indonesia ?. Wajah saya cenderung meruncing, hidung runcing, tulang pipi kurus, mata cekung dan kulit coklat muda. Saya menyanyikan Indonesia Raya dan mengibarkan Sang Saka dan menjiwai semangat gotong royong, bahkan sudah lulus penataran P4, tetapi saya sudah dalam pikiran orang lain. Berhakkah saya menyebut diri saya Indonesia ?. Apakah saya sudah menjadi orang asing setelah saya tidak lagi memakai kain sarung, tetapi jins, sepatu dan referensi berpikir barat ? ".
" Hey, sekali kamu lahir sebagai orang Indonesia, kamu sudah terkutuk sebagai Indonesia. Apapun yang kamu lakukan, topeng siapapun yang kamu mainkan, aku tetap di belakangmu," kata Indonesia yang tiba-tiba masuk ke lubuk hati.
" Aku bukan hanya bangsa, bukan hanya teritorial, bukan ideologi, bukan paham, bukan agama, bukan hanya kekuatan moral dan politik, tetapi sebuah konsep sebagaimana juga Rusia, Australia, Amerika, Perancis, Inggris, Jepang dan sebagainya. Indonesia adalah sebuah fenomena rasa," kata Indonesia lagi.
Rasalah yang menyebabkan segala perbedaan tetap berbeda. Tetapi anehnya masih terus membuat kita selalu bersama-sama. Rasalah yang akan terus tumbuh dalam masa pemerintahan presiden pilihan rakyat yang memimpin negeri ini untuk masa lima tahun. Rasalah yang kita harapkan akan menjadi primadona era baru yang sudah begitu banyak diganduli harapan oleh 250 juta rakyat yang selama ini hanya dibodohi pemimpinnya. Rasalah yang selama ini telah hilang. Rasa itu yang harus kita bangun kembali. Tidak cukup hanya politik, ekonomi dan teknologi, tetapi juga kebudayaan yang diberdayakan secara tepat dan proporsional.
(To : My Mom, Sis and Brother)
Thanks for still loving me and my son, we're also loving you...
Posted by Cisca at 9:14 PM
Friday, February 3, 2006
Kemana Kita ?
Jerit tangis rakyat yang kelaparan,
yang kehilangan pekerjaan,
yang anaknya macet sekolah karena ketiadaan biaya,
yang kehilangan sanak saudaranya akibat bencana alam,
dibunuh,
bunuh diri,
dijual,
tidak hanya menyayat di desa-desa di seluruh pelosok tanah air, tapi juga terdengar di kota-kota besar.
Sawah yang tenggelam akibat banjir (padahal siap panen) ,
harga gabah yang semakin jatuh,
banjir berhari - hari di pedesaan yang miskin,
tanah longsor,
uang bantuan yang dikorup,
bertengkar kecil-kecilan yang mengakibatkan nyawa melayang,
gaji buruh yang sangat minim,
demonstrasi menuntut keadilan,
keracunan massal,
ribuan pengangguran mendadak akibat perusahaan tutup,
tak mungkin kembali ke luar negeri sebagai TKI akibat masuk black list,
dan penderitaan bayi-bayi yang kurang gizi,
Perebutan kekuasaan di tubuh partai-partai di dalam pemerintah,
geng-geng preman,
kredit macet triliunan rupiah,
kayu-kayu penebangan liar yang tak juga bisa dimanfaatkan,
para cendekiawan " bunuh diri " ramai-ramai,
orang-orang suci yang bisanya cuma rapat-rapat,
para pahlawan yang ternyata hanya orang-orang biasa yang tidak memiliki daya tahan,
( siapa menolak kemewahan justru mendapat durian runtuh )
pengemis-pengemis kecil memenuhi ibukota,
anak-anak kecil yang diperkosa dan dibantai,
para preman meneror para penumpang di angkutan umum,
baku tembak karena cemburu, dendam,
juga karena rebutan rejeki.
Semua itu merupakan kebangkrutan politik, ekonomi, dan sosial. Tidak ada obat, peredam dan pencegahannya kecuali revolusi sosial.
: Perlu Angkatan Muda.
Angkatan muda dan revolusi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam kacamata para ideolog dan sosiolog, revolusi selalu berarti manifestasi perubahan sosial yang paling spektakuler.
Ada beberapa kelompok cara pandang tentang revolusi ini:
* Revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan berskala luas. Intinya terletak pada keluasan dan kedalaman perubahan yang meliputi segala bidang. Ini revolusi yang biasanya bersifat " sudden " dan " radical ", menjadi lawan dari reformasi yang biasanya " slow " and " partial ".
* Revolusi dengan menitikberatkan pada penggunaan kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Disini berarti revolusi adalah lawan dari evolusi.
* Revolusi yang terpahami sebagai " perubahan domestik yang cepat, fundamental, dan penuh kekerasan dalam nilai-nilai dominan dan mitos masyarakat, dalam institusi politik struktur sosial, kepemimpinan, dan kebijakan serta kegiatan pemerintahan ".
Jadi selain perubahan yang fundamental dan menyeluruh, revolusi juga melibatkan mobilitas massa yang bergerak secara cepat. Umumnya disertai kekerasan, walaupun ada juga ( walau jumlahnya tidak banyak) tidak memakai kekerasan, seperti Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur.
Semangat perubahan yang bergolak-golak hanya bisa ditampung dalam jiwa angkatan muda dan bukan angkatan tua.
Tidak bisakah lagikah kita bangkit sedikit lalu berlari sedikit, ketika semuanya sudah tidak mengenal lagi suara kesedihan rakyat?
Kenapa seakan tiada yang lebih elok selain: proyek.
Ya !. Proyek.
Kongres: proyek
Studi banding: proyek
Pemeriksaan keuangan: proyek
Restrukturisasi dan rekonstruksi daerah bencana: proyek
Penyehatan Bank: proyek
Agen otomotif: proyek
Rakyat lapar nasi: proyek
Agama: proyek
Perang: proyek
Ahh....Bagaikan bangsa yang tak punya lagi harapan, hati yang tulus dan kejujuran. Selain hanya: proyek. Tidak ada lagi kejujuran, perjuangan demi keadilan dan kebenaran. Padahal rakyat masih kekurangan
: makanan, minuman, barak untuk tubuh-tubuh beberapa keluarga, obat-obatan, listrik, pendidikan, juga belaskasihan.
Siapa sangka, mereka yang halus bagai satria, suci bagai pertapa, ternyata pelengkap racun yang merambat ke dalam saluran darah rakyat yang terus-menerus didera penderitaan ?. Dengar saja nyanyian para elite politik yang sangat ulung meninabobokkan rakyat. Padahal mereka juga termasuk penaik darah profesional, yang sampai mau berantem dengan sesama mereka dengan alasan yang serba luhur.
Posted by Cisca at 10:02 PM
Wednesday, January 4, 2006
Batas Absurd
Tembang, rintihan, pesta tawa hingga celotehan memenuhi berbagai sudut ruang. Absurditas yang nyata. Hinggap di sel seluas 5 x 20 terpagar terali besi. Dari balik jeruji, puluhan orang menatap nanar, penuh ketidakpastian. Lainnya, di ruang berbeda, asyik masyuk bermain dengan tingkah pola anak-anak.
Realitas ini terhampar jelas di Panti Sosial Bina Laras, di jalan Kemuning, Cengkareng-Jakarta Barat. Panti sosial seluas tiga hektar itu dihuni sekitar 500 orang penderita gangguan jiwa. Mereka terjaring dan sedang digodok menjadi "manusia" kembali. Butuh waktu panjang, karena sebagian dari mereka tergolong dalam kategori akut. Jiwa yang akut susah ditembus untuk diluruskan ke "jalan yang benar".
Mereka "diberi"residu untuk melihat kembali masa depan kemanusiaan. Menatap dan menjenguk ruang-ruang batin yang telah hilang dalam lajur kehidupan. Menelusuri akal sehat yang tercecer di pinggiran jalan dan meletakkan kembali pada porsi akal sehat itu sendiri.
Mungkin benar paparan Karl Marx:"Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaannya, melainkan keadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya". Seperti halnya Spinoza dan Freud, Marx percaya bahwa sebagian besar dari apa yang dipikirkan manusia, secara sadar adalah kesadaran "palsu", yaitu ideologi dan rasionalisasi. Dorongan utama perilaku manusia yang sebenarnya tidak disadari adalah perilaku hewani.
Para penghuni itu, sejatinya ingin menjadi deretan manusia yang berpanduan akal sehat. Tapi seperti "igauan" Karl Marx, keadaan sosial yang membentuk mereka telah menomorduakan akal sehat. Mereka juga kerumunan manusia, sama seperti kita. Bahkan mungkin saja mereka menganggap kita yang diberkahi akal dan jiwa yang sehat ini, sebagai orang yang tak berjiwa, tak waras alias gila.
Mungkin mereka juga tertawa jika melihat "koor" kelompok paduan suara dari sebuah kompleks clubbing misalnya, yang lagu-lagunya mungkin saja membuat mereka berpikiran: "ah.... itu kan kerumunan orang-orang gila..".
Inilah jadinya, jika akal sehat tak menjadi panduan. Dan begitulah hidup, selalu mengalirkan peristiwa tak pasti. Mana akal sehat, dan mana akal tak sehat...
Posted by Cisca at 10:01 AM
Thursday, December 29, 2005
Berbahasa Ibu : Aku
Lebih dari sekedar tenda untuk tempat bernaung, ternyata jiwa yang kuat adalah sebuah bangunan yang kokoh di dalam setiap diri manusia korban bencana tsunami, khususnya Aceh.
Ketika negeri ini menjadi rumah duka nasional setahun lalu, seisi rumah kami ( lengkap dengan tikus, cecurut dan rayap-rayapnya itu ) menangisimu bagai tangis seorang ibu kepada anak hilangnya yang masih bersikeras tidak mau pulang ke rumah. ( Mengapa kau selalu gundah anakku?. Jika di tangan ayah kau merasa hidupmu dikejami, bukankah masih ada ibu yang selalu mencintaimu dan mendambakan kerukunan dalam keluarga kita? ).
Kau juga adalah kecamuk lain di hati ibu, setiap kali saudaramu membuat airmata ibu meleleh karena ulah mereka yang rakus menggerogoti harta keluarga kita. Sementara bapakmu masih sibuk dengan ketidaktegasannya, terombang-ambing antara hal yang serba popular dan perang di hati nuraninya melihat derita hidup kita. Sungguhpun demikian, kau jangan marah kepadanya. Berilah ia kesempatan untuk memperbaiki keadaan kita dengan bantuan tangan Tuhan. Hanya uluran tangan Tuhan yang kita percayai saat ini. Jika kau mengira tetangga kita datang menolong, itu hanyalah perpanjangan tangan Tuhan, yang telah menggerakkan terbukanya pintu hati dan belas kasih manusia kepada sesamanya.
Anakku,
Ukuran ibumu ini dalam mewawasi situasi keluarga kita hanya pada hati nurani manusia. Hatilah yang mengalirkan beragam jenis airmata di wajah kita. Hati pula yang membuat sepasang tangan manusia menjadi berlumuran darah sesamanya, atau menyimbahkan darah bagi diri sendiri bahkan sesamanya. Banyak bencana besar di dunia ini berawal, harus dihadapi dan diakhiri dengan menggunakan hati.
Jika hatimu kotor, maka kotor pula pikiranmu. Jika telah kotor pikiranmu, lihatlah perangai apa yang tampak bagi sesamamu: merusak! memusnahkan!. Seolah-olah kitalah si pemilik dunia.
Kau lupa, bahwa Tuhan tidak memerlukan dana seluruh umat manusia untuk Ia menciptakan, memelihara ataupun menghancurkan apapun dari alam semesta ini. Tuhan tidak pernah bersekongkol dengan umatNya untuk setiap kehendakNya. Dengan alasan itulah ibu beranggapan tidak ada sebuah negeri manapun di bumi Allah ini yang layak menuhani negeri lainnya. Ada masanya ketika orang-orang pongah akan terpental dari perputaran bumi hanya karena sebutir kerikil dari langitNya yang terjatuh ke dalam bentang laut di hadapanmu. (Allahu Akbar).
Namun kau harus percaya, meski saat ini ibu lemah ketika menolongmu, setiap bencana dari Tuhan merupakan gerbang ujian dan calon berkah bagi saudara- saudaramu. Setiap saat kita semua masih diberiNya kesempatan berbuat baik. Ada peluang yang indah dalam penyamaran setiap kejadian dan peritiwa.
Ketika mentari terbit ataupun sedang membuat malam, ibulah yang merengkuhmu dalam pelukan cinta dan doa. Memandikanmu dengan curahan airmata karena mengetahui bagaimana tingkah saudaramu yang setiap hari semakin rajin mengibarkan berbagai jenis lembaran uang atas namanya sendiri di semua permukaan bumi yang dipijaknya. Sementara kau masih terkapar di atas tanah penderitaan yang sama, lemas menghafal berapa jumlah butiran nasi di piringmu, berapa jumlah pasir yang kau perlukan untuk membangun kembali rumahmu.
SubhanaAllah, anakku. Mari kita sederhanakan semua perhitungan manusia dari nol.
Butakah saudaramu yang air liurnya hingga merembes di sudut mulutnya ketika menghitung uang gaji ratusan juta rupiah yang memasuki setiap bulan dalam kehidupannya sepanjang masa jabatannya?. Tulikah telinga mereka yang berkehendak gagah-gagahan menjadikan keluarga kita sebagai anggota keluarga penghasil senjata ?, atau bahkan desakan si pemilik hati yang gemar pamer dengan rencana dibangunnya monorel di Jakarta pada tahun 2006 nanti?. Ah, katakan saja yang segelintir itu di buku hatimu.
Inilah yang ibu khawatirkan nak : kita menjadi buta mata hati. Terbias pandang dalam mewawasi keadaan. Ibu yakin, pembiaran atas penderitaanmu hingga berlarut-larut, yang dibarengi dengan keinginan untuk selalu tampil trendy di mata tetangga kita, adalah siksaan tersendiri di hati bapakmu. Kemana ia akan menghampar pandangannya selama itu, jika ia harus pergi kondangan "standing party" tetangga kita, sementara ia tahu pasti anak-anak di rumahnya hanyalah anak-anak yang tidur beralaskan tikar, tidak bersekolah dan hanya makan nasi dari beras patahan?
Akan dan telah kau saksikan, bahwa kesedihan ibu adalah kemarahan Tuhan. Kemarahan Tuhan adalah bencana yang melahirkan kembali kepedihan di hati kita semua. Inilah siklus dari satu rangkaian kehidupan.
Untuk hidup kita butuh standar kelayakan, karena kita hanyalah manusia si penerima kehidupan. Tuhanlah pemiliknya. Raga ini juga milik Tuhan, patut kita pelihara sebaik-baiknya selama hidup. Meski ibu mengerti, bahwa jiwa yang bersih dan kokoh serta dilandasi iman kepada Allah adalah rumah kita yang tak lekang tak lapuk oleh badai dan guncangan alam, namun kau layak menerima perlakuan yang adil dari kehidupan yang hanya sementara ini.
Doa ibu senantiasa bersamamu.
Posted by Cisca at 7:28 AM
Thursday, December 15, 2005
Kado Untuk Teman

Koran pagi masih mengepul di atas meja. Wartawan itu belum membacanya, dia masih tertidur di kursi setelah seharian dikejar-kejar berita. Seperti biasa, untuk melawan pening ia menepuk keningnya. Lolos dari deadline, ia pun terlelap. Lengkaplah capeknya.
Uban yang letih tanda memutihnya tahun. Entah sudah berapa orang, peristiwa....mmm..berapa ya..., melintasi jalur waktu di kerut wajahnya. Ke suaka ingatan mereka hijrah...
Almarhum bapaknya sebenarnya tidak suka ia susah-susah jadi reporter. Lebih baik jadi artis yang kerjanya diuber-uber wartawan. Ibunya berharap dia jadi dokter, agar dapat merawat tubuhnya sendiri yang sakit-sakitan.
Siang itu, ia bersama teman-teman sekelasnya sedang berlatih mengarang. Sementara kawan-kawannya sibuk bermain kata, ia bengong saja sambil mengigit-gigit pena. Padahal ibu guru sudah bilang berkali-kali, bahwa cara terbaik untuk mulai menulis adalah menulis.
Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba terjadi kebakaran. Bu guru dan teman-temannya segera menghambur keluar. Belakangan beredar kabar bahwa gedung sekolahnya sengaja dibakar komplotan perusuh berlagak pahlawan. Saat itu situasi memang sedang rawan, penuh pergolakan.
Tanpa menghiraukan bahaya, bocah bego itu malah sibuk mencari-cari pena yang terjatuh dari meja. Bu guru nekat menyusulnya. Sementara api makin berkobar dan semua panik : jangan-jangan mereka ikut terbakar...
Si anak bengong itu kini sedang lelap. Matanya setengah terbuka. Koran pagi masih mengepul di atas meja....
Posted by Cisca at 7:14 AM
Monday, November 21, 2005
D i s o r i e n t a s i
Elegi yang menimpa seorang kakek dan nenek di Demak dan Banyuwangi yang meninggal karena antri mencairkan dana kompensasi BBM beberapa waktu lalu adalah tragedi kemanusiaan yang tak boleh disembunyikan. Kematian mereka menembus slogan kenaikan harga BBM yang cukup fantastis ini. Kematian ini ( termasuk sekian kematian akibat kemiskinan yang merayap di seluruh pelosok dan tak sempat terekam kamera dan pena wartawan) juga menjadi tamparan yang cukup nyata atas iklan layanan masyarakat yang dikumandangkan tokoh agama dan ekonomi di televisi.
Paradoks kebangsaan yang sedang mengupas hati disaat kita merayakan momentum kebangkitan sumpah pemuda yang ke 77. Namun tragedi tidak langsung bergema seperti pernyataan Nikita Kruschev, one dead man tragedy, a million dead men are statistic. Di negeri yang mulai lumpuh nurani, kematian kakek nenek tentu saja tak berarti. Apalagi ia miskin dan bukan siapa-siapa. " wong nonton konser bisa mati koq ".
Presiden SBY dan menteri di kabinet tentu tak akan mengadakan rapat evaluasi kabinet hanya karena kasus ini. Bahkan jikapun terjadi fakta penderitaan yang lebih luar biasa lagi akibat kenaikan harga BBM, mungkin pemerintah tak akan beranjak untuk mengubah keputusannya.
Yang menyedihkan, intelektual seakan tunduk dengan logika pengetahuan yang ditekuninya bertahun-tahun. Hampir semua mengamini atau diam-diam saja tentang demokrasi prosedural atas legitimasi SBY sebagai presiden pilihan langsung rakyat yang dianggap tak berpeluang dijatuhkan oleh aksi massa. Logika prosedural ketatanegaraan juga turut melemahkan DPR sebagai lembaga yang tak dapat meng-impeach presiden. Namun di tengah prahara nasional ini, yang menyedihkan dimana suara mahasiswa ?.
Ketika terjadi krisis terbesar di Prancis setelah perang perang dunia ke dua, 1968, gerakan mahasiswa muncul sebagai pendobrak dan penentang paling serius atas kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Gerakan mahasiswa tidak membawa perubahan apa-apa kecuali kecuali hanya mengganti pimpinan pemerintahan. Gerakan mahasiswa Prancis hidup sebentar hidup sebentar dalam hysteria publik dan media massa. Jacques Derrida mengkritik gerakan mahasiswa itu sebagai infantilisme politik yang tak melakukan dekonstruksi intelektual apapun kearah ketercerahan sisitem pemerintahan. Mungkin kritik Derride agak hyperbolik, karena sedikit banyaknya pergantian orang membawa ekspressi perubahan pada sistem.
Pada tahun 1989, ketika gelombang demokratisasi merambah negara-negara komunis, mahasiswa Cina menuntut pemerintah Den Xiao Ping untuk membuka keran liberalisme ekonomi dan politik demi kesejahteraan rakyat. Kata-kata Mao Tse Tung tentang kemandirian dalam kemiskinan lebih berharga daripada kekayaan dalam perbudakan tidak renyah lagi di telinga. Mahasiswa menganggap pemerintah terlalu banyak berbohong dengan media yang dikuasainya. Buktinya, rakyat makin miskin dan terhina. Aksi mahasiswa berujung dengan tumpah darah di lapangan Tiannanmen. Ribuan massa mati terpanggang dan tertembak tentara. Namun, setelah itu Cina berkembang dengan kebijakan ekonomi dan politik yang mulai terbuka dan kompetitif.
Tahun 1998, mahasiswa Indonesia menuntut mundur pemerintahan Orde Baru yang dianggap biang korupsi. Saat itu demonstrasi dipicu pula oleh kenaikan harga BBM yang dianggap tidak sensitif atas krisis ekonomi---meskipun akhirnya harga BBM diturunkan kembali. Langkah pemerintah tidak ampuh. Gelombang aksi mahasiswa mampu menjatuhkan Soeharto, sesuatu yang tidak diperkirakan para analis politik saat itu.
Jauh hari sebelum menaikkan harga BBM, pemerintahan SBY telah menyuarakan berbagai macam argumentasi berkaitan dengan pentingnya melakukan penghematan APBN dengan mencabut subsidi BBM akibat krisis harga minyak mentah dunia yang dirasakan hampir seluruh negara. Namun yang menyedihkan, argumentasi tersebut ditelan mentah-mentah. Tidak ada umpan balik yang dapat menjadi "tanda" bagi mahasiswa untuk menggalang aksi massa dengan argumentasi yang lebih melindungi rakyat. Informasi yang diberikan pemerintah seolah telah menepati derajat scientific sehingga tak ada ruang untuk mengurainya lebih lanjut. Tidak terlihat aksi demonstrasi besar-besaran dan massif yang menolak kenaikan BBM, bahkan respons menolak kenaikan BBM kedua lebih lemah dibandingkan pertama. Padahal, kenaikan kali ini sungguh tidak rasional.
Seharusnya mahasiswa tidak perlu tunduk atas penjelasan scientific yang njelimet tentang pemotongan subsidi yang dipropagandakan pemerintah akan berbanding lurus dengan peningkatan program kesejahteraan rakyat miskin. Apalah arti keilmiahan kalau hanya memproduksi derita?.
Mereka cukup merekam lingkungan di sekitar dan melihat ketimpangan antara teori dan realitas, antara das sollen dan das sain, sebagai sinyal argumentasi menolak kenaikan harga BBM. Seperti dikatakan Edward W. Said, yang membuat gerakan mahasiwa menjadi kuat adalah mediokeritas pengetahuan yang dimilikinya. Ia tidak perlu tahu semuanya untuk bergerak, karena yang menjadi senjatanya adalah suara-suara yang dibisukan oleh arogansi kekuasaan dan pengetahuan.
Namun, aksi massa mahasiswa tidak cukup nyata meskipun semakin hari data-data distorsi dana dan pemberian subsidi makin terang benderang. Bahkan yang menjadi ironi, pengurangan subsidi juga dipergunakan untuk menambah anggaran operasional kementrian dan tunjangan anggota Dewan. Fakta ini telah menyimpulkan bahwa tidak sepenuhnya anggaran yang telah "dirasionalisasikan" tersebut dijadikan sebagai benteng terakhir penyelamatan penderitaan rakyat miskin. Kebohongan menjadi selimut atas kebijakan nasional yang proliberal.
Di sisi lain, banyak masyarakat karena kemiskinannya telah mencapai derajat absolut, luput tercatat oleh BPS sebagai warga negara miskin, bahkan terjadi di ibukota Jakarta. Statistik kemiskinan telah membuat orang kehilangan banyak hal. Ini adalah pengetahuan utama yang dapat dijadikan alas an untuk menggalang aksi demonstrasi dan meminta penurunan BBM, sampai kapanpun hingga berhasil.
Yang dibutuhkan saat ini bukan kesempurnaan pengetahuan atas kebijakan pemerintah yang nyatanya tidak juga transparan. Yang dibutuhkan adalah partikulus wacana, yang banyak terserak di tengah-tengah kehidupan nyata masyarakat lapisan terbawah. Para ibu yang antri berjam-jam hanya demi lima liter minyak tanah mahal, pertengkaran kernet angkot dengan penumpang untuk urusan uang seribuan rupiah, anak-anak yang tidak sekolah karena orangtua tidak memiliki uang, seorang nenek yang mati membusuk karena tidak ada makanan, seorang ayah yang lumpuh oleh stroke karena ditolak rawat dini oleh rumah sakit, dan aneka penderitaan harian lainnya.
Posted by Cisca at 6:20 PM
Saturday, November 19, 2005
P e r s e l i n g k u h a n
"Keadilan sosial bagi semua"-- yang merupakan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat-- adalah keadilan yang kerap kali dilihat sebagai utopia, karena realitas dalam hidup ini terdapat situasi pasti dimana kesenjangan sosial antara kaya dan miskin selalu ada di dalam struktur masyarakat.
Cita-cita kesejahteraan sosial tetap harus diwujudkan, dengan dasar utama untuk menciptakan keadilan sosial paling maksimal yang bisa ditempuh. Satu-satunya jalan masuk untuk mewujudkan hal itu adalah dengan menciptakan dan menerapkan hukum sebagaimana mestinya. Hukum yang melindungi semua, terutama hukum yang melindungi wong cilik yang selama ini selalu di tepi akibat akal bersaing di dunia nyata.
Kemiskinan di Indonesia harus dilihat dari kacamata yang paling obyektif. Temuan Bank Dunia ( WorldBank ) pada Januari lalu menempatkan separuh lebih penduduk Indonesia berada dalam situasi hidup yang tidak layak. Kita memperoleh pendapatan yang jauh di bawah ukuran kelayakan.
Persoalan utama yang melandasi struktur kemiskinan masyarakat kita karena adanya dosa struktur. Dosa stuktur yang dimaksud adalah menyangkut bagaimana distribusi yang adil dan menjangkau semua pihak. Dengan demikian, keadilan yang sedang kita bicarakan disini adalah menyangkut keadilan untuk semua.
Misalnya, harus memulai diperhatikan adanya biaya produksi yang mahal dalam setiap aspek kehidupan masyarakat di pedesaan sebagai akibat dari sistem jaringan transformasi dan informasi yang hanya tersedia di kota besar yang menjadi pusat ekonomi. Atau contoh yang lebih umum, harus mulai diperhatikan adanya kesenjangan akses ( pendidikan, sosial, ekonomi, budaya ) yang hanya bisa diakses oleh kaum berduit daripada kaum melarat. Atau akses kehidupan yang hanya bisa diakses oleh kaum bandit daripada masyarakat jelata lainnya.
Kehidupan ekonomi yang hanya berfokus pada pusat kota membuat daerah di pelosok semakin tidak tersentuh oleh jaring-jaring ini. Fatalnya, seringkali jaringan ini hanya mengeskploitasi daerah pedesaan tanpa memberdayakannya. Contoh, harga pupuk yang mahal adalah kebijakan " orang kota " yang membuat masyarakat di pedesaan kelaparan.
Mereka hidup susah tanpa tahu mengapa semua ini terjadi. Mereka "nrimo ing pandum", menerima nasib apa adanya dan the show must go on. Mereka tidak tahu logika mengapa harga produksi gabah dan tebu misalnya, sangatlah murah, dan harga pupuk sangatlah mahal. Mereka tidak tahu berapa selayaknya jerih payah mereka harus dihargai karena telah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan.
Padahal merekalah pahlawan kita selama ini. Pahlawan yang selalu diperah dan diperas tenaganya untuk membiayai kehidupan Indonesia.
Jaringan kekuasaan hanya memfokuskan pembangunan pada pusat kota, dan ini membuat biaya hidup rakyat miskin di pedesaan semakin berat. Beban hidup mereka akan habis hanya untuk membiayai transformasi.
Kemiskinan juga sulit diatasi karena kaum miskin tidak memiliki daya tawar terhadap kebijakan yang selama ini tidak berpihak kepada mereka. Kaum miskin hanya menjadi alat produksi semata-mata.
Pendapatan mereka hanya sekedar mencukupi kebutuhan hidup saja. Inilah yang membuat kaum miskin tak berdaya untuk memiliki daya tawar terhadap pengambilan keputusan. Yang kaya semakin berada di puncak.
Kebijakan politik yang ada selama ini sering ( dan sebagian besar ) hanya berpihak kepada mereka yang memiliki alat produksi dan modal. Kaum miskin diperas tenaganya hanya sekedar menjadi buruh kasar dengan dalih keterampilan mereka terbatas. Tetapi pemerintah, di sisi lain, tidak mampu berbuat bagaimana seharusnya meningkatkan keterampilan mereka agar bisa berkompetisi lebih adil dengan lainnya.
Ketidakmampuan mereka inilah yang sering dieksploitasi tanpa rasa kemanusiaan. Ini membuat posisi daya tawar mereka begitu lemah. Dalam kajian teoritis atau secara ideal, mereka memang dilindungi oleh negara, namun dalam konteks realitas mereka adalah pecundang yang sering ditipu daya oleh dua poros utama, yaitu : Modal dan Penguasa.
Kaum miskin selalu dilihat sebelah mata dalam berbagai proses pembuatan kebijakan. Kebijakan yang dilahirkan penguasa tidak terlalu banyak memperhatikan poros warga negara. Warga negara yang miskin dianggap tidak memiliki kedaulatan tertinggi di dalam sebuah negara. Pelanggaran konstitusi ini terus terjadi tanpa adanya kemauan untuk memperbaikinya. Misalnya dengan melahirkan sebuah kebijakan yang sungguh-sungguh mengapresiasikan dan melibatkan kaum miskin untuk berperan sebagai warga negara normal.
Penguasa kita masih menggunakan pola VOC pada zaman Hindia Belanda dalam salah satu programnya. Badan Publik, yaitu Badan Usaha Milik Negara yang seharusnya menyejahterakan masyarakatnya justru berperilaku sebaliknya. Mereka gagal memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Fatalnya, seringkali dana itu di korup oleh pengelola badan publik dalam berbagai skandal, baik dengan parpol maupun lainnya.
Dalam birokrasi publik kita, korupsi seperti sudah lazim diterjemahkan sebagai " uang lelah ". Mentalitas dan kebudayaan ini tanpa disadari meneruskan warisan budaya yang ditanamkan oleh kultur centengisme yang digunakan VOC untuk memperalat pribumi dalam mengabdi pada kepentingan penjajah. Kultur ini menjadi subur karena para pelaku politik sudah bersekutu dengan para pelaku bisnis hitam.
Ini kenyataan yang membuat keadilan di negeri kita sulit diwujudkan.
Elite politik yang masih bermentalitas pola VOC dan fasisme Jepang ini membuat bangsa terpuruk karena terjadi perselingkuhan antara poros negara dengan badan publiknya dan poros pasar dengan komoditas bisnis. Dalam perselingkuhan ini poros warga selalu dijadikan korban.
Kapan elite politik keluar dari lingkaran setan ini?.
Posted by Cisca at 6:18 PM
Wednesday, November 16, 2005
Otsus Menelan "Korban"
"Jangan kami saja rakyat kecil yang berani dihukum cambuk di depan umum, orang-orang kaya atau orang-orang penting, bila divonis cambuk, juga harus ditonton masyarakat umum" ( salah seorang terpidana hukum cambuk di Bireun - Aceh 2005 )
Dalam beberapa kali penerbitan di bulan April dan Mei, beberapa media cetak lokal dan nasional sempat melansir berita mengenai proses persidangan di Mahkamah Sya'riah ( MS ) Bireun terhadap 20 warga setempat yang didakwa melakukan tindak pidana perjudian. Meskipun perjudian tergolong kasus tindak pidana biasa, namun dalam kasus itu mendapat banyak perhatian dari masyarakat luas di Aceh, karena untuk pertama kalinya hukum atau Syariat Islam coba diterapkan di provinsi NAD. Majelis Hakim MS yang menyidangkan perkara ini mencoba menjerat para terdakwa dengan pasal-pasal yang temuat dalam Qanun ( peraturan daerah ) No. 13 / 2003 tentang perjudian ( maisir ).
Dalam proses persidangan akhirnya ke 20 warga tsb divonis hukum cambuk bervariasi, mulai dari 6 - 10 kali. Bahkan vonis terhadap 12 orang dianataranya telah memilki status kekuatan hukum tetap karena mereka tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk mengajukan proses banding. Memang belum ada eksekusi karena masih menunggu SK dari gubernur.
Sepintas sepertinya peristiwa hukum di Bireun ini telah berjalan sesuai landasan hukumnya, yaitu UU No.18 / 2001 tentang Otonomi Khusus bagi provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai provinsi NAD. Di dalam kedua UU tersebut, secara jelas disebutkan bahwa Aceh memiliki hak untuk menjalankan Syariat Islam bagi seluruh muslim yang berada di wilayah tersebut.
Namun, jika ditelusuri lebih jauh, kebijakan penerapan Syariat Islam di Aceh sebenarnya masih menyisakan beberapa persoalan. Salah satu persoalan yang sepertinya masih belum terjawab sampai sekarang adalah menyangkut kelengkapan instrumen hukum pelaksanaannya. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 26 ayat 1 dan 2 UU No.18 / 2001, MS yang berada di tingkat kabupaten atau kota merupakan pengadilan tingkat pertama. Sedangkan di MS di tingkat provinsi merupakan pengadilan tinggi. Pengadilan tingkat kasasi tetap berada pada Mahkamah Agung.
Sejauh ini di seluruh daerah kabupaten atau kota dan provinsi NAD, MS sudah terbentuk. Tetapi hal tersebut agaknya belum diikuti dengan pembentukan lembaga khusus di tingkat MA yang memiliki wewenang memeriksa permohonan kasasi ataupun peninjauan kembali perkara-perkara dari MS. Paling tidak hal ini terlihat dari penjelasan Bagir Manan, ketua MA pada 2002 lalu. Menurutnya masih perlu dicari kesinambungan ( lembaga ) yang menghubungkan antara MS dan MA. Karena bagaimanapaun juga, MS masih merupakan bagian dari sistem peradilan nasional.
Dengan kata lain, kelengkapan institusi hukum yang akan menangani perkara-perkara Syariat Islam dapat dikatakan belum sepenuhnya terpenuhi. Anehnya, dalam kasus Bireun, terkesan pemerintah daerah dan institusi peradilan setempat cukup berani menggelar proses persidangan kasus perjudian tersebut melalui MS. Sementara keberadaan lembaga khusus di tingkat MA sendiri belum jelas, apakah sudah atau belum dibentuk.
Persoalan lainnya tentang waktu dari penerapan Syariat Islam itu sendiri. Sebagai salah satu kebijakan khusus dalam paket kebijakan Otonomi Khusus Aceh apakah Sya'riat Islam yang diterjemahkan seperti dalam kasus di Bireun itu mendesak serta berada pada moment yang tepat untuk dilaksanakan ?.
Keinginan memberlakukan Syariat Islam di Aceh pada awalnya muncul pada 1948. Adalah Soekarno, presiden RI pertama, yang berjanji memberikan status daerah khusus kepada Aceh untuk mengatur daerahnya sendiri. Pemberian janji oleh Soekarno tersebut didasarkan atas pengamatannya setelah melihat kondisi sosial masyarakat Aceh saat itu yang sangat kental budaya keislamannya. Ucapan soekarno itu sendiri disampaikan dalam sebuah perbincangan antara dirinya dan tokoh ulama kharismatik Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh di Banda Aceh pada Juni 1948.
Keinginan tersebut baru benar-benar bisa diwujudkan setelah lebih empat dekade kemudian melalui UU No.18 / 2001. Meskipun demikian, perlu juga dipahami bahwa UU tersebut lahir bukan semata-mata berfungsi sebagai payung hukum penerapan Syariat Islam, melainkan juga sebagai salah satu pendekatan pemerintah pusat untuk mengatasi konflik politik antara RI dan GAM serta ekses yang ditimbulkan dari konflik tersebut.
Di tengah kondisi sosial masyarakat Aceh seperti saat sekarang, kebijakan Syariat Islam bergerak terlalu progresif dibanding pencapaian tujuan utama kebijakan otsus. Apabila pemberlakuan Syariat Islam ini tidak segera dihentikan untuk sementara, tidak berlebihan jika dikatakan kebijakan otsus bukan sebuah solusi bagi penderitaan rakyat Aceh. Ia lebih tepat dikatakan sebagai "alat baru" pemerintah yang ( untuk kesekian kalinya ) menempatkan rakyat Aceh sebagai " korban ".
Alasannya, selain tingkat kesejahteraan rakyat Aceh yang tidak terpulihkan dengan adanya otsus ini, dalam prakteknya hukum di Indonesia hanya mampu berlaku efektif bagi masyarakat golongan kecil. Sehingga wajar jika muncul kekhawatiran, seperti yang diucapkan oleh salah seorang terpidana hukum cambuk, bahwa Syariat Islam ini nantinya juga tidak mampu berlaku adil.
Kalaupun pelaksanaan Syariat Islam ini tetap dipaksakan, langkah awal yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah NAD adalah melakukan penilaian ( terutama ) sejauh mana kesiapan masyarakat Aceh sendiri untuk menjalankan Qanun / Qanun-qonun Syariat Islam.
Hal ini menjadi penting, karena kalau dilihat dari rentang waktu munculnya ide pemberlakuan Syariat Islam dengan kehadiran landasan hukumnya yang sangat jauh, tidak tertutup kemungkinan terjadi pergeseran nilai-nilai sosial di tengah masyarakat Aceh yang berakar pada Islam. Dengan kata lain, kondisi kultur keislaman masyarakat Aceh seperti masa lalu harus dihadirkan terlebih dahulu sebelum Syariat Islam diterapkan.
Disamping itu masalah kelengkapan perangkat hukum menjadi bagian penting lain yang harus dipenuhi oleh pemerintah pusat, sehingga tidak menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat apakah pemerintah pusat sepenuhnya setuju dengan pemberlakuan Syariat Islam di Aceh ?
Tetapi jika pemerintah mau lebih arif, perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat Aceh harusnya jauh lebih dikedepankan dibandingkan pelaksaaan Syariat Islam. Lagipula, bukanlah faktor utama penyebab konflik Aceh adalah karena ketidak adilan di bidang ekonomi, politik, dan hukum, bukan karena tuntutan ada atau tidaknya Syariat Islam ?.
Posted by Cisca at 6:15 PM
Tuesday, November 15, 2005
P a r s e l
Saya sorongkan kartu merah kepada Presiden Yudhoyono. Lho, apa pasal ?. Karena Presiden Yudhoyono telah memborong parsel untuk kaum duafa. Lho, kan bagus, Presiden jadi dermawan?. Tidak!. Lho, memangnya kenapa koq tidak?. Karena Presiden Yudhoyono telah tersangkut parcel gate. Wah, parcel-gate? Ha ha ha, ngaco kamu!.
Sampai sejauh ini terus mengiang fatwa dari Komisi Pemberantasan Korupsi yang dinyatakan oleh Erry Riyana Hardjapamekas bahwa, "Tradisi mengirim parsel bisa saja menjurus pada penciptaan situasi yang tidak fair dan cenderung korupsi." Lalu larangan parsel ini disambut gembira oleh Lucky Djani dari Indonesia Corruption Watch yang mengimbau Presiden supaya melembagakan fatwa itu dengan menyatakan, "Misalnya, presiden bisa menerbitkan instruksi presiden menolak parsel."
Dengan memborong parsel itu, Presiden telah melanggar fatwa parsel itu. Lho, kamu itu bagaimana sih?. Yang disebut parcel gate adalah jika Presiden menerima parsel dari kalangan bawah. Tidak!. Lho, tidak bagaimana?. Sama saja, dari bawah keatas atau dari atas ke bawah. Yang jelas, apa saja yang ada hubungannya dengan parsel, haram hukumnya. Wah, haram hukumnya? Ha ha ha, kamu itu tidak bisa membedakan persoalan!. Kau kemanakan benakmu?.
Begini. Sudah jelas para pejabat negara dilarang menerima parsel karena parsel sudah dianggap sebagai sumber KKN. Dengan demikian, para pejabat juga dilarang mengirim parsel sekalipun untuk fakir miskin, karena parsel yang dikirm itu juga bisa menjadi "politik uang". Masih ingatkan politik uang?. Parsel dari presiden itu dapat ditafsirkan sebagai usaha merayu suara kaum dhuafa supaya tetap mendukung kepemimpinan Presiden. Nah, logis kan?.
Wah, pikiran kamu sungguh-sungguh ruwet!. Buat apa Presiden Yudhoyono merayu suara rakyat jelata, beliau kan sudah berkuasa. Berkuasa?. Disitulah letak bahayanya. Justru karena beliau sudah sangat berkuasa, harus berhati-hati. Kekuasaan dapat menelan siapa saja yang memegangnya.
Oke, setelah kena kartu merah, apa yang harus dilakukan presiden?. Sederhana saja, yaitu supaya presiden mencabut larangan mengirim parsel darimanapun kepada siapapun. Jika "parsel haram" terus berlaku, ini berarti pemerintah telah menolerir suatu sikap otoriter, main hakim sendiri, dari sebagian masyarakat masyarakat terhadap masyarakat lainnya. Ini jelas akan membangun masyarakat anarkis. Setiap lembaga bisa berbuat sewenang-wenang terhadap lembaga lain atau terhadap siapapun yang tidak disukainya. KPK dan ICW bertindak atas dasar dugaan-dugaan, jauh dari sikap rasional. Sikap begini sungguh berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar apa dan undang-undang apa KPK dan ICW bisa menelurkan keputusan yang aneh dan merugikan itu?.
Para pejabat negara dalam zaman reformasi ini koq suka berperilaku berlebihan untuk ukuran-ukuran yang lumrah. Misalnya ada yang mengembalikan Volvonya yang dianggapnya mewah, jauh dari "sama rata sama rasa" dengan rakyat miskin. Padahal mobil Volvo sebenarnya mobil standar untuk pejabat negara. Mobil Volvo dianggap sangkil dan mangkus ( efektif dan efisien ) bagi kinerja para pejabat.
Jangan sampai menolak Volvo jadinya kinerja penjabat itu jadi merosot. Merosot karena di rumah terus bertengkar dengan istri dan anak sebab rebutan mobil butut antara untuk belanja dan mengantar anak ke sekolah. Atau pejabat itu memilih bergelantungan di bus kota yang penuh sesak sehingga ketika turun di depan gedung MPR, pemimpin saya itu terhuyung-huyung karena kehabisan oksigen lalu masuk angin lantas terkapar diatas dipan yang keras dan kumuh sehingga tidak mampu bekerja. Apa itu yang dimaui dengan menolak Volvo?.
Dengan menolak Volvo, seolah bisa untuk membayar kemewahan yang diperlihatkan para wakil rakyat lewat gontok-gontokan. Konflik para wakil rakyat itu jauh lebih mewah daripada mobil Volvo. Saya percaya, pemimpin saya tidak "gegar kemewahan" disebabkan mengendarai mobil Volvo. Lagian, yang lain menerima koq yang ini menolak, kentara para wakil rakyat itu tidak kompak.
Yang penting, hatinya sederhana. Biar naik mobil rongsokan kalau hatinya mewah, tidak ada gunanya. Yang penting, para wakil rakyat bekerja sepenuh hati untuk rakyat. Jika bekerja sepenuh hati, sesuatu yang mewah itu jadi sederhana karena tertutup oleh prestasi kerja.
Seandainya seluruh pejabat negara menolak Volvo, tidak akan mengurangi kebocoran keuangan negara, tidak menambah kepatutan moral, dan tidak mendatangkan keuntungan berbentuk apapun karena mobil Volvo cuma setetes air di keluasan dan kedalaman sebuah samudera.
Sebagai rakyat kecil, saya ikhlas koq pemimpin saya naik Volvo. Tidak, tidak, saya tidak merasa iri dan sewot melihat pemimpin saya naik Volvo.
Sementara itu soal parsel, terus berkembang. Lho, kalau mau nyogok atau punya sikap pamrih terhadap kekuasaan dan uang, banyak jalan yang bisa dilakukan.Tidak perlu lewat parsel. Bisa lewat rekening dan itu sangat sulit dilacak. Juga bisa saja ditempuh jalan lain, misalnya dengan mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Indonesian Corruption Watch. Kenapa tidak ? Jelas, KPK dan ICW mau menunggangi Presiden Yudhoyono untuk menaikkan gengsinya. Awas lho, Presiden Yudhoyono, Anda jangan mau ditunggangi lembaga apapun dengan dalih dalih suci seolah-olah lembaga itu yang paling suci. Jangan-jangan karena ketidak mampuan KPK dan ICW dalam mengungkap kasus korupsi lalu mencari-cari kesibukan supaya nampak berjasa. Akibatnya pengusaha kecil yang coba mau berdiri, pada berkaparan.
Mulai sekarang bangkitlah Asosiasi Parsel Indonesia. Jangan bersedih dan jangan minta-minta dukungan DPR dan MPR atau lembaga manapun. Berjuang sendiri saja. Mulai hari ini jajakan ke kantor-kantor pemerintah dan gubernuran. Teriakkan: " Parsel suci hanya untuk pejabat suci !"
Posted by Cisca at 6:14 PM
Tuesday, November 1, 2005
Mudik Lebaran
Mudik Lebaran memang sudah bagaikan suatu ritus yang tidak jelas, entah keajaiban fenomena agama, sosial ataukah budaya. Berita kemacetan, kematian sudah menjadi pemandangan umum di berbagai jalur arus mudik. Inilah teror kehidupan yang tak pernah berhenti merenggut nyawa kaum urban di negeri ini setiap tahunnya. Padahal sepenggal harapan para pemudik itu, sesungguhnya hanyalah "rindu" untuk menjenguk kampung halaman. Rindu tanah asal kebudayaan, rindu sanak keluarga, adat istiadat, kawan-kawan lama yang masih betah hidup di kampung halaman. Kawan-kawan lama yang tak tersentuh gemerlap kehidupan kota. Menjenguk tanah asal kebudayaan untuk menciptakan kembali identitas diri adalah berkah lain dari tradisi mudik. Kekerabatan yang tercerai berai dalam kurun waktu satu tahun akan menemukan identitasnya ketika mudik menjadi orkestra terakhir kaum urban.
Dalam banyak hal, mudik juga merupakan asuransi sosial yang secara khusus akan mampu menekan ketegangan antara kota dan desa. Satu hal yang mustahil bisa ditilik pada masyarakat dunia manapun, dan agama manapun kecuali Indonesia dan Islam, bahwa realitas mudik menjadi sesuatu yang "wajib" bagi para pelancong, pejuang kehidupan, yang setiap hari mengais rezeki di kota-kota besar.
Di negara maju seperti Amerika juga ada ritus serupa seperti Christmas Day dan Thanksgiving Day. Dua peristiwa itu juga dijadikan ajang untuk berkumpulnya seluruh keluarga inti mereka. Tetapi ritus mereka tidak sefenomenal yang melibatkan banyak orang, sumber daya dan fasilitas negara dalam skala besar. Tidak dalam skala keluarga jaringan.
Padahal tidak ada kaitan signifikan antara ritual mudik ini dan penghayatan keagamaan seseorang. Unik memang!.
Bagaimana sebenarnya fenomena ini membawa manfaat bagi pembangunan regional khususnya di wilayah pedesaan, khususnya peran ekonomi bagi wilayah urbanite itu?. Yang terlihat adalah bentuk lain dari "buang kekayaan" selama hidup setahun mengepung kota, untuk kemudian menabur hasilnya ke desa. Yah, semacam reaksi massal terhadap dampak sosial pembangunan. Ada pertentangan antara sakralitas dan profanitas.
Lahirnya tradisi mudik memang berasal dari realitas sakral pada bulan Ramadhan, tetapi mudik itu sendiri realitas profan yang tidak memiliki kaitan dengan unsur-unsur nilai sakral. Malah fenomena ini melahirkan teror lain, berupa kecelakaan lalulintas selama dalam perjalanan mudik, yang semoga saja jumlahnya tidak akan makin meningkat sampai menjelang arus balik nanti.
Uniknya lagi, para pemudik ini mengatakan "gak plong kalo lebaran gak mudik". Seolah fenomena mudik ini merupakan "orgasme spiritual" menjelang Hari Raya Idul Fitri di negeri ini. Inilah siklus unik kehidupan yang juga menakjubkan di negeri ini.
Yah, mudik tetaplah mudik, tidak ada grand theory ataupun backmind yang jelas, selain kangen-kangenan pulang kampung, rindu tanah asal. ( Selamat mudik saudara-saudaraku )
Posted by Cisca at 8:11 PM
Sunday, October 30, 2005
Yang Masih Tercecer

"Kring..kring..kring..., suara bel sepeda Phoenix buatan Taiwan itu membelah panasnya Jakarta di sebelah barat dan kota. Sarman, si pemilik sepeda itu, ringan saja mengayuh tunggangannya melawan arah. Kadang "nyalib" di depan kendaraan lain yang melaju kencang. Raungan klaksonpun bersahutan mewakili kekesalan pemilik kendaraan lain. Peluh bercucuran dari wajah pak Sarman yang terlihat lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.
Namun suara klakson kendaraan lain tak membuat pak Sarman grogi, tetap santai dia mengayuh pedal sepedanya. Lewat kayuhan sepedanya inilah pak Sarman menyambung hidup keluarganya. Pria berusia 42 tahun ini adalah salah seorang pengojek sepeda yang kini masih banyak di kawasan Jakarta Kota. Bahkan menjadi tunggangan alternatif yang tak lekang oleh panas hujan dan tak lapuk oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Habis mau bagaimana lagi ?. Berjalan kaki ke tempat beraktivitas pasca kenaikan BBM ?. Apa Mungkin ?. Lihatlah bagaimana kondisi trotoar di negeri ini. Trotoar bukan lagi untuk pejalan kaki, tapi sudah dimonopoli oleh pengendara motor dan pedagang kaki lima. Belum lagi kondisinya yang tidak terawat, masih banyak terdapat kawat bekas galian, berlubang-lubang tidak rata dan ditumbuhi pepohonan yang akarnya kadang menyandung para pejalan kaki. Belum lagi galaknya pengendara motor yang jika mereka melajukan motornya di atas trotoar, lantas ada pejalan kaki yang dianggap menghalangi jalan mereka, mereka akan membunyikan klaksonnya, mempelototkan mata sambil mengumpat, Woi, minggir!. Nggak ngeliat apa lu!". (Minggir?. Lha mau minggir ke mana lagi. Trotoar kan tempat kami berjalan kaki?. Apa kami mesti turun ke bahu jalan untuk berjalan?. Yah, terpaksalah daripada saling ngotot, ngeyel, dan memang akhirnya hanya itulah yang bisa kami lakukan. Berjalan kaki di bahu jalan raya sambil mangkel di hati pula. Kadang masih juga beresiko keserempet oleh sliwerannya kendaraan umum seperti metro mini, kopaja, mini angkot dan pengendara lainnya. Belum lagi kami harus berjalan menghindar dari kerumunan para pedagang buah-buahan dan kaki lima lainnya yang ikut meramaikan suasana pertrotoaran disini. Aduh....)
Lain halnya dengan pak Sarman yang satu ini. Keluwesannya mengendarai sepedanya menembus semrawutnya lalulintas merupakan alasan mengapa masyarakat masih setia memilih angkutan tradisional ini. Bahkan pak Sarman telah mempunyai pelanggan tetap yang menggunakan jasanya usai jam kantor. Bersama sekitar 60 orang rekan-rekannya, pak Sarman menunggu penumpang dengan sabar di depan Stasiun Kereta Api Beos , Kota.
"Saya sudah tujuh tahun ngojek sepeda" katanya. Sebelum menjadi pengojek, pak Sarman mengaku pernah bekerja di berbagai toko dan pabrik di ibukota, namun ketidaksenangan diperintah oranglain membuatnya banting setir. Awalnya menjadi pengojek sepedapun gara-gara tetangganya menawari untuk membawa sepeda yang tidak dipakai lagi. "Yah..akhirnya keterusan sampai sekarang," katanya lagi sambil tertawa terkekeh mengusap peluh di dahinya.
Yang tidak bisa disembunyikan adalah guratan wajahnya yang seolah menjadi bukti kerasnya perjuangan hidup.
Soal penghasilan, pak Sarman menuturkan, "Yah...lumayanlah bisa mendapatkan 15 ribu sampai 20 ribu rupiah sehari, karena tidak dibebani setoran. Kalau pengojek lain yang masih dibebani setoran, harus menyisihkan sejumlah 15 ribu hingga 20 ribu rupiah kepada pemilik. Ini sepeda Phoenix saya beli seharga 300 ribu rupiah, kalau yang baru sih bisa sampai 500 ribu rupiah," katanya sambil menunjuk sepedanya yang telah dilengkapi jok tambahan itu.
Karena menjadi pihak yang lemah, daya tawarpun rendah. Sulit bagi mereka mematok harga. Nominal Rp.1500,- dianggap layak untuk berjalan dari Stasiun Kereta Api Beos menuju kantor pos yang berjarak sekitar 300 meter. Namun tak jarang pula, seberapapun uang yang diberikan penumpangnya mereka terima dengan ikhlas.
Kendati minim dalam penghasilan, mereka tidak minim dengan kebaikan. Bahkan persainganpun disikapi dengan bijak. Tenggang rasa menjadi sebuah keharusan ketika melihat ada teman yang belum mendapat penumpang. Mereka sadar betul bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Untuk apa saling sikut jika hanya menimbulkan penderitaan yang berujung pada ketidaknyamanan dalam hidup dan bertambahnya musuh ?.
Meski tidak semua pengojek sepeda memiliki sifat seperti pak Sarman ini, namun ada kesamaan yang tidak bisa hilang dari mereka, yaitu komunitas marjinal. Namun rasa "nrimo" lah yang membuat kaum terpinggirkan ini menjadi "survive". Setelah merasa cukup, tidak ada lagi niatan untuk merebut milik orang lain.
Saat ini ojek sepeda hanya ada di kawasan Jakarta Utara dan Kota. Mereka para pengojekpun menjadi fasih dengan perkembangan yang ada di wilayah itu, bahkan mereka sekaligus berfungsi sebagai pemandu wisata di kawasan yang memang terkenal dengan kota tua yang banyak peninggalan bangunan bersejarahnya. Dengan uang sekitar 20 ribu rupiah, kami bisa diajak berkeliling kota. Mulai dari Stasiun kota, Museum Sejarah Jakarta, hingga ke pelabuhan Sunda Kelapa, sambil dengan senang hatinya mereka menceritakan sejarah bangunan-bangunan yang ada di sekitar situ. Akan lebih menyenangkan lagi jika hal ini dilakukan pada malam hari, setelah terik matahari Jakarta terganti oleh semilir angin laut.
Kehidupan kadang terasa tidak berubah. Kala senja menyisir pantai teluk Jakarta, pak Sarmanpun dengan bersenandung lirih--entah lagu apa yang dinyanyikannya--membelokkan setang sepedanya ke rumah, menemui anak dan istrinya. Masih tampak sesungging senyumnya karena mengantongi hasil tetesan keringat yang diperolehnya seharian. Sembari berdoa pada Sang Khalik, "Tuhan, berilah kesempatan pada saya untuk bisa berbuat baik dan menjadi lebih baik lagi"
(Ah, sebait doa sederhana dari pak Sarman dan rekan-rekannya, yang masih sawang sinawang dengan koor serempak para anggota DPR ketika menerima tambahan tunjangan sepuluh juta rupiah, di tengah duka abadi karena naiknya harga bahan bakar minyak di negeri ini), terdengar jelas sampai kami kembali membuka hari esok.
Posted by Cisca at 5:29 PM
Tuesday, October 25, 2005
Tigaperempat Bulan Satu Perenungan
Memasuki bulan Ramadhan ini , kita mempunyai suguhan istimewa yang mendahului sahur pertama untuk berpuasa. Yaitu "hidangan" teror bom dan bahan bakar minyak. Hal yang pertama, selain mengundang perhatian dari seluruh kalangan dunia, juga menimbulkan anggapan pada masyarakat luas bahwa negeri kita adalah lahan bagi hidupnya satu bangsa yang telah disarangi kelompok teroris. Mungkin tak ubahnya laba-laba yang pernah saya lihat membuat jejaringannya di sudut-sudut dan langit-langit rumahku. Jika seperti itu keadaannya, maka kesimpulannya sudah jelas. Sayalah yang lalai. Lalai dalam memperkirakan bahwa segumpal kotoran ternyata tak lebih dari setitik debu yang jika dibiarkan terus menerus akan berkelompok dan menjadikan pemandangan di rumah sayapun tak bersih lagi.
Namun bom bukanlah debu seperti debu yang beterbangan di atas kepala saya ataupun seperti sarang laba-laba di dalam rumahku itu. Ia dapat menimbulkan ledakan debu yang sangat dahsyat. Tidak hanya kepada harta benda yang kita miliki, rumah kita yang berdiri di atas tanah negeri ini, tapi juga ledakan ketakutan di hati seluruh penduduk dunia.
Bahkan Mesir yang beberapa tahun terakhir dikenal sebagai negara yang cukup amanpun, ternyata eskalasi kekerasan di negeri itu belakangan ini cukup mencemaskan pula. Arab Saudi juga sampai sekarang masih dalam pertarungan melawan kelompok garis keras yang bersembunyi di negara itu. Begitu pula di Marokko, juga Cassablanca yang menjadi saksi bisu aksi antikemanusiaan ini.
Saya tidak pernah mengerti mengapa tindak kekerasan kini semakin menjadi-jadi justru ketika peradaban semakin menua. Seingat saya, pijakan analisis yang terkait dengan masalah terorisme ini adalah masa terjadinya tragedi 11 September tahun dua 2001, empat tahun yang ada di hadapan jika kita berjalan balik menghampiri peristiwa itu.
Setelah masa itu, ada dua perasaan yang saling "menikam" hati umat Islam. Pertama, rasa duka karena tragedi itu mengorbankan rakyat yang tidak bersalah. Kedua, rasa suka karena mereka--pelakunya--menganggap sebagai ekspressi perlawanan umat Islam terhadap Amerika yang selama ini selalu memojokkannya. Kedua perasaan yang saling menikam itu meninggalkan bekas yang sama saja: luka. Rasa suka seperti yang bagaimana jika aksi berdarah berarti bersekongkol dengan kejahatan ?. Namun pada perjalanan selanjutnya, rasa duka itupun terkalahkan dengan rasa suka setelah Amerika menyatakan perang terhadap kelompok Osama bin Laden yang bersarang di Afganistan. Aksi protespun memenuhi negara Islam. Bahkan aksi-aksi protes ini menobatkan seorang Osama sebagai "pahlawan Islam".
Ketika Amerika menghadapi Uni Sovyet di Afganistan, untuk menaklukkan Sovyet, Amerika pernah juga melakukan hal yang sama, yaitu bekerja sama dengan garis keras Islam yang juga melibatkan Osama. Karena mempunyai keinginan yang sama, maka terjalinlah kerja sama yang rapi untuk menghancurkan musuh bersama saat itu, yaitu Sovyet. Oleh karena itu, ketika kelompok Osama yang dulunyapun dilatih Amerika untuk menghancurkan Sovyet kini berbalik menyerang Amerika, maka penamaan yang tepat untuk kondisi itu tak lain adalah senjata makan tuan. Silang kepentingan yang menjadi pemainnya.
Mari kita bedah perkembangan teror yang terakhir ini banyak menghantam umat Islam sendiri. Ada perbedaan antara koalisi umat Islam dan kelompok garis keras yang dilakukan ketika Amerika menyerang Osama, dengan koalisi yang dilakukan Amerika dan garis keras untuk menghadapi Sovyet. Perbedaannya ada pada tujuan dan sokongan kekuatan. Untuk menumpas "musuh" sebesar Amerika perlu kekuatan tangguh secara militer dan ekonomi. Sedangkan "koalisi tak bersenjata" antara umat Islam dan garis keras tidak mumpuni, lambat launpun melemah dan kemudian hancur. Umat Islampun "menginjak" figur seperti Osama, dengan bermunculannya slogan dimana-mana bahwa Osama merusak citra Islam.
Di sisi lain, kalangan garis keras yang merasa dikhianati, menuduh negara-negara Islam bekerja sama dengan musuh. Aksi kekerasanpun mulai dialamatkan kepada mereka, termasuk Arab Saudi, Maroko, Mesir dan kami Indonesia. Kitalah yang selalu menjadi sasaran kekecewaan siapapun dan apapun terhadap perputaran waktu yang senantiasa mengandung kejadian, peristiwa dan yang kemudian menjadikannya sebagai sejarah.
Sekarang tentang saudara seibu kita disini. Keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi bahan bakar minyak dan membagikan dana kompensasinya dalam bentuk bantuan langsung secara tunai kepada rakyat telah mengalihkan isu politik yang sensitif tentang hal itu, menjadi isu yang sangat teknis di lapangan. Ketika bantuan tunai dana kompensasi BBM itu sedang dibagikan kepada seluruh rakyat, antrian warga yang sedemikian panjang membuat kondisi fisik saudara kita menjadi lemas dan akhirnya pingsan dalam barisan rakyat miskin. Bahkan ada yang pingsan dan tak tertolong lagi hingga menemui ajalnya. Ada pula diantara kita yang mengomel karena tidak dapat menahan diri untuk bersabar menghadapi situasi di lapangan. Bahkan seorang nenek di Jogjakarta nekat menerjunkan dirinya ke dalam sungai untuk bunuh diri saja karena sudah frustrasi dengan urusan penerimaan kartu kompensasi BBM itu. Jika takut bunuh diri tapi tidak takut membunuh yang lainnya, seseorang di negeri inipun dapat dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain di luar dirinya hanya karena faktor emosi. Seorang ketua RT (rukun tetangga) di daerah Jambi kabupaten Bungo, tewas dibunuh salah seorang warganya yang emosi karena korban tidak mendaftarkan warga tersebut sebagai warga miskin penerima dana kompensasi BBM.
Ada lagi pernik yang lucu. Di Sulawesi tengah kabupaten Donggala, ada keluarga yang menolak di daftar sebagai warga miskin karena malu dengan anggapan itu. Yah, istilahnya biar miskin yang penting sombong. Ini menyulitkan badan pusat statistik disana. Karena selain kurangnya waktu untuk pendaftaran dan tenaga pendata, juga kondisi geografis yang sulit dijangkau. Untuk mencapai daerah pegunungan dan kepulauan di sana harus naik kuda, bahkan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Kalau ada warga yang malu dianggap miskin dan menolak bantuan tunai tersebut--padahal memang miskin keadaannya--ada lagi keluarga yang keadaannya cukup layak namun mengaku miskin supaya bisa mendapatkan bantuan itu. Ada pula diantara kita yang mengajukan protes jika tidak didaftar sebagai warga miskin, karena kemiskinan adalah identitas rakyat di negeri ini. Kita khawatir jika tanpa identitas kemiskinan itu, pemerintah tidak dapat mengenali kita lagi...
Padahal, penentuan kriteria keluarga miskin inipun sebenarnya tidak luput dari persoalan tentang bagaimana variabel yang disebut miskin itu, jika dikaitkan dengan tingkat penghasilan keluarga. Ada sebuah keluarga yang rumahnya dibangun dengan sistem gotong royong--seperti arisan pembangunan rumah-- sehingga kondisi rumah yang ditempatinya tampak layak. Padahal jika ditinjau dari besarnya penghasilannya perbulan, mereka tergolong miskin.
Ada lagi yang berkesan seperti bantuan salah alamat. Dana kompensasi BBM dikirim kepada keluarga yang tergolong mampu, sehingga bantuan tunai itu bukan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari , tapi malah digunakan untuk membeli baju baru buat lebaran. Ada kepala desa yang dihajar karena urusan pembagian subsidi tunai langsung itu, namun ada pula kepala desa yang diam-diam ketahuan menyunat uang bantuan itu hingga 20%. Ini semua terjadi memang karena buruknya pengamanan dan kontrol kita selama di lapangan.
Dan yang paling memprihatinkan, semua ini terjadinya justru pada bulan Ramadhan. Bulan yang seharusnya tepat untuk sebuah kontemplasi yang manis pada diri setiap umat Islam.
Rakyat di negeri ini selalu terpapar sebagai model dari dua realita hidup: Islam dan kemiskinan. Kemiskinanlah yang menobatkan dirinya menjadi ibu dari semua keturunan dan anak cucu persoalan di negeri ini. Agama yang tidak mampu menggerakkan umatnya untuk mengamalkan ibadahnya dalam hidup bermasyarakat, diibaratkan sebagai bapak yang lama kelamaan menjadi impoten karena setiap hari ibu selalu mengomel tentang urusan dapur. Dan bapakpun mulai banyak berdiam diri karena sudah pusing tak menemukan lagi cara jitu untuk menenangkan ibu yang selalu menuntut penghasilan yang memadai, sebagai landasan kebutuhan hidup.
Posted by Cisca at 5:24 PM
Saturday, October 15, 2005
Air Mata
Izinkanlah kami, rakyat miskin, untuk memeras airmata darah. Itulah satu-satunya yang kami punyai, tinggal. Tidak, tidak. Kami rakyat miskin tidak menangis lagi. Kami hanya meminta izin untuk tetap sengsara disebabkan ketidak becusan kami dalam berburu nafkah. Jangan cambuk lagi kami dengan kasih sayang, cambuklah kami dengan penderitaan sepuluh tahun lagi, duapuluh tahun lagi, limapuluh tahun lagi, supaya kami, rakyat miskin, terus belajar bagaimana bertahan di segala cuaca.
Ketika menyadari bahwa setiap hari kami sangat kesukaran dalam mengatur uang belanja kami yang cupet, kami sadar, semakin mempersulit kerja siapapun yang mencoba menolong kami. Ya, kami menjadi beban. Beban yang berat sekali bagi siapa saja yang memikul kami.
Bagaimana kemungkinannya jika kami mengajukan eutanasia saja. Sekitar separo dari penduduk negeri ini, rakyat miskin, bisa dieliminasi supaya beban yang menyebabkan semuanya menderita bisa berkurang dalam sekejap. Tak ada gunanya memelihara rakyat miskin. Disamping sangat menghambat moderinisasi, rakyat miskin juga sangat boros dalam melahap kekayaan bangsa.
Kenaikan harga BBM memang fatal. Kami, rakyat miskin, ditempeleng telak. Kami terkapar. Ada saja anak-anak kami yang mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar yuang sekolah. Tidak tanggung-tanggung, 27.000 murid sekolah di Bogor terancam putus sekolah. Dewasa ini, kami yang jumlahnya ribuan, macet sekolahnya. Lalu menggelandang mencari pekerjaan apa saja. Kami juga menjadi pemulung, pengemis, penjambret, pencuri, perampok, pemerkosa, pembunuh, agen dari segala kerusuhan dan huru-hara. Pernah dengar sopir taksi yang dibunuh dan duitnya dijarah?. Itulah kerja kami. Kami membunuh kami, karena hanya dengan jalan itu kami bisa hidup.
Mitsubishi hengkang dari kebun kita dan memilih berinvestasi di Thailand, yang menyebabkan kami mampus. Berapa ribu karyawan yang kena PHK?. Tanpa dibunuhpun kami sudah tewas. Nah, beban dari yang berwajib berkurang dalam mengurus kami, setelah kami mundur dari dunia ramai. Alangkah mudahnya mengurangi derita. Barangkali sebentar lagi menyusul Honda, Hyundai, KIA, Toyota, Daihatsu, Suzuki, apa susahnya. Perusahaan besar datang dan pergi sesuka hati. Seperti datang dan perginya awan yang membentang di langit yang dapat diharapkan menjadi hujan.
Kami, rakyat miskin, memang sering bikin ulah yang menyebabkan para investor tidak tenang hidupnya. Yang berwajib tidak memperbaiki semua itu karena memang tidak mampu. Rasa aman, rasa tidak digerogoti, sudah sangat berat untuk ditanggulangi. Memang menyelenggarakan konferensi, kongres, muktamar, dan rapat-rapat jauh lebih memikat karena ringan, namun duitnya banyak, daripada menjaga para investor itu dari segala rongrongan.
Musim semi ekonomi Indonesia telah tiba, yang menikmati tentulah hanya para petinggi dan elite politik. Meski terdengar kata-kata mutiara: "Pesta yang buruk adalah pesta tanpa mengajak kaum miskin", tolong jangan ajak kami ke pesta, sebab itu cuma basa-basi yang sudah disobek dari lembar buku-buku pelajaran bagi orang-orang beriman. Orang-orang beriman sudah memiliki buku-buku baru yang lebih cocok.
Apalah arti musim semi ekonomi bagi rakyat miskin?. Semuanya itu cuma pembicaraan yang tidak mampu kami pahami. Yang kami butuhkan hanyalah yang serba konkret. Jika kami sakit beri kami obat. Jika lapar, beri kami makanan. Kalau sedih, hibur kami. Tapi, itu semua sudah tamat. Yang kami perlukan cuma eutanasia. Nah, kerjakan sekarang, mumpung penderitaan kami belum bertambah-tambah. Sekitar seratus delapan puluh juta jiwa bakal lenyap sekelebatan. Itulah pengertian yang selama ini kami yakini.
Kami tahu, beban berat tidak bisa dipikul terus menerus tanpa dipunggah dari pundak. Ayo, beristirahat. Kami berteduh di bawah pohon besar untuk melepas lelah dan peluh yang mengucur. Kami susun kembali karung-karung besar beban yang menggunung di sisi kami ketika kami lelap. Kami bermimipi sejenak: Mimpi tentang anak-anak yang kami lahirkan yang menempuh hidup di kemudian hari. Anak-anak ceras dan berbakti yang tetap saja digarong oleh masa depannya.
Andai kami bisa membentengi keturunan kami dari segala kerusuhan dan saling menerkam lewat mimpi kami ini. Ah, mimpi adalah godaan yang kami bangun sendiri dengan perih. Waktu jaga sudah kembali, haruskah kami terus bermimpi dan tak kembali lagi ke bumi. Alhamdullillah. Hidup hanya sepenggal catatan kusam yang tidak dibaca lagi. Kesanalah segala kesedihan berlabuh sampai kapal rusak dan tak mampu melaut lagi. Kami hanya rakyat miskin yang setiap saat dilupakan. Yang boleh dianggap tak pernah ada. Robeklah catatan dan kamipun lenyap.
Segala pasang surut APBN, harga minyak, dan para investor tak juga tertarik untuk mengadu untung di sini karena bahaya mengancam di setiap sudut kota, itu kesalahan kami, rakyat miskin, yang tidak memahami seluk-beluk citra dari segala penampilan. Kami sudah pasrah dengan segala tangan yang terikat ke belakang. Gusur kami, usir dan hardik. Penggal!, maka kepala kamipun menggelinding.
Kami, rakyat miskin, tinggal punya air mata darah. Seperti yang sudah diumumkan oleh Tsunami, Buyat, demam berdarah, flu burung, Polio, raskin, maupun tanah longsor dan banjir. Semua keterbukaan sudah tertutup bagi kami. Sampai disini riwayat kami. Jangan diperpanjang lagi derita yang hanya meninabobokan. Kami letih.
Konyol kami tak mampu melepaskan beban sendiri tanpa bantuan siapapun. Segalanya pernah ditulis. Segalanya pernah dikenang. Untung bagi kami yang kami hadapi hanyalah sisa-sisa kekuatan dari masa lampau yang sungguh tak sakti mencoba memberi nyawa kami. Yang papa, yang sengsara. Keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, meski bagaimanapun pernah kami cecap, sedikit. Selamat tinggal.
Posted by Cisca at 5:14 PM
Tuesday, October 4, 2005
S e n y u m
Mengapa para koruptor yang tertangkap dan diadili tampak tersenyum manis?. Kenapa?. Boleh jadi hanya para psikolog yang tahu persis, mampu mengorek rahasia senyum mereka. Namun demikian, bolehlah kita menduga-duga arti senyum manis para jawara penilap uang negara itu.
Kemungkinan para koruptor meyakini bahwa uang negara yang berada di bawah kekuasaannya adalah uangnya. Mereka meyakini bahwa gaji cupet hanya mengantar keluarga menuju jurang kehancuran, sehingga harus diburu upaya-upaya radikal untuk mengatasinya. Mereka meyakini bahwa kedudukannya sebagai pejabat merupakan berkah yang memberi peluang untuk memperkaya diri sendiri, sementara negara tidak mungkin mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya. Mereka meyakini bahwa setiap orang adalah koruptor, sehingga apa salahnya untuk tidak berbeda dengan sesamanya. Mereka meyakini bahwa bagi Indonesia sudah tidak ada harapan lagi melewati krisis dasamuka di negeri ini, sehingga setiap pejabat harus cukup bijaksana untuk mengambil tindakan-tindakan seperlunya untuk memperlambat kehancuran itu dengan menggerogotinya perlahan-lahan, supaya tidak sakit-sakit amat sekaratnya.
Ya, di Indonesia, hanya orang gila tidak korupsi. Jadi, setiap orang jadi tertuduh korupsi. Jika setiap orang jadi tertuduh koruptor, betapa sehatnya orang Indonesia. Hanya orang-orang sehat yang mampu korupsi. Jika seseorang sakit-sakitan, korupsinya tidak meyakinkan sehingga tidak pantas mendapat sebutan koruptor.
Lebih-lebih lagi, segala tindakan para koruptor mengatasnamakan dan demi kejayaan bangsa dan negara. Dus, tak akan ada penghalang lagi dalam melaksanakan cita-cita itu. Untuk bangsa dan negara, segala daya harus habis-habisan disumbangkan. Jika tidak, sungguh tak pantas disebut koruptor. Begitulah, setiap koruptor berlomba untuk berjasa bagi bangsa dan negara. Dengan demikian, mereka harus tampak tersenyum manis supaya memikat segenap rakyat.
Senyum Abdullah Puteh, gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, tampak pipinya terangkat montok dan manis sekali, jauh lebih manis daripada senyum yang ia berikan kepada istrinya. Senyum itu begitu telak menonjok kita hingga kita terkapar, masih juga ia menambah celetukan "Emangnya gue kagak tau kalo korupsi loe lebih gede!". Memang, kita harus mengakui bahwa korupsi kita jauh lebih gede ratusan kali daripada dia yang cuma tiga milyar rupiah lebih sedikit. Senyum yang sinis dan begitu tampak bijaksana tak membawa-bawa nama kita secuilpun. Bahkan, ia sudah bersumpah di bawah kitab suci Al Quran (yang kita tentu takut melakukannya) bahwa ia tidak bersalah dan sama sekali tidak melakukan tindakan korupsi.
Dalam senyum sehari-harinya ketika masih memegang jabatannya, ia tidak segitu manisnye. Khusus dalam peristiwa yang bersejarah itu, ia telah memberikan senyumnya begitu syahdu sehingga kita bagaikan mengalami pencerahan. Rasanya, jika kita tak mampu mengendalikan diri, kita akan serempak berteriak menyambutnya, " Korupsi kami jauh lebih gila!"
Senyum Mulyana W. Kusumah yang merebak ketika ia diseret oleh petugas, meski tampak lelah dan kuyu, namun begitu penuh pengertian atas segala sesuatu yang penuh rahasia itu. Ia yang paling muda dan bersedia menjadi martir, tentu hal yang itu merupakan sikap hidup yang penuh keteladanan. Ia mahfum, bahwa jika uang yang amblas sekitar 90 milyar rupiah, bagaimana mungkin seseorang yang bisa menyelamatkan seluruh jajarannya cuma minta 150 juta rupiah. Kan mustahil.
Apakah kita punya keberanian untuk menjadi martir, menjebakkan diri di sarang macan dengan resiko yang begitu besar. Karir dan keluarga hancur demi kebenaran. Dibanding Puteh dan Mulyana, kita cuma macan kertas. Secara mental dan tingkah laku, kita ini tak lebih dari jiwa budak mental kere, dan hal itu tampak begitu jelas bagai siang bolong dalam senyum Puteh yang penuh pelecehan terhadap jiwa kita. Betapa lemahnya kita!.
Sementara itu, tataplah senyum sepuluh orang bekas anggota DPRD Solo (1999-2004) yang dikerangkeng dalam kasus Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2003. Senyum mereka penuh kebanggaan diri. Senyum mereka yang menohok dada kita dengan penuh kesadaran diri. Kesepuluh orang itu tampak tersenyum ngobrol santai di balik kerangkeng yang bersih, yang bukan tidak mungkin memaki-maki kita dengan: "Bangkai kalian!".
Sungguh, betapa kerdil kita dalam mengikuti gerak hidup yang rutin, miskin dan menyedihkan. Kita membiarkan tubuh dan jiwa terseok-seok tanpa mampu membela dan meningkatkan diri untuk sekedar hidup pantas di tengah kemewahan yang melangit. Menapaki zaman gila, zaman bangsat, dimana kejujuran jadi tinja yang menempel di aspal jalanan sehingga banyak orang kecipratan sampai belepotan dan bau itu dibawa kemana-mana. Bau busuk yang tanpa kita sadari mencoba menjunjung hidup secara adil dan manusiawi, yang hasilnya cuma menggelikan di mata para paksasa yang memamah biak batang-batang kayu gelondongan.
Dan senyum kita, sungguh senyum yang tidak dibuat-buat, meski menjengkelkan karena tampak begitu tolol. Begitu tolol di hadapan para penguasa dan pejabat yang sangat lihai memainkan perannya dalam memanipulasi nilai-nilai yang kita agungkan sebagai penjelmaan ilahiah.
Masih banyak ragam senyum dari sejumlah senyum yang belum tampak di dalam layar monitor. Masih harus menunggu berapa lama lagi. Senyum para raksasa yang gigi-giginya sebesar gajah, tentu senyum yang sangat berbahaya bagi keselamatan hidup kita, bangsa dan negara. Kita, rakyat kecil yang ketakutan bisanya cuma menangis. Namun, tangis rakyat kecil adalah tangis kesejatian. Tangis kesejatian yang tak mungkin dimiliki para raksasa yang sudah terlanjur kepentok jalan buntu.
Posted by Cisca at 4:32 PM
Friday, September 30, 2005
Diktator Kecil
Rakyat yang kelaparan adalah ayat-ayat Allah yang menenggelamkan kita ke dalam samudra kegelapan sehingga kita seperti orang yang hilang kesadaran. Tak mampu bernafas, tak mampu berenang, kita dibelit arus yang kuat menyeret kita ke dasar dari segala lumpur. Semua kemampuan kita untuk tegak berdiri telah runtuh oleh ketidak jujuran kita. Beban tanggung jawab yang keras mengira kita mampu memikulnya, tidak dan tidak. Itu semua di luar kekuasaan kita.
Tersebar di lembaran-lembaran kitab suci, yang tak bisa kita tafsir seratus persen karena lebih pelik daripada telaga yang paling pelik. Namun, alhamdulillah, kita punya kekuasaan yang dengan stempel kediktatoran untuk mendesakkan kemauan kita. Semua wajib mengikuti kita.
Kita adalah diktator kecil dengan kekuasaan besar, karena mampu menilap uang rakyat yang sedang sekarat. Apalah arti Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Nias, maupun sembilan gunung yang siap meletus, yang seluruhnya berada di bawah kekuasaan kita. Kita adalah kekuasaan yang bisa bikin puyeng murid, orangtua murid, guru dan rakyat papa lainnya yang kandas sekolahnya. Kita adalah diktator kecil di masing-masing meja kecil kita, namun daya rusaknya persis kapal perusak. Setiap keluarga bisa kita hancurkan dengan sewenang-wenang. Seluruhnya memakai ukuran-ukuran kita sendiri, sebagai keperkasaan hukum, yang tidak pernah lengah memantau seluruh situasi.
Seluruh peta telah kita kuasai. Seluruh tambang sudah kita gali. Seluruh padang dari segala kawasan sudah terperangkap dalam pemantauan kita. Ya, kita adalah gurita!. Mbahnya segala gurita adalah kita, diktator kecil yang rakus, yang memamah biak, yang terus menelan apa saja yang masuk mulut. Tidak ada sesuatupun yang mampu mengenyangkan kita.
Biar kecil tapi diktator, itulah segalanya. Kita barangkali cuma pesuruh kantor, tukang ngumpulin berkas-berkas atau satpam. Tapi jangan salah, kita bisa gertak seorang professor doktor hingga keder dan menuruti perintah kita karena kedudukan kita di pusat pemerintahan. Diktator kecil bisa mengubah demokrasi menjadi premanisme karena cara kita memberi wawasan, taktik atau cercaan untuk berkelit dari kebohongan menjadi kebenaran. Semua dosen di seluruh negeri tunduk dan patuh. Jika membangkang, kita sikat. Kita bisa menaikkan gaji kita sampai 400% dan tidak perduli terhadap protes dan pemogokan dosen yang lain.
Rakyat yang menangis adalah ayat-ayat Allah yang berdemonstrasi menuntut keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, menggerogoti jalan raya, bergentayangan di bus-bus kota. Kita tahu kebutuhan sudah menjadi hak rakyat, tapi diktator kecil tak mau tahu. Rakyat yang menjerit, yang sudah tak mampu menyekolahkan anaknya meski di kelas-kelas miskin sekalipun, minta tidak dibeda-bedakan antara kelas mewah dan kelas kere. Diktator kecil harus tetap membedakan karena karena hasil sabetan yang berbeda. Begitu juga dukungan diktator kecil atas universitas yang mata duitan. Protes para mahasiswa dianggap suatu bentuk yang tidak paham cara pengelolaan universitas yang membutuhkan biaya mahal. Tobatnya para dosen sudah menyundul langit, harus cari biaya sendiri untuk memajukan dan memelihara universitas karena ongkos untuk semua itu sudah digondol sang diktator.
Diktator kecil tidak perduli di tengah bobroknya dunia pendidikan, masih mampu menelurkan para jagoan fisika. Para jawara kecil itu mengharumkan nama bangsa dan dunia pendidikan, ketika rakyat dimana saja makan apa saja yang bisa masuk mulut.
Rakyat yang mengais-ngais apa saja yang bisa dimakan adalah ayat-ayat Allah yang merongrong hati kita siang malam untuk memahami kebutuhan dan hak yang saat ini sudah semakin hilang dari ingatan kita. Kita tidak tahu lagi dimana adanya kebutuhan dan dimana adanya hak itu. Jati diri kita sudah musnah dimakan birokrasi. Para birokrat, dimanapun berkutat, tidak mengenal lagi reformasi karena reformasi sudah dilipat-lipat. Kita semua sudah lupa bahwa gerakan reformasi pernah digulirkan.
Rakyat yang menaruh harapan besar kepada reformasi, tinggal gigit jari karena yang muncul justru para diktator kecil. Para diktator kecil ini mengerikan karena kelihatan tidak berkuasa, tetapi ternyata sangat menindas.
Diktator kecil menguasai seluruh sektor. Sektor reformasi maupun sektor konservatif. Mereka menyelinap di pemerintahan, lembaga, departemen, partai, LSM, maupun bermain independen. Sebagai free lancer, diktator kecil mendukung semua elemen yang bertikai dan berperan sebagai penengah, kelihatannya. Padahal ia sebenarnya pengobar kerusuhan. Dalam huru-hara, ia memperoleh keuntungan lebih besar dari kedua elemen yang saling bermusuhan itu. Konyolnya, kedua kelompok yang bertengkar itu percaya kepadanya dan menyerahkan urusannya.
Dalam "dunia nafkah" yang rakyat hidupi sepanjang hari, rakyat punya etika profesi. Rakyat tidak mencaplok nafkah orang lain, karena jika hal itu dilakukan, rakyat tidak tahu sopan santun. Rakyat juga memegang tanggungjawab moral untuk tidak melakukan hal-hal yang terlarang karena di atas itu bercokol moral yang dijunjung tinggi. Sementara itu, rakyat juga punya tanggung jawab sosial yang mematuhi aturan dan hukum yang berlangsung di dalam masyarakat.
Diktator kecil tidak perlu mematuhi etika profesional, tanggungjawab moral maupun sosial. Yang penting bagi diktator kecil adalah serang, terjang. Meradang, urusan nanti belakangan. Tak perduli sakit dan sedih. Tetap sabar, senyum tetap mengulum. Diktator kecil yang berkuasa atas segala hal yang terungkap dan tersembunyi. Diktator kecil sudah mengatur siapa yang harus benar dan siapa yang harus berperan sebagai yang salah. Semua pendukungnya berteriak: "Hidup diktator kecil !".
Posted by Cisca at 6:29 PM
Thursday, September 15, 2005
Skala Prioritas

Dalam skala prioritas berbeda, tidak akan pernah terjadi kata sepakat kalau kompromi makin lama makin dituding sebagai rekayasa yang tidak demokratis. Maka ditempuhlah jalan voting dengan berbagai cara hingga keluar pemenang. Tetapi setelah ada yang menang, yang lain merasa dirinya kalah. Sampai disitu semuanya tampak normal. Tetapi posisi kemenangan sudah berlabel kemuliaan sehingga menimbulkan keirian.
Kekalahanpun menjadi keaiban yang berakhir sebagai rasa hina sehingga lahir dendam. Fungsi oposisi tak akan pernah menjadi proses bersparing partner, tetapi usaha penggulingan. Disitu perbedaan menjadi pertentangan, perseteruan dan akhirnya permusuhan.
Apakah itu sebuah penggambaran yang salah?. Tidak mungkinkah kita sudah terlanjur menempuh jalan yang salah karena ingin memestakan kebebasan?.
Kita pikir dengan memakai baju demokrasi segala keberuntungan yang kini menjadi atribut negara-negara maju, otomatis akan berjatuhan dari langit tanpa perlu upaya apa-apa lagi. Lalu kita tinggal menunggu untuk memungut hasilnya sebagai durian runtuh.
Siapa yang mau mengaku terus terang bahwa sekarang ini dirinya masih sedang belajar mempraktekkan demokrasi?. Semua cenderung mengatakan mereka sedang menjalankan demokrasi, meskipun kita selalu mengakui era ini adalah era pembelajaran. Dan yang sangat penting, kita lupa bahwa sebelum bisa "memakai" demokrasi, kita harus sepakat dulu tentang maknanya.
Itulah konsekuensi mimpi besar kita yang memfatwakan bahwa yang kita perlukan hanya sebuah sistem yang tepat, rapi dan berjalan mulus. Sungguh mengherankan mengapa kita bisa begitu saja percaya bahwa sistem bisa hidup otomatis tanpa sentuhan manusia. Komputer yang paling canggih sekalipun memerlukan operator. Bagaimana sistem itu akan berjalan kalau tidak digerakkan oleh manusia-manusia yang terlatih ? . Bahkan, bilamana dia sudah bergerak dengan sendirinya sebagai mekanisme yang otomatispun, masih harus terus diawasi citra manusia agar bisa "hidup" laras. Artinya, disamping canggih, sistem tetap mampu menjawab seluruh fenomena baru yang tiba-tiba mencuat.
Adanya sistem yang sudah berjalan dengan sendirinya karena dominasi individu yang sewenang-wenang ( karena dikultuskan sebagai pemimpin ), tidak akan terjadi lagi. Tapi tampaknya tak ada "pahlawan" yang akan sudi membiarkan manusia hanya berperan sebagai robot-robot dan sistem menjadi berhala. Cepat atau lambat mereka akan terusik. Dengan bahasa yang lebih cantik " terpanggil dan menamakan tindakannya sebagai kebangkitan manusiawi".
Kita tidak akan bisa selamanya bicara tentang sistem hanya sebagai sistem. Di belakang sistem itu ada chip pemikiran yang berasal dari manusia. Yang pada batas tertentu harus dikembangkan dan ditingkatkan, karena kalau tidak bisa kadaluarsa. Atau pada batas tertentu minta pengakuan, karena ia memang sudah memberikan pengorbanan dan jasa. Bagaimanapun hebatnya masa lalu, setiap zaman tetap memiliki kehendak yang harus dikejar oleh manusia-manusia penghuninya, yang nasibnya selalu " ketinggalan kereta ".
Terlalu salahkah kita kalau dikatakan sejujurnya---kendati pikiran kita ingin menolak--- bahwa kita kini memerlukan kehadiran "orang kuat" yang memiliki kharisma dan membuat kita semua patuh kepada hukum agar keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, pemerataan dalam segala hal terjadi ?. Tetapi mulainya bukan karena semata-mata didorong oleh hasrat nurani sendiri.
Agar para saudagar kelas kelontong maupun kelas kakap tidak seenaknya memainkan kelihaiannya, menjerat keuntungan dan sukses dengan dalih berbakti kepada negara. Ada etika kemanusiaan yang membatasi seluruh cabang profesi sehingga tak hanya hirau pada kesejahteraannya sendiri, tetapi kepada kelayakan setiap individu, sesuai dengan sila keadilan sosial dalam dasar negara.
Terlalu konyol kan kalau kita berkoar bahwa kini kita merindukan sebuah rezim yang begitu kuatnya sehingga hukum tegak dengan penuh wibawa?. Itu berarti bukan sistem, tetapi manusia pelakunya yang menjadi skala prioritas. Anda pasti berkata, tidak. Para intelektual pasti dengan tak ragu-ragu lebih menobatkan "sistem" sebagai Ratu Adil di dalam ramalan Joyoboyo. Bahkan, SBY semasa kampanye, ketika ditanya wartawan tentang satria "piningit", beliau mengatakan itu bukan orang, namun sistem. Dan kita memang sedang melaksanakan itu. Maka kita tendang sistem desentralisasi yang kita anggap biang kerok segala kebrengsekan masa lalu, lalu memuja dan memestakan otonomi daerah. Namun belum benar-benar terlaksana, sudah timbul seabrek masalah, karena itu melahirkan raja-raja yang bandel di daerah.
Skala prioritas kita memang pada dasarnya berbeda. Jadi, bukan hanya dalam hal adat istiadat, bahasa, keyakinan, kita memang tak sama, seperti yang diungkap dalam Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga dalam pemahaman tentang hal-hal yang aktualpun, kesimpulan kita lain-lain. Ada yang tidak mau menerima realita bahwa kualitas manusia kita tidak sepadan dengan negara kita yang besar dan luas dengan segunung permasalahan tertunda, sehingga kontan menuding kegagalan kita selama ini karena sistem yang salah. Pelaksanaan yang tidak bereskah, prosesnya yang menyalahi prosedurkah, dan sebagainya. Yang dinobatkan kemudian menjadi prioritas adalah sebuah sistem yang canggih, lebih tepat, lebih pas. Undang-undang Dasar 1945 misalnya, yang awalnya dipuji karena supel dan fleksibel, sekarang dicerca habis karena tidak lengkap. Tapi untuk membuat yang baru, kitapun tak kuasa. Bukannya tidak mampu, tetapi setiap berunding selalu ada skala prioritas yang berbeda sehingga tak pernah ada kata sepakat.
Ada juga yang melihat kunci dari semuanya adalah kaliber manusianya. Semua yang sedang pegang kekuasaan sekarang dalam pemerintahan maupun swasta berasal dari sebuah masa lampau.
Pemimpin Indonesia di masa depan, mungkin sekarang masih sekolah di TK atau masih dalam kandungan. Mereka mestinya diberikan dunia lain dengan memberikannya pendidikan baru. Paling sedikit agar tabu mengopi yang dilakukan oleh orangtuanya.
Pendidikan tak lagi hanya memfokus pada pendidikan formal sekolah, sebagaimana yang semakin menajam sekarang. Tetapi pendidikan total, baik dari orangtua, lingkungan, serta pendidikan moral. Banyak hal mesti dirembuk kembali, antara lain untuk memberi arti yang baru pada kompomi.
Banyak orang sudah bicara sinis tentang Pancasila, khususnya karena Pancasila sudah dipakai sebagai senjata untuk menggebuk. Namun, sampai sekarang Pancasila masih tetap merupakan dasar negara. Satu di antara sila-silanya menyebutkan tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Itu adalah esensi dari kompromi dan sekaligus demokrasi.
Skala prioritas mungkin akan selamanya berbeda, tetapi tidak harus dibungkam dengan voting. Juga tidak dibunuh dengan "kompromi", namun diberikan ruang gerak dan pengertian tentang tenggangrasa. Bahwa kepentingan bersama bukan diurus lebih dahulu, tetapi memang tempatnya tidak bisa di belakang. Tidak mungkin dikemudiankan.
Dan itu akan sangat mudah dicapai bila mayoritas alias suara terbanyak menghormati minoritas. Sesuatu yang kini sering dimaknakan tak ada dalam demokrasi, karena yang lebih banyaklah yang menang dan berkuasa. Walhasil, sebenarnya skala prioritas tak berbeda, yang ada adalah beberapa pengertian yang sudah menyimpang secara mendasar sebagai akibat erosi budaya yang dibiarkan saja.
Posted by Cisca at 4:14 PM
