
Ketika seorang anak bertanya," Mengapa ibu menikah dengan laki-laki yang menjadi ayahku, Bu?", sebuah gugatan terhadap laki-laki sedang terjadi. Sang anak merupakan saksi dari serangkaian kekerasan yang dialami oleh ibunya. Mungkin si anakpun tidak mengerti, mengapa ibunya begitu tegar mempertahankan perkawinan itu. " Demi anak-anak ", kata sang ibu setiap kali ia mendapat pertanyaan yang sama.
Laki-laki yang menjadi suami dan ayah dari anak-anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan telah menjadi awal dari jalan panjang kehidupan seorang perempuan. Dalam perkawinan itu, perempuan mengalami kebaikan juga kemalangan. Perkosaan hak reproduksi, penindasan, trafficking, bahkan pembunuhan karakter dan cita-cita terjadi secara kasat mata dan terselubung.
Anak yang bertanya dan menggugat keabsahan institusi itupun menjadi korban berikutnya, karena nilai-nilai dan norma yang dibangun di dalamnya mengondisikan suatu kepasrahan dan kepantasan seorang perempuan. Sebagai perempuan seseorang disadarkan dan bahkan dipaksakan tentang betapa bedanya ia dibandingkan dengan lelaki, baik dalam hak maupun kewajiban. Peningkatan status seorang perempuan seperti status keluarga, tidak berarti inisiasi atas martabat perempuan terjadi dengan sendirinya.
Kartini pun memulai hidup baru yang tidak pernah diidealkannya setelah ia menikah dengan sang bupati, yang menyebabkannya melupakan impian-impian seorang idealis. Sangkar emas rumah tangga ini kemudian menempatkan Kartini kembali menjadi perempuan kebanyakan, tidak seperti yang ia tulis dalam surat-suratnya.
Kalau perkawinan kemudian menjadi suatu akhir dari seluruh mimpi dan awal dari malapetaka, mengapa seorang perempuan harus kawin?. Bukankah ia juga perlu diberi hak untuk hidup membujang dan memilih mewujudkan cita-citanya sekaligus membantu mewujudkan cita-cita kaumnya?. Perempuan sebaiknya dilarang kawin, dan itu bukan tanpa alasan. Paling tidak ada alasan yang bisa disebut.
Perkawinan dapat menjadi penjara bagi kaum perempuan yang menjauhkannya dari dunia publik. Perkawinan itu menjadi suatu lembaga yang mengesahkan penindasan kecerdasan dan pembunuhkan kreativitas perempuan. Rutinitas dalam keluarga telah mendikte dan membatasi bukan hanya partisipasi perempuan dalam kegiatan publik, tetapi juga ide-ide kreatifnya. Dari perempuan lebih sering kita mendengar alasan anak sakit, menemani anak ujian atau pembantu pulang kampung, ketimbang laki-laki. Laki-laki tidak merasa harus bertanggungjawab untuk kegiatan yang bersifat domestik. Kecenderungan ini meninggalkan ruang yang begitu sempit untuk perempuan berkiprah dalam matra kegiatan yang lebih produktif dan yang menyaratkan konsentrasi dalam olah pikir. Ruang artikulasi dan aktualisasi diri perempuan atas kapasitas yang dimilikinya sangat terbatas.
Kalaulah perkawinan itu menjadi penjara yang mematikan kreativitas proses berpikir yang sangat potensial yang dapat dilakukan oleh kaum perempuan, mengapa ia harus mengorbankan dirinya untuk masuk ke dalam penjara itu ?. Rumah tangga harusnya menjadi tempat perempuan menemukan identitasnya, sementara suami tidak dapat menjadi mitra yang memfasilitasi rencana-rencana yang dimiliki perempuan.
Rumahtangga adalah ranah domestik yang menjauhkan kaum perempuan dari hak-hak yang secara hukum berlaku dalam publik. Perkawinan telah menyebabkan proses domestikasi perempuan yang mengembalikan perempuan ke ruang domestik. Banyak sekali perempuan yang telah menjalani hidupnya di ruang publik yang bekerja secara professional, kemudian memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka dengan alasan " ikut suami ", atau berhenti bekerja setelah memiliki anak pertama. Adanya mas kawin dalam perkawinan menjadi satu persoalan, karena dalam wilayah kebudayaan tertentu mas kawin memiliki nilai tukar atau pengganti yang disampaikan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Pertukaran semacam ini berimplikasi pada perpindahan hak atas perempuan ke keluarga suami dimana perempuan tersebut secara kultural tunduk kepada laki-laki atau bahkan pada keluarga laki-laki.
Proses domestikasi ini mendapat pengesahan secara sosial dan legal. Payung hukum tidak efektif dalam dunia domestik, sehingga kaum perempuan atas nama istri atau ibu rumah tangga tidak mendapatkan proteksi yang cukup dalam lingkungan domestik ini. Berbeda dengan ruang publik dimana hukum berlaku secara lebih efektif. Kekerasan yang dialami perempuan dalam rumah tangga misalnya, diperlakukan sebagai persoalan internal, kurang relevan secara sosial, sehingga praktek dan kepatuhan hukum tidak masuk sampai ke ruang domestik tersebut.
Perkawinan menjadi tempat yang melucuti seluruh kedirian perempuan. Perkawinan menyebabkan perempuan kehilangan dirinya karena ia harus menjadi bagian dari entitas yang lebih luas. Dalam proses ini potensi perempuan selain tersembunyi, juga kediriannya dikorbankan menjadi bagian dari suatu tatanan yang tidak ikut dia bangun. Pengorbanan semacam ini sering kali membuat kaum perempuan kesepian, kehilangan kawan dan dunia perempuan, karena ia harus hidup dalam dunia yang dikonstruksikan oleh para lelaki atau institusi-institusi yang berpihak pada lelaki.
Institusi perkawinan tidak semestinya menjadikan perempuan terkungkung dan kehilangan jati diri sebagai individu. Institusi itu dapat saja menjadi dukungan bagi pengembangan minat dan bakat yang memungkinkan aktualisasi diri dalam dunia publik. Banyak sekali perempuan yang beruntung dalam perkawinannya, namun lebih banyak lagi yang tidak mendapatkan dukungan dan justru setelah perkawinan terjadi, diri perempuan tenggelam dalam rutinitas dan kebosanan tiada ujung.
Alasan-alasan itu agaknya menegaskan perlunya pertimbangan seksama tentang persyaratan yang harus dipenuhi oleh perempuan, laki-laki dan lembaga-lembaga yang terkait, sebelum sebuah perkawinan dapat dilangsungkan. Apa cukup perkawinan itu atas kesepakatan dua orang ( laki-laki dan perempuan ) saja ?. Apakah pasal-pasal dalam buku nikah cukup menjadi pegangan hukum bagi jaminan hak-hak perempuan ?.
Bagaimana kita dapat melindungi perempuan dari kemungkinan perkosaan dalam rumah tangga atau pengingkaran terhadap kebutuhan strategisnya?. Jika kemaslahatan tidak dapat dicapai dan dijamin dengan adanya perkawinan, mengapa peristiwa itu disahkan?. Jika perkawinan itu menghilangkan identitas diri kaum perempuan, sebaiknya suatu perkawinan perlu digagalkan.
Sayangnya, dulu kita tidak sempat melarang sang bupati menikahi Kartini. Kalaulah Kartini tidak menikah, mungkin anak-anak tidak perlu lagi bertanya pada ibunya, " Mengapa ibu menikah dengan laki-laki yang menjadi ayahku, Bu?".
Friday, April 21, 2006
Haruskah ?
Posted by Cisca at 11:21 PM
Sunday, April 16, 2006
Granada - Gaza
Bangsa Israel, kaum Yahudi, tidak luput dari kisah pengusiran. Fenomena terakhir terlihat di depan mata, sebagian warga Israel harus keluar dari kandang perkampungan Gaza. Mereka diusir dan dikucilkan. Padahal bagi bangsa Yahudi, pengusiran dan pengucilan adalah sebuah dislokasi spiritual juga fisikal. Peristiwa pengusiran dari perkampungan Gaza membuka kenangan lama, peristiwa pengusiran bangsa Yahudi dari daerah Granada, Spanyol.
Waktu itu, tepatnya 2 Januari 1492, pasukan raja Ferdinand dan Ratu Isabella, dua penguasa Katolik, yang pernikahannya mampu menyatukan dua kerajaan Iberia kuno, Aragon dengan Castile, berhasil meluluhlantakkan negara kota Granada, satu wilayah pertahanan terakhir kaum muslim di daerah Kristen. Inilah awal pembersihan penduduk muslim dan Yahudi dari daratan Eropa.

Tiga bulan kemudian, 31 Maret 1492, Ferdinand dan Isabella menandatangani Perintah Pengusiran ( Edict of Expulsion), yang dibuat untuk membersihkan Spanyol dari bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi waktu itu diberi dua alternatif: memilih dibaptis masuk Kristen atau dideportasi.
Ada 80 ribu warga Yahudi migrasi ke Portugal, 50 ribu lainnya mengungsi ke kerajaan baru Islam, Utsmaniyyah. Di daerah kekuasaan Islam, kaum Yahudi seperti halnya warga Kristen, diberi status dzimmi (minoritas yang dilindungi). Status ini bentuk perlindungan militer dan sipil bagi mereka yang menghormati hukum dan supremasi negara Islam.
Dan sebagian yang lain, memilih masuk Kristen dan menetap di Spanyol, karena mereka sudah terlanjur jatuh hati dengan "al-Andalus" ( nama lain kerajaan Islam di Spanyol).
Orang-orang Yahudi yang menyeberang ke agama Kristen seringkali disebut "converse" ( umat yang berpindah agama), tapi komunitas Kristen lebih sering menjuluki mereka "marrano" (babi). Sebagian warga bekas Yahudi, karena ketidaktahuan mereka, dengan bangga memilih sebutan terakhir, "marrano", babi.
Sepenggal kisah di atas, ingin mempertegas ritual kehidupan bangsa Israel yang tidak lepas dari pengusiran dan pengucilan. Pengusiran dan pengucilan dari perkampungan Gaza, juga merupakan dari ritual dari kehidupan bangsa Yahudi. Hanya saja, kini mereka harus keluar dari wilayah yang dihuni sebagian besar penduduk muslim, yang bertahun-tahun mereka singgahi tanpa mau mengakui identitas mereka yang sebenarnya.
Satu ciri khas bangsa Yahudi, bangsa urban, warga Israel ini, memang unik. Mereka merasa berkuasa di berbagai wilayah, bebas dari jebakan-jebakan kekuasaan dan seringkali mengendalikan takdir mereka dengan logika dan penalaran sendiri.
Orang-orang Yahudi, dalam lintas sejarah dan bacaan-bacaan sejarah, merasa hidup dalam isolasi agama dan selalu meyandarkan diri pada takaran rasional. Mereka mengabaikan kitab suci, dan hampir pasti tidak memiliki rentetan pengalaman ritual "hukum suci" dari Taurat. Anehnya, cerita-cerita kaum Yahudi ini, kemudian dijadikan mitos.
Seperti halnya mitos soal warga Israel yang melarikan diri dari Mesir dan melewati Laut Merah. Cerita ini kemudian dijadikan mitos yang dikaitkan dengan cerita-cerita lain mengenai ritual inisiasi, pengarungan samudera, dan terbelahnya laut menjadi dua oleh para dewa untuk membuka dunia baru bagi bangsa Yahudi.
Pendeportasian warga Yahudi dari Gaza, pada titik yang lain, adalah satu ritus panjang kehidupan kaum Yahudi. Mereka tidak memiliki tempat singgah dan menyebar ke berbagai daratan di seantero dunia.
Hal lain, di luar kesepakatan damai Israel - Palestina, pengusiran warga Israel sebenarnya untuk menutupi wajah bopeng Amerika yang selama ini jadi benteng terakhir Israel. Amerika, tentu saja, malu kepada dunia karena tidak mampu menaklukkan "anak asuh"nya sendiri. Jalur kehidupan sebuah bangsa memang tidak selalu ditentukan oleh diri sendiri, tapi ia juga bisa ditentukan oleh bangsa lain.
Itulah sepenggal potret kehidupan warga Israel, juga Palestina, dimana identitas kehidupannya tercerabut oleh kepentingan-kepentingan negara-negara besar yang selalu merayakan demokrasi sekaligus mematikan demokrasi itu sendiri.
Posted by Cisca at 11:16 PM
Thursday, April 13, 2006
C i l a - C i l i

"Banyak orang yang cerdas!. Banyak orang yang pandai!. Tapi kecerdasan dan kepandaian itu hanya diperuntukkan untuk tujuan yang keji-keji belaka. Itu banyak terjadi dan kau tak boleh memasukkan dirimu ke dalam golongan orang yang seperti itu." ( Pramoedya Ananta Toer )
Pendidikan adalah segala-galanya bila ingin maju. Maju harkat pribadinya, maju nasionnya, maju peradabannya. Itulah salah satu dari banyak hal yang diangankan Pram.
Lewat novel Burunya, Pram mengatakan bahwa kemajuan bisa dicapai jika unsur mitos yang mencandra akal dan feodalisme yang membungkam rasio, bisa tertusuk tumpas dengan pendidikan. Sebab kedua paham itu menghalangi seorang manusia untuk merebut martabatnya sebagai manusia yang maju dan merdeka karena dipaksa oleh sebuah hierarki yang dibentuk oleh sistem feodalisme raja-raja.
Sebuah adegan ketegangan pendidikan dan feodalisme diperlihatkan Pram dalam salah satu paragraph di Bumi Manusia : " aku mengangkat sembah sebagaimana aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku. Dalam mengangkat sembah, serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri sampai sedatar tanah kalau mungkin…uh! Anakcucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini."
Karena tak rela menjalani kehinaan, maka Pram mengangankan bahwa semua pribumi kelak bisa mengecap pendidikan yang tinggi. Walaupun kita tahu Pram tak sanggup menjejaki angan-angan itu. Ia hanya lulusan SMP kelas 2 di Surabaya sebab sekolah keburu bubar karena serangan balatentara Jepang. Lalu di Jakarta pada usia 17-20 tahun, sembari bekerja di kantor berita Jepang, Domei, Pram mencoba mendaftar ikut kuliah filsafat dan sosiologi di sekolah tinggi Islam yang diasuh Dr.Rasjidi dengan bayaran 25 rupiah dari hasil menjual kemeja kaos putih dan biru muda yang baru duakali dikenakannya.
Tapi hasilnya nihil. Dan ia pun mengembara mencari pengetahuan dari buku-buku, dari klipingan koran dengan cara otodidak. Lalu himpunan dan data-data itu menjelma menjadi karya-karya besar lagi terpuji dan mengukuhkan namanya menjadi sastrawan dunia.
"Walaupun seorang yang enggak tamat SMP, saya ini doktor lulusan Amerika." ujar Pram bangga sembari tertawa.
Menurutnya tidak mesti orang belajar dengan membaca buku. Belajar bisa dengan mengamati, menghafal, memperhatikan, mendengarkan. Banyak belajar ilmu pengetahuanpun tidak menjamin orang menjadi kreatif. Bagi Pram, orang yang cedas dan kreatif adalah yang pandai menarik kesimpulan dari ilmu dan pengetahuannya dan pengalamannya.
Dalam beberapa kesempatan, Pram sungguh prihatin dengan tergusurnya pendidikan yang mengajarkan watak yang mandiri, kuat dan cerdas, menjadi pendidikan yang terkomersialisasikan.
Alih-alih ingin menggapai kualitas pendidikan yang baik dengan harga terjangkau. Para pelaku di dunia pendidikan kita lebih sibuk dan berpeluh menaikkan ongkos daripada menaikkan kualitas pendidikan. Hasilnya, watak yang dihasilkan dalam dinding-dinding kelas sekolah tak lebih dari watak manusia-manusia lama yang masih berada di alam agraris dan feodal.Watak ingin menjadi pegawai negeri, birokrat.
Ada banyak alasan mengapa profesi ini menjadi cita-cita, walau gajinya relatif kecil. Salah satunya adalah status pegawai negeri menjanjikan jaminan kepastian hidup dan masa depan.
Pendidikan kita, diakui atau tidak, selama ini memang tidak serius mencetak manusia-manusia yang berjiwa berdikari dan mampu merintis sebuah kerja mandiri dan tak harus menjadi budak bagi orang lain atau menjadi manusia kuli. Pendidikan kita seakan menjangkar dan memperluas kesadaran serta meluapkan keinginan bahwa bila lulus kelak akan menjadi pegawai negeri. Paling tidak menjadi pelamar pekerjaan dengan menenteng ijazah kesana-kemari dan mengantri panjang untuk mengambil formulir kartu kuning di depnaker ketika bursa kerja dibuka secara massal.
Para praktisi pendidikan barangkali menolak asumsi bahwa pendidikan menjadi terdakwa dalam hal ini. Namun kenyataan berbicara jujur bahwa sistem pendidikan kita tidak merangsang manusia untuk berkarya dan mandiri, melainkan mencetaknya sebagai manusia benalu dalam masyarakat. Buktinya, setiap tahun meruyak sebarisan panjang angka pengangguran sarjana.
Penting untuk menilai pengalaman secara seksama dengan ketajaman mata selidik. Sebab setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain, akan tinggak sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman adalah fondasi kehidupan.
Oleh sebab itu, tegas Pram, belajarlah menilai pengalaman sendiri dan membentur-benturkannya dengan lingkungan tempat dimana pengalaman itu tumbuh. " Beras menjadi putih bukan hanya karena tertumbuk alu, tetapi karena pergeseran dengan sesama beras karena tumbukan alu." kata Pram mengutip ucapan salah satu srikandi pergerakan nasional awal abad 20, Siti Soendari.
Bila penuntasan kasus korupsi dan penyelewengan sulit diberantas, maka ini bukan keanehan. Rendahnya usaha itu bukan hanya terkait dengan begitu rumitnya jaringan korupsi, aparat hukum dan negara yang mungkin tak becus, tapi juga terkait dengan masalah kesadaran. Kesadaran itu adalah kesadaran hidup menjadi ambtenaar di republik yang sudah sesak dengan pegawai negeri ini.
Banyak orang yang menjadi meester atau doktor hanya karena orangtuanya mampu membiayai atau karena diongkosi oleh orang lain. Ini bukan hal yang mengagumkan. Hanya orang yang bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi doktor atau meester atau insinyur dengan tenaga dan kekuatannya sendiri, itulah yang patut mendapat pujian. Itu tandanya orang-orang yang betul-betul punya kemauan, mempergunakan kecerdasan, kekuatan, dan kepandaian yang dimilikinya.
Titel akademi bukan tujuan manusia, itu hanya alat . Sama saja seperti pisau, mobil, pacul untuk menggampangkan orang dalam mencapai cita-citanya. Andaikan seorang anak gembel yang hidup di gubuk dan makan tak ketentuan bisa mendapat gelar akademi, itu baru hebat.
Jika kita masih percaya pada lembaga pendidikan, maka yang mesti dilakukan adalah mendorong lembaga-lembaga tersebut untuk membekali diri dengan kekuatan mendidik orang-orang dalam asupan pengetahuannya untuk menjadi manusia berwatak, mandiri, mau bekerja keras, serta memupuk daya saing dalam praktek bermasyarakat. Dan semua watak itu sulit kita dapatkan dalam mental orang-orang yang sedari dini bercita-cita menjadi kaum ambtenaar yang pemalas, miskin kreatifitas, dan kerjanya hanya rebutan proyek!.
Posted by Cisca at 7:04 AM
Monday, April 10, 2006
C a n t i k
Pembantu yang baru di rumah saya cukup berpotensi menimbulkan bibit kecemburuan di diri saya. Wajahnya mencolok berbentuk kotak dengan tulang pipi yang tinggi, dan kulit yang mulus. Matanya berbentuk almond sempurna, bibirnya merekah indah.
Saya curiga dia melarikan diri dari kampungnya ke Jakarta karena menjadi kembang desa di sana. Tentunya dia banyak menyusahkan kehidupan orang karena menjadi rebutan terlalu banyak lelaki. Sedangkan kalau saya yang berada di posisinya di desanya, saya sudah bisa membayangkan bisa-bisa orang-orang di sana langsung bedol desa.
Menjadi cantik tentunya berbeda dengan menjadi pandai, atau apa yang orang bilang sebagai inner beauty, bahwa kecantikan di dalam tentu akan memancar keluar dan membuat kita tampak lebih menarik. Untuk sekarang, saya justru ingin berkutat dengan penampilan luar itu.
Selama ini saya merasa risih jika tiba-tiba predikat " cantik " dilekatkan pada nama saya. Hidung saya kembang kempis, pipi saya terasa terbakar, dan mata saya hanya mampu menatap lantai. Saya hampir tidak pernah merasa cantik. Lebih jauh lagi, saya selalu mengecamkan pada diri sendiri untuk tidak usah repot-repot melongok di cermin untuk mengecek penampilan. Kalau tidak menghembuskan nafas panjang-panjang, maka giliran bibir saya yang maju karena saya selalu kecewa mendapati apa yang ada di dalam bayangan cermin itu.
Satu detik saya mabuk dengan penampilan diri sendiri, tentu saja hal pertama yang terjadi adalah saya bertemu model jelita yang mempelototi saya dari atas sampai bawah. Dan karena kepala saya hanya sepinggangnya, saya kurang bisa mendengar apa komentarnya tentang saya.
Saya mempunyai banyak sekali teman berwajah elok. Banyak. Dan sungguh elok. Saya sering termangu memandangi setiap jengkal wajah mereka dan mendadak ingin meraih obat serangga. Saya juga yakin teman-teman saya kadang mengalami hilang ingatan, akibatnya mereka memuji penampilan saya pada suatu hari. Sembari tersenyum saya terbata-bata mengucapkan terimakasih, namun di dasar hati saya yakin mereka lupa minum obat, dan karenanya, berhalusinasi.
Ketika saya bercermin dan pantulannya membuat saya terdiam dan terkagum-kagum, saya tahu di luar sana saya hanya membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk paling tidak menumpahkan saus makanan ke baju saya bagian dada. Satu menit yang lalu, boleh saja saya menjadi perempuan mempesona di kamar kecil itu, tapi ketika saya melangkah keluar dengan dagu terangkat naik lebih dari biasanya, mata saya hampir buta akibat seorang perempuan lain yang begitu terang benderang karena luar biasa cantiknya.
Saya tahu akan ada hari-hari dimana saya merasa tidak ingin ke luar rumah dan tidur seharian saja lalu mimpi menjadi secantik Daria Werbowy misalnya.
Dan mungkin yang saya butuhkan di hari-hari seperti itu adalah sekedar mengingat ujaran teman-teman saya bahwa, ...ya, saya bisa tampil cantik. Contohnya, ketika kehujanan, dengan mantel rajutan dan rambut di kuncir ekor kuda serta kacamata tebalpun, saya masih saja mendapat pujian itu.
Maka mungkin saya tidak usah menjelma menjadi burung merak yang senantiasa telihat pongah dengan penampilannya, dan yang lebih penting, saya juga tidak usah memirip-miripkan diri dengan burung unta yang lebih sering menenggelamkan kepalanya ke dalam tanah karena malu hati. Yang harus saya ingat adalah ketika orang lain tampil lebih cantik dari saya, tentu itu bukan akhir dari segalanya. Saya mencoba percaya bahwa saya tetap cantik dengan cara saya sendiri. Dan kalau masih saja saya memutar-mutar mata, tidak puas dengan penampilan diri sendiri, saya selalu bisa berkonsultasi dengan pembantu saya tadi. Saya yakin ia bisa mendidik saya untuk menjadi kembang desa berikutnya.
Posted by Cisca at 4:04 PM
Tuesday, March 28, 2006
I s t i r a h a t

Di dunia ini hanya ada satu bandara udara yang berani menghentikan segala kegiatan penerbangan selama satu hari penuh dengan alasan keagamaan, yaitu: Ngurah Rai - Bali, Indonesia. Benar, lusa 30 Maret 2006 ( Saka 1928 ) anda jangan ke Bali kalau mau jalan-jalan atau menikmati obyek wisata, karena mulai pagi hingga paginya lagi orang Bali menghentikan seluruh kegiatan rutinnya. Selama satu hari itulah yang disebut Nyepi. Saat itu di Bali tidak ada kegiatan kecuali merenungi dan merefleksi diri untuk menyambut kehidupan di kemudian hari. Mereka berpantang diri dari empat aktivitas rutin, yaitu : menyalakan api, bekerja , bepergian dan menikmati hiburan.


Makna yang paling cepat dapat ditangkap dari pelaksanaan nyepi adalah memberikan kesempatan kepada alam untuk beristirahat secara total selama 24 jam. Selama sehari dalam setahun, jalan-jalan di Denpasar ataupun Kuta yang biasanya akrab dengan kemacetan, diberi kesempatan untuk kosong secara total, bebas dari gas emisi yang polutis dari berbagai jenis kendaraan bermotor.
Nyepi merupakan momentum bagi manusia untuk melakukan refleksi terhadap perbuatannya di masa lalu, masa kini dan merenungkan masa depan. Atita, Wartamana dan Anegata ( masa lalu, masa kini dan masa depan ). Ketiganya berkaitan dalam konteks sebab akibat. Kebaikan perilaku di masa lalu dan di masa kini akan melahirkan pula kebaikan di masa datang. Demikian sebaliknya, bencana di masa kini adalah akibat kerakusan di masa lalu. ( Semoga bencana alam yang kemarin datang bertubi-tubi melanda negeri ini dapat menyadarkan kita untuk kembali ke jalan Tuhan ).
Bagi umat Hindu, Nyepi ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan Srada ( keyakinan / keimanan ) kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Selain mengajak manusia kembali dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan, momentum Nyepi juga mengajarkan umat Hindu untuk tidak henti-hentinya mengakui kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Kalau dilihat rangkaian acara tahun baru Saka, hari Nyepi hanyalah puncak yang lebih bersifat antiklimaks dari serangkaian proses ritualistik. Sebelum sampai pada puncak sepi, umat Hindu di bali melakukan ritual meriah yang disebut Melasti ( atau Makiyis ), sekitar 3 -4 hari sebelumnya. Mereka pergi ke pantai dan sumber air lainnya ( danau, pertemuan dua sungai, mata air suci, dsb ) dengan tujuan membersihkan benda-benda sakral yang dimiliki oleh desa ataupun kelompok warga ( klen ). Prosesi yang melibatkan ribuan umat itu dilakukan dengan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, pulang pergi, sambil mengusung benda sakral.
Sehari sebelum hari Nyepi, setiap desa mengadakan upacara bersih desa secara serempak dan bertingkat, mulai dari tingkat propinsi ( pada pagi hari ) dilanjutkan dengan tingkat kabupaten, sampai akhirnya desa dan kampung, yang dilaksanakan pada sore menjelang malam.
Dalam upacara bersih desa yang disebut Tawur Kesanga ini dilaksanakan arak-arakan berbagai efigi makhluk jahat ( setan, jin, butakala / raksasa, dsb ), yang disebut dengan Ogoh-ogoh ( berupa patung yang umumnya dibuat dari kertas seperti ondel-ondel ). Setiap desa paling tidak membuat sebuah ogoh-ogoh, tetapi karena umumnya setiap kelompok kecil juga membuat ogoh-ogoh, maka jumlah ogoh-ogoh pada setiap desa bisa mencapai puluhan. Setelah diarak berkeliling desa, ogoh-ogoh yang dibuat dengan biaya jutaan rupiah itu selanjutnya dibakar, sebagai representasi pemusnahan / pengusiran makhluk jahat.
Klimaks yang aneh ini juga bisa dilihat dalam berbagai bentuk kesenian pertunjukkan, misalnya pada tarian Barong yang diakhiri dengan usaha untuk menusuk diri sendiri.
Yang juga tidak kalah pentingnya untuk saat ini, hari Nyepi merupakan promosi luar biasa bagi pariwisata Bali, sebuah industri yang bersandar kepada citra ( imej ) keaslian dan keunikan. Cukup banyak wisatawan mancanegara yang sengaja memilih waktu untuk telah tiba di Bali sebelum hari Nyepi, agar mereka bisa secara langsung melihat keunikan dan keaslian budaya Bali dengan klimaks dan antiklimaksnya yang juga unik. Biasanya mereka adalah wisatawan religius yang ingin berwisata meditasi.
Nyepi memberikan keheningan pikiran, kestabilan emosi, dan kedalaman spiritual sehingga umat manusia bisa mengendalikan tindakannya. Mengeksploitasi potensi alam dan budaya untuk semata-mata kepentingan material dan hedonisme harus dicegah. Pantangan Nyepi mengajarkan manusia untuk tidak mengumbar hawa nafsu. Pantangan untuk menyalakan api, tidak secara literal harus diartikan mematikan api alias tidak memasak atau merokok, tetapi memadamkan pijaran nafsu yang menguasai diri, baik nafsu untuk berkuasa, menipu, menjerumuskan apalagi menghancurkan dan menginjak-injak harga diri orang lain.
Perayaan Nyepi di Bali memang bersifat lokal dengan sedikit kegiatan serupa di beberapa tempat, dimana terdapat sejumlah signifikan umat hindu dalam satu kawasan. Namun keberhasilan masyarakat Bali untuk menggaungkan perayaan ini ke berbagai penjuru dunia misalnya lewat penghentian penerbangan dari dan ke Bali membuat pesan pantangan hidup ( catur brata penyepian ), diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada masyarakat dunia terutama bagi mereka yang ingin dengan sungguh-sungguh berhenti sejenak untuk menambang keheningan dalam sepi.
Sunyi senyapnya Bali pada hari raya Nyepi mungkin bisa memancarkan ilham pada dunia untuk mengambil langkah-langkah terbaik dalam menyelamatkan alam dengan melakukan penghematan energi dan pengekangan hawa nafsu. Pantangan tidak bepergian sehari, tidak menikmati hiburan seharian, tidak menyalakan api seharian, dan tidak bekerja seharian mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk merenung sejenak tentang arti dari bekerja, menikmati hiburan, melakukan perjalanan, dan kegelapan dalam kehidupan yang penuh misteri ini.
Posted by Cisca at 10:28 PM
Friday, March 10, 2006
M a s i h
Kelaparan telah melalap sebagian rakyat warga Serang, Cirebon, Bandung dan Brebes. Mereka mulai makan nasi aking, nasi sisa yang sudah beberapa hari kemudian ditanak lagi. Nasi aking ini dikumpulkan berhari-hari yang nempel di bakul bambu. Karena sudah berumur, nasi aking bukan tidak mungkin digrogoti bateri. Ada saja penduduk yang jatuh sakit sehabis makan nasi aking itu, perut mulas juga diare.
Sekitar sepuluh keluarga yang kelaparan itu mendorong kita untuk mimpi di siang bolong. Tidak terbayangkan oleh kita, musnah kebutuhan dasar mereka. Bagaikan ayam mati di tumpukan beras. Subhanallah...
Kota terdekat dengan Jakarta tempat tinggal saya, di Serang misalnya. Kota Serang adalah ibukota propinsi Banten, lumbung padi yang tak boleh dikata tak pernah tidak subur makmur. Sama masyhurnya dengan kabupaten Karawang. Roda ekonomi yang berputar deras menggambarkan aktivitas perdagangan yang laju di Serang, memanggil-manggil para pengusaha yang lalu lalang di Jakarta-Lampung untuk transit di Serang.
Penduduk yang kelaparan itu bukan disebabkan oleh tidak adanya beras di kampung mereka atau sifat malas sehingga mereka tidak mau mencari nafkah, melainkan tidak tertanganinya hak-hak dasar mereka oleh pemerintah.
Padahal secara geografis, tempat tinggal mereka mudah terjangkau oleh aparat pemerintah dengan program-programnya bagi pengentasan kemiskinan. Mereka tidak pula terisolasi secara politis. Satu-satunya kelemahan mereka barangkali karena mereka tidak pernah mengeluh disebabkan oleh kemiskinan mereka. Juga mereka tidak pernah minta-minta kepada pemda untuk diperhatikan. Penduduk yang kelaparan yang memiliki KTP ini tentu tidak bisa berdalih atau terlalu lemah untuk berdemonstrasi. Sebaliknya hati mereka begitu murni sehingga mampu membersihkan hati kita yang belepotan ini. Subhanallah...
Selain diakibatkan bencana banjir ketika musim penghujan kemarin, harga gabah di Karawang juga merosot. Alasan tengkulak beras tidak lagi mampu mengulak secara memadai karena biaya transportasi naik berlipat. Di satu pihak, petani yang sudah jatuh itu, tertimpa tangga pula. Harga pupuk yang lebih mahal daripada harga gabah menyebabkan hidup para petani kita semakin mengenaskan. Subhanallah...
Rakyat miskin yang semakin dimiskinkan, yang jumlahnya bertambah banyak, didera kelaparan, penderitaan, dihantam bencana yang susul menyusul, rasanya malapataka itu tak tertanggungkan lagi. Miskin dan ditimpa bencana alam. Apalagi yang bisa dipertahankan dari harkat yang sudah compang-camping ini?. Rakyat miskin bisanya cuma menangis, menangis dan menangis. Sementara rawan pangan dan kelaparan di Papua yang belum teratasi, seakan-akan menunjukkan bahwa tidak ada lagi hiburan lain bagi rakyat miskin di seluruh pelosok tanah air kecuali menangis. Kemana nasib ini diadukan? Kepada Tuhan?. Rakyat miskin tidak tahu cara mengadu dengan baik, sementara gerak-gerik Allah tak tertebak.
Presiden Yudhoyono tampak kuyu, lelah dan menderita. Pemimpin mana di dunia ini yang mampu menanggungkan penderitaan yang susul menyusul ini?.
PIB ( Pemerintah Indonesia Bersatu) yang baru menapaki belum dua tahun pemerintahannya, sudah digempur habis-habisan oleh malapetaka yang rasanya tidak berkesudahan. Tuhan berfirman bahwa Allah tidak mengaruniai malapetaka tanpa umat mampu menanggungnya. Presiden dan kabinetnya tentu mampu menyemprot awan hitam yang bergayutan di atas langit negeri ini, sehingga pelangi bisa tercipta. Subhanallah...
Saat ini belum lagi anggaran tambahan untuk mengatasi pasca gempa di Aceh dan Nias, juga kesiagaan di pulau-pulau terluar nusantara di hitung, keburu flu burung menyerang kembali. Puluhan mungkin ratusan ribu unggas telah tewas, bahkan diperkirakan flu burung juga telah menulari kucing sebagai hewan peliharaan. Hitung-hitung APBN ( Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dihitung kembali, seperti menyusun anggaran baru yang bisa duakali lipat jumlahnya. Jangan-jangan harga BBM bisa dinaikkan lagi. Waduh!. Lho, memangnya kenapa?!. Oke, biar rakyat semakin mahfum bahwa pemerintah itu memang supersulit. Subhanallah...
Jumlah 17 trilyun rupiah untuk dana kesehatan dan pendidikan yang diambil dari subsidi BBM, dianggap para pakar kita sangat tidak cukup. Apalagi pencairan itu diicrit-icrit (bertahap). Lalu kita mengerti logika pemerintah bahwa jika tidak dipelit-pelitkan, dana yang disektor sekaligus sangat mudah dikorup. Sebenarnya kan urusan dikorup atau tidak itu kan urusan pemerintah, bukan urusan rakyat miskin. Yang pasti kenaikan harga BBM makin memicu laju kemiskinan.


Sekaranglah rakyat harus bangkit, syukur-syukur bisa meletuskan revolusi sosial. Tapi tidak cukup dari sabetan kanan kiri saja. Naikkan " harga diri " dengan kekuatan daya tawar yang hebat: " Kami rakyat miskin, mana duit kami!" ---kepada mereka yang mau main money politic.Ini kesempatan pula bagi para pemulung, anak-anak gelandangan, preman ( jangan cuma beraninya membentak-bentak rakyat yang sama-sama miskin didalam bus kota untuk minta sedekah) , gali, penjahat, dan pengemis, untuk tampil sebagai rakyat miskin yang punya hak atas dana BBM itu.
Tapi apa benar rakyat miskin punya perhatian terhadap dana BBM itu? Mungkinkah rakyat miskin antipati terhadap segala tetekbengek dana BBM itu yang cuma menguntungkan segelintir orang yang mendapat jatah membagi-bagikannya. Apakah para makelar dana BBM itu bisa menjamin hak dasar rakyat seperti kesehatan dan pendidikan?.
Atau rakyat miskin akan nrimo ( pasrah) saja terhadap nasib karena sudah terlalu lelah didera kemiskinan dan bencana?. Presiden Yudhoyono tak cukup tangannya untuk memuaskan semua rakyat miskin karena kelelahan dan menderita juga?. Lagi-lagi rakyat miskin yang sehari-harinya cukup mendaur ulang nasi yang layaknya untuk pangan bebek itu: nasi Aking.
Posted by Cisca at 4:03 PM
Tuesday, February 14, 2006
Nyatakan Cinta dengan Rasa

Pagi ini saya terbangun dan tidak lagi merasa diri saya sebagai orang Indonesia. Mata dan rambut saya masih hitam, kulit coklat dan tulang pipi menonjol, tapi saya sudah terkontaminasi. Ibarat sebuah disket yang salah format, saya mengalami erosi dan abrasi. Nama menjadi beban, karena citra saya tidak sanggup mengangkat simbol dalam bunyi.
Di dalam kamar saya tertindih oleh pikiran-pikiran tentang kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kesetaraan dan kemanusiaan yang diagungkan di seluruh dunia, tetapi kadang terasa sangat bertentangan dengan cita-cita adat dan tradisi Indonesia. Bentuk sayapun sudah lain, karena saya mengonsumsi dan dihiasi dengan aksesori yang tidak lagi berasal dari lingkungan alam sendiri. Saya adalah sebuah pasar hidup dari produk teknologi dan industri alam pikiran liberal, dengan semangat individualisme yang membuat saya benci kepada keluarga dan semangat gotong royong dalam masyarakat. Saya sudah menjadi sesuatu yang baru dan sekaligus juga virus.
Dengan ragu-ragu saya keluar dari kamar sambil membawa senjata, karena saya tetap harus membela diri kalau diserang oleh lingkungan, oleh saudara-saudara bahkan oleh anak dan pacar yang tak kenal, karenanya tak bisa menerima kehadiran saya lagi. Hidup adalah sebuah peperangan dan itu mungkin dimulai dari depan pintu, waktu bangun tidur.
Saya sudah memilih yang lain. Untuk itu saya masih memiliki hak untuk melawan dan akan saya pergunakan. Karena masa depan tidak semestinya hanya ditentukan oleh masa lalu, tetapi seluruh pembaharuan yang terjadi.
Lalu saya gebrak pintu dan meloncat keluar siap tempur. Tetapi di depan pintu ternyata terbentang ruang yang lain. Bukan yang biasa saya kenal. Sesuatu yang masih asing karena saya mencium bau yang belum pernah saya hirup sebelumnya. Atmosfernya begitu menggoda. Saraf-saraf dan kelenjar gairah saya terangsang. Tiba-tiba saya ingin bersatu tubuh dengannya. Tetapi baru saya mencoba menjajaki, tubuh saya berontak. Ia tidak lagi berada di bawah kekuasaan saya.
Walau saya tekadkan untuk berhenti beberapa saat, kaki saya terus melangkah dan jari telunjuk saya hampir saja menarik senjata, tepat ke arah kepala saya sendiri.
Terseret oleh kekuatan di luar kekuasaan saya, saya sampai ke pintu yang lain. Pintu yang perlahan-lahan terbuka ketika tubuh saya mencoba menerobosnya. Pintu yang menghantarkan saya ke luar tetapi sekaligus ke dalam ruang yang lain.
Saya terpesona. Ruang itu ternyata lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Lebih menyerang dan lebih merangsang. Dari seluruh dindingnya keluar tenaga yang seperti menghisap tubuh saya.
Senjata terlepas dari tangan dan tubuh saya tertarik dari segala arah. Saya bertahan. Pakaian saya tercabik sampai saya telanjang bulat. Kemudian bulu-bulu badan saya tercabut dari tubuh. Bukan main sakitnya. Saya menjerit menutupi rasa pedih itu. Tapi kemudian jari-jari tangan, lengan, kaki, telinga, hidung, seluruh bagian tubuh saya tercabut dan ditelan oleh dinding ruang yang buas itu.
Sekarang saya bukan lagi hanya kehilangan identitas Indonesia. Saya bangkrut atas seluruh kehadiran saya. Tetapi satu hal yang menakjubkan, ternyata masih ada yang tersisa.
Perasaan saya tidak kelihatan, tidak berwarna, tidak memiliki volume. Ia bisa tercerabut dan mengalir ke mana saja menerobos jarak, waktu dan segala hukum. Tetapi ia selalu kembali seperti bumerang.
Dengan rasa itulah saya menyaksikan ratusan, ribuan, berjuta-juta bahkan miliaran pintu menunggu di depan. Saya takjub, lalu yakin bahwa saya sedang memasuki alam pikiran orang lain. Saya sudah tersesat ke dalam rencana orang lain. Ini kekalahan besar Indonesia yang tak boleh terulang lagi.
Lalu saya peluk rasa yang sekarang menjadi nyawa saya. Saya berbalik dan bergegas hendak kembali. Pulang dan bertahan adalah jalan terakhir yang terbaik. Tetapi begitu saya berbalik, kembali saya terpesona. Di depan saya, tepatnya di belakang saya berdiri Indonesia.
" Apapun yang kamu lakukan, aku selalu berdiri di belakangmu," bisiknya.
" Saya orang Indonesia, karena saya lahir dari keluarga Indonesia. Tetapi apakah saya Indonesia ?. Wajah saya cenderung meruncing, hidung runcing, tulang pipi kurus, mata cekung dan kulit coklat muda. Saya menyanyikan Indonesia Raya dan mengibarkan Sang Saka dan menjiwai semangat gotong royong, bahkan sudah lulus penataran P4, tetapi saya sudah dalam pikiran orang lain. Berhakkah saya menyebut diri saya Indonesia ?. Apakah saya sudah menjadi orang asing setelah saya tidak lagi memakai kain sarung, tetapi jins, sepatu dan referensi berpikir barat ? ".
" Hey, sekali kamu lahir sebagai orang Indonesia, kamu sudah terkutuk sebagai Indonesia. Apapun yang kamu lakukan, topeng siapapun yang kamu mainkan, aku tetap di belakangmu," kata Indonesia yang tiba-tiba masuk ke lubuk hati.
" Aku bukan hanya bangsa, bukan hanya teritorial, bukan ideologi, bukan paham, bukan agama, bukan hanya kekuatan moral dan politik, tetapi sebuah konsep sebagaimana juga Rusia, Australia, Amerika, Perancis, Inggris, Jepang dan sebagainya. Indonesia adalah sebuah fenomena rasa," kata Indonesia lagi.
Rasalah yang menyebabkan segala perbedaan tetap berbeda. Tetapi anehnya masih terus membuat kita selalu bersama-sama. Rasalah yang akan terus tumbuh dalam masa pemerintahan presiden pilihan rakyat yang memimpin negeri ini untuk masa lima tahun. Rasalah yang kita harapkan akan menjadi primadona era baru yang sudah begitu banyak diganduli harapan oleh 250 juta rakyat yang selama ini hanya dibodohi pemimpinnya. Rasalah yang selama ini telah hilang. Rasa itu yang harus kita bangun kembali. Tidak cukup hanya politik, ekonomi dan teknologi, tetapi juga kebudayaan yang diberdayakan secara tepat dan proporsional.
(To : My Mom, Sis and Brother)
Thanks for still loving me and my son, we're also loving you...
Posted by Cisca at 9:14 PM
Friday, February 3, 2006
Kemana Kita ?
Jerit tangis rakyat yang kelaparan,
yang kehilangan pekerjaan,
yang anaknya macet sekolah karena ketiadaan biaya,
yang kehilangan sanak saudaranya akibat bencana alam,
dibunuh,
bunuh diri,
dijual,
tidak hanya menyayat di desa-desa di seluruh pelosok tanah air, tapi juga terdengar di kota-kota besar.
Sawah yang tenggelam akibat banjir (padahal siap panen) ,
harga gabah yang semakin jatuh,
banjir berhari - hari di pedesaan yang miskin,
tanah longsor,
uang bantuan yang dikorup,
bertengkar kecil-kecilan yang mengakibatkan nyawa melayang,
gaji buruh yang sangat minim,
demonstrasi menuntut keadilan,
keracunan massal,
ribuan pengangguran mendadak akibat perusahaan tutup,
tak mungkin kembali ke luar negeri sebagai TKI akibat masuk black list,
dan penderitaan bayi-bayi yang kurang gizi,
Perebutan kekuasaan di tubuh partai-partai di dalam pemerintah,
geng-geng preman,
kredit macet triliunan rupiah,
kayu-kayu penebangan liar yang tak juga bisa dimanfaatkan,
para cendekiawan " bunuh diri " ramai-ramai,
orang-orang suci yang bisanya cuma rapat-rapat,
para pahlawan yang ternyata hanya orang-orang biasa yang tidak memiliki daya tahan,
( siapa menolak kemewahan justru mendapat durian runtuh )
pengemis-pengemis kecil memenuhi ibukota,
anak-anak kecil yang diperkosa dan dibantai,
para preman meneror para penumpang di angkutan umum,
baku tembak karena cemburu, dendam,
juga karena rebutan rejeki.
Semua itu merupakan kebangkrutan politik, ekonomi, dan sosial. Tidak ada obat, peredam dan pencegahannya kecuali revolusi sosial.
: Perlu Angkatan Muda.
Angkatan muda dan revolusi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam kacamata para ideolog dan sosiolog, revolusi selalu berarti manifestasi perubahan sosial yang paling spektakuler.
Ada beberapa kelompok cara pandang tentang revolusi ini:
* Revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan berskala luas. Intinya terletak pada keluasan dan kedalaman perubahan yang meliputi segala bidang. Ini revolusi yang biasanya bersifat " sudden " dan " radical ", menjadi lawan dari reformasi yang biasanya " slow " and " partial ".
* Revolusi dengan menitikberatkan pada penggunaan kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Disini berarti revolusi adalah lawan dari evolusi.
* Revolusi yang terpahami sebagai " perubahan domestik yang cepat, fundamental, dan penuh kekerasan dalam nilai-nilai dominan dan mitos masyarakat, dalam institusi politik struktur sosial, kepemimpinan, dan kebijakan serta kegiatan pemerintahan ".
Jadi selain perubahan yang fundamental dan menyeluruh, revolusi juga melibatkan mobilitas massa yang bergerak secara cepat. Umumnya disertai kekerasan, walaupun ada juga ( walau jumlahnya tidak banyak) tidak memakai kekerasan, seperti Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur.
Semangat perubahan yang bergolak-golak hanya bisa ditampung dalam jiwa angkatan muda dan bukan angkatan tua.
Tidak bisakah lagikah kita bangkit sedikit lalu berlari sedikit, ketika semuanya sudah tidak mengenal lagi suara kesedihan rakyat?
Kenapa seakan tiada yang lebih elok selain: proyek.
Ya !. Proyek.
Kongres: proyek
Studi banding: proyek
Pemeriksaan keuangan: proyek
Restrukturisasi dan rekonstruksi daerah bencana: proyek
Penyehatan Bank: proyek
Agen otomotif: proyek
Rakyat lapar nasi: proyek
Agama: proyek
Perang: proyek
Ahh....Bagaikan bangsa yang tak punya lagi harapan, hati yang tulus dan kejujuran. Selain hanya: proyek. Tidak ada lagi kejujuran, perjuangan demi keadilan dan kebenaran. Padahal rakyat masih kekurangan
: makanan, minuman, barak untuk tubuh-tubuh beberapa keluarga, obat-obatan, listrik, pendidikan, juga belaskasihan.
Siapa sangka, mereka yang halus bagai satria, suci bagai pertapa, ternyata pelengkap racun yang merambat ke dalam saluran darah rakyat yang terus-menerus didera penderitaan ?. Dengar saja nyanyian para elite politik yang sangat ulung meninabobokkan rakyat. Padahal mereka juga termasuk penaik darah profesional, yang sampai mau berantem dengan sesama mereka dengan alasan yang serba luhur.
Posted by Cisca at 10:02 PM
Wednesday, January 4, 2006
Batas Absurd
Tembang, rintihan, pesta tawa hingga celotehan memenuhi berbagai sudut ruang. Absurditas yang nyata. Hinggap di sel seluas 5 x 20 terpagar terali besi. Dari balik jeruji, puluhan orang menatap nanar, penuh ketidakpastian. Lainnya, di ruang berbeda, asyik masyuk bermain dengan tingkah pola anak-anak.
Realitas ini terhampar jelas di Panti Sosial Bina Laras, di jalan Kemuning, Cengkareng-Jakarta Barat. Panti sosial seluas tiga hektar itu dihuni sekitar 500 orang penderita gangguan jiwa. Mereka terjaring dan sedang digodok menjadi "manusia" kembali. Butuh waktu panjang, karena sebagian dari mereka tergolong dalam kategori akut. Jiwa yang akut susah ditembus untuk diluruskan ke "jalan yang benar".
Mereka "diberi"residu untuk melihat kembali masa depan kemanusiaan. Menatap dan menjenguk ruang-ruang batin yang telah hilang dalam lajur kehidupan. Menelusuri akal sehat yang tercecer di pinggiran jalan dan meletakkan kembali pada porsi akal sehat itu sendiri.
Mungkin benar paparan Karl Marx:"Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaannya, melainkan keadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya". Seperti halnya Spinoza dan Freud, Marx percaya bahwa sebagian besar dari apa yang dipikirkan manusia, secara sadar adalah kesadaran "palsu", yaitu ideologi dan rasionalisasi. Dorongan utama perilaku manusia yang sebenarnya tidak disadari adalah perilaku hewani.
Para penghuni itu, sejatinya ingin menjadi deretan manusia yang berpanduan akal sehat. Tapi seperti "igauan" Karl Marx, keadaan sosial yang membentuk mereka telah menomorduakan akal sehat. Mereka juga kerumunan manusia, sama seperti kita. Bahkan mungkin saja mereka menganggap kita yang diberkahi akal dan jiwa yang sehat ini, sebagai orang yang tak berjiwa, tak waras alias gila.
Mungkin mereka juga tertawa jika melihat "koor" kelompok paduan suara dari sebuah kompleks clubbing misalnya, yang lagu-lagunya mungkin saja membuat mereka berpikiran: "ah.... itu kan kerumunan orang-orang gila..".
Inilah jadinya, jika akal sehat tak menjadi panduan. Dan begitulah hidup, selalu mengalirkan peristiwa tak pasti. Mana akal sehat, dan mana akal tak sehat...
Posted by Cisca at 10:01 AM
Thursday, December 29, 2005
Berbahasa Ibu : Aku
Lebih dari sekedar tenda untuk tempat bernaung, ternyata jiwa yang kuat adalah sebuah bangunan yang kokoh di dalam setiap diri manusia korban bencana tsunami, khususnya Aceh.
Ketika negeri ini menjadi rumah duka nasional setahun lalu, seisi rumah kami ( lengkap dengan tikus, cecurut dan rayap-rayapnya itu ) menangisimu bagai tangis seorang ibu kepada anak hilangnya yang masih bersikeras tidak mau pulang ke rumah. ( Mengapa kau selalu gundah anakku?. Jika di tangan ayah kau merasa hidupmu dikejami, bukankah masih ada ibu yang selalu mencintaimu dan mendambakan kerukunan dalam keluarga kita? ).
Kau juga adalah kecamuk lain di hati ibu, setiap kali saudaramu membuat airmata ibu meleleh karena ulah mereka yang rakus menggerogoti harta keluarga kita. Sementara bapakmu masih sibuk dengan ketidaktegasannya, terombang-ambing antara hal yang serba popular dan perang di hati nuraninya melihat derita hidup kita. Sungguhpun demikian, kau jangan marah kepadanya. Berilah ia kesempatan untuk memperbaiki keadaan kita dengan bantuan tangan Tuhan. Hanya uluran tangan Tuhan yang kita percayai saat ini. Jika kau mengira tetangga kita datang menolong, itu hanyalah perpanjangan tangan Tuhan, yang telah menggerakkan terbukanya pintu hati dan belas kasih manusia kepada sesamanya.
Anakku,
Ukuran ibumu ini dalam mewawasi situasi keluarga kita hanya pada hati nurani manusia. Hatilah yang mengalirkan beragam jenis airmata di wajah kita. Hati pula yang membuat sepasang tangan manusia menjadi berlumuran darah sesamanya, atau menyimbahkan darah bagi diri sendiri bahkan sesamanya. Banyak bencana besar di dunia ini berawal, harus dihadapi dan diakhiri dengan menggunakan hati.
Jika hatimu kotor, maka kotor pula pikiranmu. Jika telah kotor pikiranmu, lihatlah perangai apa yang tampak bagi sesamamu: merusak! memusnahkan!. Seolah-olah kitalah si pemilik dunia.
Kau lupa, bahwa Tuhan tidak memerlukan dana seluruh umat manusia untuk Ia menciptakan, memelihara ataupun menghancurkan apapun dari alam semesta ini. Tuhan tidak pernah bersekongkol dengan umatNya untuk setiap kehendakNya. Dengan alasan itulah ibu beranggapan tidak ada sebuah negeri manapun di bumi Allah ini yang layak menuhani negeri lainnya. Ada masanya ketika orang-orang pongah akan terpental dari perputaran bumi hanya karena sebutir kerikil dari langitNya yang terjatuh ke dalam bentang laut di hadapanmu. (Allahu Akbar).
Namun kau harus percaya, meski saat ini ibu lemah ketika menolongmu, setiap bencana dari Tuhan merupakan gerbang ujian dan calon berkah bagi saudara- saudaramu. Setiap saat kita semua masih diberiNya kesempatan berbuat baik. Ada peluang yang indah dalam penyamaran setiap kejadian dan peritiwa.
Ketika mentari terbit ataupun sedang membuat malam, ibulah yang merengkuhmu dalam pelukan cinta dan doa. Memandikanmu dengan curahan airmata karena mengetahui bagaimana tingkah saudaramu yang setiap hari semakin rajin mengibarkan berbagai jenis lembaran uang atas namanya sendiri di semua permukaan bumi yang dipijaknya. Sementara kau masih terkapar di atas tanah penderitaan yang sama, lemas menghafal berapa jumlah butiran nasi di piringmu, berapa jumlah pasir yang kau perlukan untuk membangun kembali rumahmu.
SubhanaAllah, anakku. Mari kita sederhanakan semua perhitungan manusia dari nol.
Butakah saudaramu yang air liurnya hingga merembes di sudut mulutnya ketika menghitung uang gaji ratusan juta rupiah yang memasuki setiap bulan dalam kehidupannya sepanjang masa jabatannya?. Tulikah telinga mereka yang berkehendak gagah-gagahan menjadikan keluarga kita sebagai anggota keluarga penghasil senjata ?, atau bahkan desakan si pemilik hati yang gemar pamer dengan rencana dibangunnya monorel di Jakarta pada tahun 2006 nanti?. Ah, katakan saja yang segelintir itu di buku hatimu.
Inilah yang ibu khawatirkan nak : kita menjadi buta mata hati. Terbias pandang dalam mewawasi keadaan. Ibu yakin, pembiaran atas penderitaanmu hingga berlarut-larut, yang dibarengi dengan keinginan untuk selalu tampil trendy di mata tetangga kita, adalah siksaan tersendiri di hati bapakmu. Kemana ia akan menghampar pandangannya selama itu, jika ia harus pergi kondangan "standing party" tetangga kita, sementara ia tahu pasti anak-anak di rumahnya hanyalah anak-anak yang tidur beralaskan tikar, tidak bersekolah dan hanya makan nasi dari beras patahan?
Akan dan telah kau saksikan, bahwa kesedihan ibu adalah kemarahan Tuhan. Kemarahan Tuhan adalah bencana yang melahirkan kembali kepedihan di hati kita semua. Inilah siklus dari satu rangkaian kehidupan.
Untuk hidup kita butuh standar kelayakan, karena kita hanyalah manusia si penerima kehidupan. Tuhanlah pemiliknya. Raga ini juga milik Tuhan, patut kita pelihara sebaik-baiknya selama hidup. Meski ibu mengerti, bahwa jiwa yang bersih dan kokoh serta dilandasi iman kepada Allah adalah rumah kita yang tak lekang tak lapuk oleh badai dan guncangan alam, namun kau layak menerima perlakuan yang adil dari kehidupan yang hanya sementara ini.
Doa ibu senantiasa bersamamu.
Posted by Cisca at 7:28 AM
Thursday, December 15, 2005
Kado Untuk Teman

Koran pagi masih mengepul di atas meja. Wartawan itu belum membacanya, dia masih tertidur di kursi setelah seharian dikejar-kejar berita. Seperti biasa, untuk melawan pening ia menepuk keningnya. Lolos dari deadline, ia pun terlelap. Lengkaplah capeknya.
Uban yang letih tanda memutihnya tahun. Entah sudah berapa orang, peristiwa....mmm..berapa ya..., melintasi jalur waktu di kerut wajahnya. Ke suaka ingatan mereka hijrah...
Almarhum bapaknya sebenarnya tidak suka ia susah-susah jadi reporter. Lebih baik jadi artis yang kerjanya diuber-uber wartawan. Ibunya berharap dia jadi dokter, agar dapat merawat tubuhnya sendiri yang sakit-sakitan.
Siang itu, ia bersama teman-teman sekelasnya sedang berlatih mengarang. Sementara kawan-kawannya sibuk bermain kata, ia bengong saja sambil mengigit-gigit pena. Padahal ibu guru sudah bilang berkali-kali, bahwa cara terbaik untuk mulai menulis adalah menulis.
Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba terjadi kebakaran. Bu guru dan teman-temannya segera menghambur keluar. Belakangan beredar kabar bahwa gedung sekolahnya sengaja dibakar komplotan perusuh berlagak pahlawan. Saat itu situasi memang sedang rawan, penuh pergolakan.
Tanpa menghiraukan bahaya, bocah bego itu malah sibuk mencari-cari pena yang terjatuh dari meja. Bu guru nekat menyusulnya. Sementara api makin berkobar dan semua panik : jangan-jangan mereka ikut terbakar...
Si anak bengong itu kini sedang lelap. Matanya setengah terbuka. Koran pagi masih mengepul di atas meja....
Posted by Cisca at 7:14 AM
Monday, November 21, 2005
D i s o r i e n t a s i
Elegi yang menimpa seorang kakek dan nenek di Demak dan Banyuwangi yang meninggal karena antri mencairkan dana kompensasi BBM beberapa waktu lalu adalah tragedi kemanusiaan yang tak boleh disembunyikan. Kematian mereka menembus slogan kenaikan harga BBM yang cukup fantastis ini. Kematian ini ( termasuk sekian kematian akibat kemiskinan yang merayap di seluruh pelosok dan tak sempat terekam kamera dan pena wartawan) juga menjadi tamparan yang cukup nyata atas iklan layanan masyarakat yang dikumandangkan tokoh agama dan ekonomi di televisi.
Paradoks kebangsaan yang sedang mengupas hati disaat kita merayakan momentum kebangkitan sumpah pemuda yang ke 77. Namun tragedi tidak langsung bergema seperti pernyataan Nikita Kruschev, one dead man tragedy, a million dead men are statistic. Di negeri yang mulai lumpuh nurani, kematian kakek nenek tentu saja tak berarti. Apalagi ia miskin dan bukan siapa-siapa. " wong nonton konser bisa mati koq ".
Presiden SBY dan menteri di kabinet tentu tak akan mengadakan rapat evaluasi kabinet hanya karena kasus ini. Bahkan jikapun terjadi fakta penderitaan yang lebih luar biasa lagi akibat kenaikan harga BBM, mungkin pemerintah tak akan beranjak untuk mengubah keputusannya.
Yang menyedihkan, intelektual seakan tunduk dengan logika pengetahuan yang ditekuninya bertahun-tahun. Hampir semua mengamini atau diam-diam saja tentang demokrasi prosedural atas legitimasi SBY sebagai presiden pilihan langsung rakyat yang dianggap tak berpeluang dijatuhkan oleh aksi massa. Logika prosedural ketatanegaraan juga turut melemahkan DPR sebagai lembaga yang tak dapat meng-impeach presiden. Namun di tengah prahara nasional ini, yang menyedihkan dimana suara mahasiswa ?.
Ketika terjadi krisis terbesar di Prancis setelah perang perang dunia ke dua, 1968, gerakan mahasiswa muncul sebagai pendobrak dan penentang paling serius atas kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Gerakan mahasiswa tidak membawa perubahan apa-apa kecuali kecuali hanya mengganti pimpinan pemerintahan. Gerakan mahasiswa Prancis hidup sebentar hidup sebentar dalam hysteria publik dan media massa. Jacques Derrida mengkritik gerakan mahasiswa itu sebagai infantilisme politik yang tak melakukan dekonstruksi intelektual apapun kearah ketercerahan sisitem pemerintahan. Mungkin kritik Derride agak hyperbolik, karena sedikit banyaknya pergantian orang membawa ekspressi perubahan pada sistem.
Pada tahun 1989, ketika gelombang demokratisasi merambah negara-negara komunis, mahasiswa Cina menuntut pemerintah Den Xiao Ping untuk membuka keran liberalisme ekonomi dan politik demi kesejahteraan rakyat. Kata-kata Mao Tse Tung tentang kemandirian dalam kemiskinan lebih berharga daripada kekayaan dalam perbudakan tidak renyah lagi di telinga. Mahasiswa menganggap pemerintah terlalu banyak berbohong dengan media yang dikuasainya. Buktinya, rakyat makin miskin dan terhina. Aksi mahasiswa berujung dengan tumpah darah di lapangan Tiannanmen. Ribuan massa mati terpanggang dan tertembak tentara. Namun, setelah itu Cina berkembang dengan kebijakan ekonomi dan politik yang mulai terbuka dan kompetitif.
Tahun 1998, mahasiswa Indonesia menuntut mundur pemerintahan Orde Baru yang dianggap biang korupsi. Saat itu demonstrasi dipicu pula oleh kenaikan harga BBM yang dianggap tidak sensitif atas krisis ekonomi---meskipun akhirnya harga BBM diturunkan kembali. Langkah pemerintah tidak ampuh. Gelombang aksi mahasiswa mampu menjatuhkan Soeharto, sesuatu yang tidak diperkirakan para analis politik saat itu.
Jauh hari sebelum menaikkan harga BBM, pemerintahan SBY telah menyuarakan berbagai macam argumentasi berkaitan dengan pentingnya melakukan penghematan APBN dengan mencabut subsidi BBM akibat krisis harga minyak mentah dunia yang dirasakan hampir seluruh negara. Namun yang menyedihkan, argumentasi tersebut ditelan mentah-mentah. Tidak ada umpan balik yang dapat menjadi "tanda" bagi mahasiswa untuk menggalang aksi massa dengan argumentasi yang lebih melindungi rakyat. Informasi yang diberikan pemerintah seolah telah menepati derajat scientific sehingga tak ada ruang untuk mengurainya lebih lanjut. Tidak terlihat aksi demonstrasi besar-besaran dan massif yang menolak kenaikan BBM, bahkan respons menolak kenaikan BBM kedua lebih lemah dibandingkan pertama. Padahal, kenaikan kali ini sungguh tidak rasional.
Seharusnya mahasiswa tidak perlu tunduk atas penjelasan scientific yang njelimet tentang pemotongan subsidi yang dipropagandakan pemerintah akan berbanding lurus dengan peningkatan program kesejahteraan rakyat miskin. Apalah arti keilmiahan kalau hanya memproduksi derita?.
Mereka cukup merekam lingkungan di sekitar dan melihat ketimpangan antara teori dan realitas, antara das sollen dan das sain, sebagai sinyal argumentasi menolak kenaikan harga BBM. Seperti dikatakan Edward W. Said, yang membuat gerakan mahasiwa menjadi kuat adalah mediokeritas pengetahuan yang dimilikinya. Ia tidak perlu tahu semuanya untuk bergerak, karena yang menjadi senjatanya adalah suara-suara yang dibisukan oleh arogansi kekuasaan dan pengetahuan.
Namun, aksi massa mahasiswa tidak cukup nyata meskipun semakin hari data-data distorsi dana dan pemberian subsidi makin terang benderang. Bahkan yang menjadi ironi, pengurangan subsidi juga dipergunakan untuk menambah anggaran operasional kementrian dan tunjangan anggota Dewan. Fakta ini telah menyimpulkan bahwa tidak sepenuhnya anggaran yang telah "dirasionalisasikan" tersebut dijadikan sebagai benteng terakhir penyelamatan penderitaan rakyat miskin. Kebohongan menjadi selimut atas kebijakan nasional yang proliberal.
Di sisi lain, banyak masyarakat karena kemiskinannya telah mencapai derajat absolut, luput tercatat oleh BPS sebagai warga negara miskin, bahkan terjadi di ibukota Jakarta. Statistik kemiskinan telah membuat orang kehilangan banyak hal. Ini adalah pengetahuan utama yang dapat dijadikan alas an untuk menggalang aksi demonstrasi dan meminta penurunan BBM, sampai kapanpun hingga berhasil.
Yang dibutuhkan saat ini bukan kesempurnaan pengetahuan atas kebijakan pemerintah yang nyatanya tidak juga transparan. Yang dibutuhkan adalah partikulus wacana, yang banyak terserak di tengah-tengah kehidupan nyata masyarakat lapisan terbawah. Para ibu yang antri berjam-jam hanya demi lima liter minyak tanah mahal, pertengkaran kernet angkot dengan penumpang untuk urusan uang seribuan rupiah, anak-anak yang tidak sekolah karena orangtua tidak memiliki uang, seorang nenek yang mati membusuk karena tidak ada makanan, seorang ayah yang lumpuh oleh stroke karena ditolak rawat dini oleh rumah sakit, dan aneka penderitaan harian lainnya.
Posted by Cisca at 6:20 PM
Saturday, November 19, 2005
P e r s e l i n g k u h a n
"Keadilan sosial bagi semua"-- yang merupakan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat-- adalah keadilan yang kerap kali dilihat sebagai utopia, karena realitas dalam hidup ini terdapat situasi pasti dimana kesenjangan sosial antara kaya dan miskin selalu ada di dalam struktur masyarakat.
Cita-cita kesejahteraan sosial tetap harus diwujudkan, dengan dasar utama untuk menciptakan keadilan sosial paling maksimal yang bisa ditempuh. Satu-satunya jalan masuk untuk mewujudkan hal itu adalah dengan menciptakan dan menerapkan hukum sebagaimana mestinya. Hukum yang melindungi semua, terutama hukum yang melindungi wong cilik yang selama ini selalu di tepi akibat akal bersaing di dunia nyata.
Kemiskinan di Indonesia harus dilihat dari kacamata yang paling obyektif. Temuan Bank Dunia ( WorldBank ) pada Januari lalu menempatkan separuh lebih penduduk Indonesia berada dalam situasi hidup yang tidak layak. Kita memperoleh pendapatan yang jauh di bawah ukuran kelayakan.
Persoalan utama yang melandasi struktur kemiskinan masyarakat kita karena adanya dosa struktur. Dosa stuktur yang dimaksud adalah menyangkut bagaimana distribusi yang adil dan menjangkau semua pihak. Dengan demikian, keadilan yang sedang kita bicarakan disini adalah menyangkut keadilan untuk semua.
Misalnya, harus memulai diperhatikan adanya biaya produksi yang mahal dalam setiap aspek kehidupan masyarakat di pedesaan sebagai akibat dari sistem jaringan transformasi dan informasi yang hanya tersedia di kota besar yang menjadi pusat ekonomi. Atau contoh yang lebih umum, harus mulai diperhatikan adanya kesenjangan akses ( pendidikan, sosial, ekonomi, budaya ) yang hanya bisa diakses oleh kaum berduit daripada kaum melarat. Atau akses kehidupan yang hanya bisa diakses oleh kaum bandit daripada masyarakat jelata lainnya.
Kehidupan ekonomi yang hanya berfokus pada pusat kota membuat daerah di pelosok semakin tidak tersentuh oleh jaring-jaring ini. Fatalnya, seringkali jaringan ini hanya mengeskploitasi daerah pedesaan tanpa memberdayakannya. Contoh, harga pupuk yang mahal adalah kebijakan " orang kota " yang membuat masyarakat di pedesaan kelaparan.
Mereka hidup susah tanpa tahu mengapa semua ini terjadi. Mereka "nrimo ing pandum", menerima nasib apa adanya dan the show must go on. Mereka tidak tahu logika mengapa harga produksi gabah dan tebu misalnya, sangatlah murah, dan harga pupuk sangatlah mahal. Mereka tidak tahu berapa selayaknya jerih payah mereka harus dihargai karena telah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan.
Padahal merekalah pahlawan kita selama ini. Pahlawan yang selalu diperah dan diperas tenaganya untuk membiayai kehidupan Indonesia.
Jaringan kekuasaan hanya memfokuskan pembangunan pada pusat kota, dan ini membuat biaya hidup rakyat miskin di pedesaan semakin berat. Beban hidup mereka akan habis hanya untuk membiayai transformasi.
Kemiskinan juga sulit diatasi karena kaum miskin tidak memiliki daya tawar terhadap kebijakan yang selama ini tidak berpihak kepada mereka. Kaum miskin hanya menjadi alat produksi semata-mata.
Pendapatan mereka hanya sekedar mencukupi kebutuhan hidup saja. Inilah yang membuat kaum miskin tak berdaya untuk memiliki daya tawar terhadap pengambilan keputusan. Yang kaya semakin berada di puncak.
Kebijakan politik yang ada selama ini sering ( dan sebagian besar ) hanya berpihak kepada mereka yang memiliki alat produksi dan modal. Kaum miskin diperas tenaganya hanya sekedar menjadi buruh kasar dengan dalih keterampilan mereka terbatas. Tetapi pemerintah, di sisi lain, tidak mampu berbuat bagaimana seharusnya meningkatkan keterampilan mereka agar bisa berkompetisi lebih adil dengan lainnya.
Ketidakmampuan mereka inilah yang sering dieksploitasi tanpa rasa kemanusiaan. Ini membuat posisi daya tawar mereka begitu lemah. Dalam kajian teoritis atau secara ideal, mereka memang dilindungi oleh negara, namun dalam konteks realitas mereka adalah pecundang yang sering ditipu daya oleh dua poros utama, yaitu : Modal dan Penguasa.
Kaum miskin selalu dilihat sebelah mata dalam berbagai proses pembuatan kebijakan. Kebijakan yang dilahirkan penguasa tidak terlalu banyak memperhatikan poros warga negara. Warga negara yang miskin dianggap tidak memiliki kedaulatan tertinggi di dalam sebuah negara. Pelanggaran konstitusi ini terus terjadi tanpa adanya kemauan untuk memperbaikinya. Misalnya dengan melahirkan sebuah kebijakan yang sungguh-sungguh mengapresiasikan dan melibatkan kaum miskin untuk berperan sebagai warga negara normal.
Penguasa kita masih menggunakan pola VOC pada zaman Hindia Belanda dalam salah satu programnya. Badan Publik, yaitu Badan Usaha Milik Negara yang seharusnya menyejahterakan masyarakatnya justru berperilaku sebaliknya. Mereka gagal memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Fatalnya, seringkali dana itu di korup oleh pengelola badan publik dalam berbagai skandal, baik dengan parpol maupun lainnya.
Dalam birokrasi publik kita, korupsi seperti sudah lazim diterjemahkan sebagai " uang lelah ". Mentalitas dan kebudayaan ini tanpa disadari meneruskan warisan budaya yang ditanamkan oleh kultur centengisme yang digunakan VOC untuk memperalat pribumi dalam mengabdi pada kepentingan penjajah. Kultur ini menjadi subur karena para pelaku politik sudah bersekutu dengan para pelaku bisnis hitam.
Ini kenyataan yang membuat keadilan di negeri kita sulit diwujudkan.
Elite politik yang masih bermentalitas pola VOC dan fasisme Jepang ini membuat bangsa terpuruk karena terjadi perselingkuhan antara poros negara dengan badan publiknya dan poros pasar dengan komoditas bisnis. Dalam perselingkuhan ini poros warga selalu dijadikan korban.
Kapan elite politik keluar dari lingkaran setan ini?.
Posted by Cisca at 6:18 PM
Wednesday, November 16, 2005
Otsus Menelan "Korban"
"Jangan kami saja rakyat kecil yang berani dihukum cambuk di depan umum, orang-orang kaya atau orang-orang penting, bila divonis cambuk, juga harus ditonton masyarakat umum" ( salah seorang terpidana hukum cambuk di Bireun - Aceh 2005 )
Dalam beberapa kali penerbitan di bulan April dan Mei, beberapa media cetak lokal dan nasional sempat melansir berita mengenai proses persidangan di Mahkamah Sya'riah ( MS ) Bireun terhadap 20 warga setempat yang didakwa melakukan tindak pidana perjudian. Meskipun perjudian tergolong kasus tindak pidana biasa, namun dalam kasus itu mendapat banyak perhatian dari masyarakat luas di Aceh, karena untuk pertama kalinya hukum atau Syariat Islam coba diterapkan di provinsi NAD. Majelis Hakim MS yang menyidangkan perkara ini mencoba menjerat para terdakwa dengan pasal-pasal yang temuat dalam Qanun ( peraturan daerah ) No. 13 / 2003 tentang perjudian ( maisir ).
Dalam proses persidangan akhirnya ke 20 warga tsb divonis hukum cambuk bervariasi, mulai dari 6 - 10 kali. Bahkan vonis terhadap 12 orang dianataranya telah memilki status kekuatan hukum tetap karena mereka tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk mengajukan proses banding. Memang belum ada eksekusi karena masih menunggu SK dari gubernur.
Sepintas sepertinya peristiwa hukum di Bireun ini telah berjalan sesuai landasan hukumnya, yaitu UU No.18 / 2001 tentang Otonomi Khusus bagi provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai provinsi NAD. Di dalam kedua UU tersebut, secara jelas disebutkan bahwa Aceh memiliki hak untuk menjalankan Syariat Islam bagi seluruh muslim yang berada di wilayah tersebut.
Namun, jika ditelusuri lebih jauh, kebijakan penerapan Syariat Islam di Aceh sebenarnya masih menyisakan beberapa persoalan. Salah satu persoalan yang sepertinya masih belum terjawab sampai sekarang adalah menyangkut kelengkapan instrumen hukum pelaksanaannya. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 26 ayat 1 dan 2 UU No.18 / 2001, MS yang berada di tingkat kabupaten atau kota merupakan pengadilan tingkat pertama. Sedangkan di MS di tingkat provinsi merupakan pengadilan tinggi. Pengadilan tingkat kasasi tetap berada pada Mahkamah Agung.
Sejauh ini di seluruh daerah kabupaten atau kota dan provinsi NAD, MS sudah terbentuk. Tetapi hal tersebut agaknya belum diikuti dengan pembentukan lembaga khusus di tingkat MA yang memiliki wewenang memeriksa permohonan kasasi ataupun peninjauan kembali perkara-perkara dari MS. Paling tidak hal ini terlihat dari penjelasan Bagir Manan, ketua MA pada 2002 lalu. Menurutnya masih perlu dicari kesinambungan ( lembaga ) yang menghubungkan antara MS dan MA. Karena bagaimanapaun juga, MS masih merupakan bagian dari sistem peradilan nasional.
Dengan kata lain, kelengkapan institusi hukum yang akan menangani perkara-perkara Syariat Islam dapat dikatakan belum sepenuhnya terpenuhi. Anehnya, dalam kasus Bireun, terkesan pemerintah daerah dan institusi peradilan setempat cukup berani menggelar proses persidangan kasus perjudian tersebut melalui MS. Sementara keberadaan lembaga khusus di tingkat MA sendiri belum jelas, apakah sudah atau belum dibentuk.
Persoalan lainnya tentang waktu dari penerapan Syariat Islam itu sendiri. Sebagai salah satu kebijakan khusus dalam paket kebijakan Otonomi Khusus Aceh apakah Sya'riat Islam yang diterjemahkan seperti dalam kasus di Bireun itu mendesak serta berada pada moment yang tepat untuk dilaksanakan ?.
Keinginan memberlakukan Syariat Islam di Aceh pada awalnya muncul pada 1948. Adalah Soekarno, presiden RI pertama, yang berjanji memberikan status daerah khusus kepada Aceh untuk mengatur daerahnya sendiri. Pemberian janji oleh Soekarno tersebut didasarkan atas pengamatannya setelah melihat kondisi sosial masyarakat Aceh saat itu yang sangat kental budaya keislamannya. Ucapan soekarno itu sendiri disampaikan dalam sebuah perbincangan antara dirinya dan tokoh ulama kharismatik Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh di Banda Aceh pada Juni 1948.
Keinginan tersebut baru benar-benar bisa diwujudkan setelah lebih empat dekade kemudian melalui UU No.18 / 2001. Meskipun demikian, perlu juga dipahami bahwa UU tersebut lahir bukan semata-mata berfungsi sebagai payung hukum penerapan Syariat Islam, melainkan juga sebagai salah satu pendekatan pemerintah pusat untuk mengatasi konflik politik antara RI dan GAM serta ekses yang ditimbulkan dari konflik tersebut.
Di tengah kondisi sosial masyarakat Aceh seperti saat sekarang, kebijakan Syariat Islam bergerak terlalu progresif dibanding pencapaian tujuan utama kebijakan otsus. Apabila pemberlakuan Syariat Islam ini tidak segera dihentikan untuk sementara, tidak berlebihan jika dikatakan kebijakan otsus bukan sebuah solusi bagi penderitaan rakyat Aceh. Ia lebih tepat dikatakan sebagai "alat baru" pemerintah yang ( untuk kesekian kalinya ) menempatkan rakyat Aceh sebagai " korban ".
Alasannya, selain tingkat kesejahteraan rakyat Aceh yang tidak terpulihkan dengan adanya otsus ini, dalam prakteknya hukum di Indonesia hanya mampu berlaku efektif bagi masyarakat golongan kecil. Sehingga wajar jika muncul kekhawatiran, seperti yang diucapkan oleh salah seorang terpidana hukum cambuk, bahwa Syariat Islam ini nantinya juga tidak mampu berlaku adil.
Kalaupun pelaksanaan Syariat Islam ini tetap dipaksakan, langkah awal yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah NAD adalah melakukan penilaian ( terutama ) sejauh mana kesiapan masyarakat Aceh sendiri untuk menjalankan Qanun / Qanun-qonun Syariat Islam.
Hal ini menjadi penting, karena kalau dilihat dari rentang waktu munculnya ide pemberlakuan Syariat Islam dengan kehadiran landasan hukumnya yang sangat jauh, tidak tertutup kemungkinan terjadi pergeseran nilai-nilai sosial di tengah masyarakat Aceh yang berakar pada Islam. Dengan kata lain, kondisi kultur keislaman masyarakat Aceh seperti masa lalu harus dihadirkan terlebih dahulu sebelum Syariat Islam diterapkan.
Disamping itu masalah kelengkapan perangkat hukum menjadi bagian penting lain yang harus dipenuhi oleh pemerintah pusat, sehingga tidak menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat apakah pemerintah pusat sepenuhnya setuju dengan pemberlakuan Syariat Islam di Aceh ?
Tetapi jika pemerintah mau lebih arif, perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat Aceh harusnya jauh lebih dikedepankan dibandingkan pelaksaaan Syariat Islam. Lagipula, bukanlah faktor utama penyebab konflik Aceh adalah karena ketidak adilan di bidang ekonomi, politik, dan hukum, bukan karena tuntutan ada atau tidaknya Syariat Islam ?.
Posted by Cisca at 6:15 PM
Tuesday, November 15, 2005
P a r s e l
Saya sorongkan kartu merah kepada Presiden Yudhoyono. Lho, apa pasal ?. Karena Presiden Yudhoyono telah memborong parsel untuk kaum duafa. Lho, kan bagus, Presiden jadi dermawan?. Tidak!. Lho, memangnya kenapa koq tidak?. Karena Presiden Yudhoyono telah tersangkut parcel gate. Wah, parcel-gate? Ha ha ha, ngaco kamu!.
Sampai sejauh ini terus mengiang fatwa dari Komisi Pemberantasan Korupsi yang dinyatakan oleh Erry Riyana Hardjapamekas bahwa, "Tradisi mengirim parsel bisa saja menjurus pada penciptaan situasi yang tidak fair dan cenderung korupsi." Lalu larangan parsel ini disambut gembira oleh Lucky Djani dari Indonesia Corruption Watch yang mengimbau Presiden supaya melembagakan fatwa itu dengan menyatakan, "Misalnya, presiden bisa menerbitkan instruksi presiden menolak parsel."
Dengan memborong parsel itu, Presiden telah melanggar fatwa parsel itu. Lho, kamu itu bagaimana sih?. Yang disebut parcel gate adalah jika Presiden menerima parsel dari kalangan bawah. Tidak!. Lho, tidak bagaimana?. Sama saja, dari bawah keatas atau dari atas ke bawah. Yang jelas, apa saja yang ada hubungannya dengan parsel, haram hukumnya. Wah, haram hukumnya? Ha ha ha, kamu itu tidak bisa membedakan persoalan!. Kau kemanakan benakmu?.
Begini. Sudah jelas para pejabat negara dilarang menerima parsel karena parsel sudah dianggap sebagai sumber KKN. Dengan demikian, para pejabat juga dilarang mengirim parsel sekalipun untuk fakir miskin, karena parsel yang dikirm itu juga bisa menjadi "politik uang". Masih ingatkan politik uang?. Parsel dari presiden itu dapat ditafsirkan sebagai usaha merayu suara kaum dhuafa supaya tetap mendukung kepemimpinan Presiden. Nah, logis kan?.
Wah, pikiran kamu sungguh-sungguh ruwet!. Buat apa Presiden Yudhoyono merayu suara rakyat jelata, beliau kan sudah berkuasa. Berkuasa?. Disitulah letak bahayanya. Justru karena beliau sudah sangat berkuasa, harus berhati-hati. Kekuasaan dapat menelan siapa saja yang memegangnya.
Oke, setelah kena kartu merah, apa yang harus dilakukan presiden?. Sederhana saja, yaitu supaya presiden mencabut larangan mengirim parsel darimanapun kepada siapapun. Jika "parsel haram" terus berlaku, ini berarti pemerintah telah menolerir suatu sikap otoriter, main hakim sendiri, dari sebagian masyarakat masyarakat terhadap masyarakat lainnya. Ini jelas akan membangun masyarakat anarkis. Setiap lembaga bisa berbuat sewenang-wenang terhadap lembaga lain atau terhadap siapapun yang tidak disukainya. KPK dan ICW bertindak atas dasar dugaan-dugaan, jauh dari sikap rasional. Sikap begini sungguh berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar apa dan undang-undang apa KPK dan ICW bisa menelurkan keputusan yang aneh dan merugikan itu?.
Para pejabat negara dalam zaman reformasi ini koq suka berperilaku berlebihan untuk ukuran-ukuran yang lumrah. Misalnya ada yang mengembalikan Volvonya yang dianggapnya mewah, jauh dari "sama rata sama rasa" dengan rakyat miskin. Padahal mobil Volvo sebenarnya mobil standar untuk pejabat negara. Mobil Volvo dianggap sangkil dan mangkus ( efektif dan efisien ) bagi kinerja para pejabat.
Jangan sampai menolak Volvo jadinya kinerja penjabat itu jadi merosot. Merosot karena di rumah terus bertengkar dengan istri dan anak sebab rebutan mobil butut antara untuk belanja dan mengantar anak ke sekolah. Atau pejabat itu memilih bergelantungan di bus kota yang penuh sesak sehingga ketika turun di depan gedung MPR, pemimpin saya itu terhuyung-huyung karena kehabisan oksigen lalu masuk angin lantas terkapar diatas dipan yang keras dan kumuh sehingga tidak mampu bekerja. Apa itu yang dimaui dengan menolak Volvo?.
Dengan menolak Volvo, seolah bisa untuk membayar kemewahan yang diperlihatkan para wakil rakyat lewat gontok-gontokan. Konflik para wakil rakyat itu jauh lebih mewah daripada mobil Volvo. Saya percaya, pemimpin saya tidak "gegar kemewahan" disebabkan mengendarai mobil Volvo. Lagian, yang lain menerima koq yang ini menolak, kentara para wakil rakyat itu tidak kompak.
Yang penting, hatinya sederhana. Biar naik mobil rongsokan kalau hatinya mewah, tidak ada gunanya. Yang penting, para wakil rakyat bekerja sepenuh hati untuk rakyat. Jika bekerja sepenuh hati, sesuatu yang mewah itu jadi sederhana karena tertutup oleh prestasi kerja.
Seandainya seluruh pejabat negara menolak Volvo, tidak akan mengurangi kebocoran keuangan negara, tidak menambah kepatutan moral, dan tidak mendatangkan keuntungan berbentuk apapun karena mobil Volvo cuma setetes air di keluasan dan kedalaman sebuah samudera.
Sebagai rakyat kecil, saya ikhlas koq pemimpin saya naik Volvo. Tidak, tidak, saya tidak merasa iri dan sewot melihat pemimpin saya naik Volvo.
Sementara itu soal parsel, terus berkembang. Lho, kalau mau nyogok atau punya sikap pamrih terhadap kekuasaan dan uang, banyak jalan yang bisa dilakukan.Tidak perlu lewat parsel. Bisa lewat rekening dan itu sangat sulit dilacak. Juga bisa saja ditempuh jalan lain, misalnya dengan mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Indonesian Corruption Watch. Kenapa tidak ? Jelas, KPK dan ICW mau menunggangi Presiden Yudhoyono untuk menaikkan gengsinya. Awas lho, Presiden Yudhoyono, Anda jangan mau ditunggangi lembaga apapun dengan dalih dalih suci seolah-olah lembaga itu yang paling suci. Jangan-jangan karena ketidak mampuan KPK dan ICW dalam mengungkap kasus korupsi lalu mencari-cari kesibukan supaya nampak berjasa. Akibatnya pengusaha kecil yang coba mau berdiri, pada berkaparan.
Mulai sekarang bangkitlah Asosiasi Parsel Indonesia. Jangan bersedih dan jangan minta-minta dukungan DPR dan MPR atau lembaga manapun. Berjuang sendiri saja. Mulai hari ini jajakan ke kantor-kantor pemerintah dan gubernuran. Teriakkan: " Parsel suci hanya untuk pejabat suci !"
Posted by Cisca at 6:14 PM
Tuesday, November 1, 2005
Mudik Lebaran
Mudik Lebaran memang sudah bagaikan suatu ritus yang tidak jelas, entah keajaiban fenomena agama, sosial ataukah budaya. Berita kemacetan, kematian sudah menjadi pemandangan umum di berbagai jalur arus mudik. Inilah teror kehidupan yang tak pernah berhenti merenggut nyawa kaum urban di negeri ini setiap tahunnya. Padahal sepenggal harapan para pemudik itu, sesungguhnya hanyalah "rindu" untuk menjenguk kampung halaman. Rindu tanah asal kebudayaan, rindu sanak keluarga, adat istiadat, kawan-kawan lama yang masih betah hidup di kampung halaman. Kawan-kawan lama yang tak tersentuh gemerlap kehidupan kota. Menjenguk tanah asal kebudayaan untuk menciptakan kembali identitas diri adalah berkah lain dari tradisi mudik. Kekerabatan yang tercerai berai dalam kurun waktu satu tahun akan menemukan identitasnya ketika mudik menjadi orkestra terakhir kaum urban.
Dalam banyak hal, mudik juga merupakan asuransi sosial yang secara khusus akan mampu menekan ketegangan antara kota dan desa. Satu hal yang mustahil bisa ditilik pada masyarakat dunia manapun, dan agama manapun kecuali Indonesia dan Islam, bahwa realitas mudik menjadi sesuatu yang "wajib" bagi para pelancong, pejuang kehidupan, yang setiap hari mengais rezeki di kota-kota besar.
Di negara maju seperti Amerika juga ada ritus serupa seperti Christmas Day dan Thanksgiving Day. Dua peristiwa itu juga dijadikan ajang untuk berkumpulnya seluruh keluarga inti mereka. Tetapi ritus mereka tidak sefenomenal yang melibatkan banyak orang, sumber daya dan fasilitas negara dalam skala besar. Tidak dalam skala keluarga jaringan.
Padahal tidak ada kaitan signifikan antara ritual mudik ini dan penghayatan keagamaan seseorang. Unik memang!.
Bagaimana sebenarnya fenomena ini membawa manfaat bagi pembangunan regional khususnya di wilayah pedesaan, khususnya peran ekonomi bagi wilayah urbanite itu?. Yang terlihat adalah bentuk lain dari "buang kekayaan" selama hidup setahun mengepung kota, untuk kemudian menabur hasilnya ke desa. Yah, semacam reaksi massal terhadap dampak sosial pembangunan. Ada pertentangan antara sakralitas dan profanitas.
Lahirnya tradisi mudik memang berasal dari realitas sakral pada bulan Ramadhan, tetapi mudik itu sendiri realitas profan yang tidak memiliki kaitan dengan unsur-unsur nilai sakral. Malah fenomena ini melahirkan teror lain, berupa kecelakaan lalulintas selama dalam perjalanan mudik, yang semoga saja jumlahnya tidak akan makin meningkat sampai menjelang arus balik nanti.
Uniknya lagi, para pemudik ini mengatakan "gak plong kalo lebaran gak mudik". Seolah fenomena mudik ini merupakan "orgasme spiritual" menjelang Hari Raya Idul Fitri di negeri ini. Inilah siklus unik kehidupan yang juga menakjubkan di negeri ini.
Yah, mudik tetaplah mudik, tidak ada grand theory ataupun backmind yang jelas, selain kangen-kangenan pulang kampung, rindu tanah asal. ( Selamat mudik saudara-saudaraku )
Posted by Cisca at 8:11 PM
Sunday, October 30, 2005
Yang Masih Tercecer

"Kring..kring..kring..., suara bel sepeda Phoenix buatan Taiwan itu membelah panasnya Jakarta di sebelah barat dan kota. Sarman, si pemilik sepeda itu, ringan saja mengayuh tunggangannya melawan arah. Kadang "nyalib" di depan kendaraan lain yang melaju kencang. Raungan klaksonpun bersahutan mewakili kekesalan pemilik kendaraan lain. Peluh bercucuran dari wajah pak Sarman yang terlihat lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.
Namun suara klakson kendaraan lain tak membuat pak Sarman grogi, tetap santai dia mengayuh pedal sepedanya. Lewat kayuhan sepedanya inilah pak Sarman menyambung hidup keluarganya. Pria berusia 42 tahun ini adalah salah seorang pengojek sepeda yang kini masih banyak di kawasan Jakarta Kota. Bahkan menjadi tunggangan alternatif yang tak lekang oleh panas hujan dan tak lapuk oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Habis mau bagaimana lagi ?. Berjalan kaki ke tempat beraktivitas pasca kenaikan BBM ?. Apa Mungkin ?. Lihatlah bagaimana kondisi trotoar di negeri ini. Trotoar bukan lagi untuk pejalan kaki, tapi sudah dimonopoli oleh pengendara motor dan pedagang kaki lima. Belum lagi kondisinya yang tidak terawat, masih banyak terdapat kawat bekas galian, berlubang-lubang tidak rata dan ditumbuhi pepohonan yang akarnya kadang menyandung para pejalan kaki. Belum lagi galaknya pengendara motor yang jika mereka melajukan motornya di atas trotoar, lantas ada pejalan kaki yang dianggap menghalangi jalan mereka, mereka akan membunyikan klaksonnya, mempelototkan mata sambil mengumpat, Woi, minggir!. Nggak ngeliat apa lu!". (Minggir?. Lha mau minggir ke mana lagi. Trotoar kan tempat kami berjalan kaki?. Apa kami mesti turun ke bahu jalan untuk berjalan?. Yah, terpaksalah daripada saling ngotot, ngeyel, dan memang akhirnya hanya itulah yang bisa kami lakukan. Berjalan kaki di bahu jalan raya sambil mangkel di hati pula. Kadang masih juga beresiko keserempet oleh sliwerannya kendaraan umum seperti metro mini, kopaja, mini angkot dan pengendara lainnya. Belum lagi kami harus berjalan menghindar dari kerumunan para pedagang buah-buahan dan kaki lima lainnya yang ikut meramaikan suasana pertrotoaran disini. Aduh....)
Lain halnya dengan pak Sarman yang satu ini. Keluwesannya mengendarai sepedanya menembus semrawutnya lalulintas merupakan alasan mengapa masyarakat masih setia memilih angkutan tradisional ini. Bahkan pak Sarman telah mempunyai pelanggan tetap yang menggunakan jasanya usai jam kantor. Bersama sekitar 60 orang rekan-rekannya, pak Sarman menunggu penumpang dengan sabar di depan Stasiun Kereta Api Beos , Kota.
"Saya sudah tujuh tahun ngojek sepeda" katanya. Sebelum menjadi pengojek, pak Sarman mengaku pernah bekerja di berbagai toko dan pabrik di ibukota, namun ketidaksenangan diperintah oranglain membuatnya banting setir. Awalnya menjadi pengojek sepedapun gara-gara tetangganya menawari untuk membawa sepeda yang tidak dipakai lagi. "Yah..akhirnya keterusan sampai sekarang," katanya lagi sambil tertawa terkekeh mengusap peluh di dahinya.
Yang tidak bisa disembunyikan adalah guratan wajahnya yang seolah menjadi bukti kerasnya perjuangan hidup.
Soal penghasilan, pak Sarman menuturkan, "Yah...lumayanlah bisa mendapatkan 15 ribu sampai 20 ribu rupiah sehari, karena tidak dibebani setoran. Kalau pengojek lain yang masih dibebani setoran, harus menyisihkan sejumlah 15 ribu hingga 20 ribu rupiah kepada pemilik. Ini sepeda Phoenix saya beli seharga 300 ribu rupiah, kalau yang baru sih bisa sampai 500 ribu rupiah," katanya sambil menunjuk sepedanya yang telah dilengkapi jok tambahan itu.
Karena menjadi pihak yang lemah, daya tawarpun rendah. Sulit bagi mereka mematok harga. Nominal Rp.1500,- dianggap layak untuk berjalan dari Stasiun Kereta Api Beos menuju kantor pos yang berjarak sekitar 300 meter. Namun tak jarang pula, seberapapun uang yang diberikan penumpangnya mereka terima dengan ikhlas.
Kendati minim dalam penghasilan, mereka tidak minim dengan kebaikan. Bahkan persainganpun disikapi dengan bijak. Tenggang rasa menjadi sebuah keharusan ketika melihat ada teman yang belum mendapat penumpang. Mereka sadar betul bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Untuk apa saling sikut jika hanya menimbulkan penderitaan yang berujung pada ketidaknyamanan dalam hidup dan bertambahnya musuh ?.
Meski tidak semua pengojek sepeda memiliki sifat seperti pak Sarman ini, namun ada kesamaan yang tidak bisa hilang dari mereka, yaitu komunitas marjinal. Namun rasa "nrimo" lah yang membuat kaum terpinggirkan ini menjadi "survive". Setelah merasa cukup, tidak ada lagi niatan untuk merebut milik orang lain.
Saat ini ojek sepeda hanya ada di kawasan Jakarta Utara dan Kota. Mereka para pengojekpun menjadi fasih dengan perkembangan yang ada di wilayah itu, bahkan mereka sekaligus berfungsi sebagai pemandu wisata di kawasan yang memang terkenal dengan kota tua yang banyak peninggalan bangunan bersejarahnya. Dengan uang sekitar 20 ribu rupiah, kami bisa diajak berkeliling kota. Mulai dari Stasiun kota, Museum Sejarah Jakarta, hingga ke pelabuhan Sunda Kelapa, sambil dengan senang hatinya mereka menceritakan sejarah bangunan-bangunan yang ada di sekitar situ. Akan lebih menyenangkan lagi jika hal ini dilakukan pada malam hari, setelah terik matahari Jakarta terganti oleh semilir angin laut.
Kehidupan kadang terasa tidak berubah. Kala senja menyisir pantai teluk Jakarta, pak Sarmanpun dengan bersenandung lirih--entah lagu apa yang dinyanyikannya--membelokkan setang sepedanya ke rumah, menemui anak dan istrinya. Masih tampak sesungging senyumnya karena mengantongi hasil tetesan keringat yang diperolehnya seharian. Sembari berdoa pada Sang Khalik, "Tuhan, berilah kesempatan pada saya untuk bisa berbuat baik dan menjadi lebih baik lagi"
(Ah, sebait doa sederhana dari pak Sarman dan rekan-rekannya, yang masih sawang sinawang dengan koor serempak para anggota DPR ketika menerima tambahan tunjangan sepuluh juta rupiah, di tengah duka abadi karena naiknya harga bahan bakar minyak di negeri ini), terdengar jelas sampai kami kembali membuka hari esok.
Posted by Cisca at 5:29 PM
Tuesday, October 25, 2005
Tigaperempat Bulan Satu Perenungan
Memasuki bulan Ramadhan ini , kita mempunyai suguhan istimewa yang mendahului sahur pertama untuk berpuasa. Yaitu "hidangan" teror bom dan bahan bakar minyak. Hal yang pertama, selain mengundang perhatian dari seluruh kalangan dunia, juga menimbulkan anggapan pada masyarakat luas bahwa negeri kita adalah lahan bagi hidupnya satu bangsa yang telah disarangi kelompok teroris. Mungkin tak ubahnya laba-laba yang pernah saya lihat membuat jejaringannya di sudut-sudut dan langit-langit rumahku. Jika seperti itu keadaannya, maka kesimpulannya sudah jelas. Sayalah yang lalai. Lalai dalam memperkirakan bahwa segumpal kotoran ternyata tak lebih dari setitik debu yang jika dibiarkan terus menerus akan berkelompok dan menjadikan pemandangan di rumah sayapun tak bersih lagi.
Namun bom bukanlah debu seperti debu yang beterbangan di atas kepala saya ataupun seperti sarang laba-laba di dalam rumahku itu. Ia dapat menimbulkan ledakan debu yang sangat dahsyat. Tidak hanya kepada harta benda yang kita miliki, rumah kita yang berdiri di atas tanah negeri ini, tapi juga ledakan ketakutan di hati seluruh penduduk dunia.
Bahkan Mesir yang beberapa tahun terakhir dikenal sebagai negara yang cukup amanpun, ternyata eskalasi kekerasan di negeri itu belakangan ini cukup mencemaskan pula. Arab Saudi juga sampai sekarang masih dalam pertarungan melawan kelompok garis keras yang bersembunyi di negara itu. Begitu pula di Marokko, juga Cassablanca yang menjadi saksi bisu aksi antikemanusiaan ini.
Saya tidak pernah mengerti mengapa tindak kekerasan kini semakin menjadi-jadi justru ketika peradaban semakin menua. Seingat saya, pijakan analisis yang terkait dengan masalah terorisme ini adalah masa terjadinya tragedi 11 September tahun dua 2001, empat tahun yang ada di hadapan jika kita berjalan balik menghampiri peristiwa itu.
Setelah masa itu, ada dua perasaan yang saling "menikam" hati umat Islam. Pertama, rasa duka karena tragedi itu mengorbankan rakyat yang tidak bersalah. Kedua, rasa suka karena mereka--pelakunya--menganggap sebagai ekspressi perlawanan umat Islam terhadap Amerika yang selama ini selalu memojokkannya. Kedua perasaan yang saling menikam itu meninggalkan bekas yang sama saja: luka. Rasa suka seperti yang bagaimana jika aksi berdarah berarti bersekongkol dengan kejahatan ?. Namun pada perjalanan selanjutnya, rasa duka itupun terkalahkan dengan rasa suka setelah Amerika menyatakan perang terhadap kelompok Osama bin Laden yang bersarang di Afganistan. Aksi protespun memenuhi negara Islam. Bahkan aksi-aksi protes ini menobatkan seorang Osama sebagai "pahlawan Islam".
Ketika Amerika menghadapi Uni Sovyet di Afganistan, untuk menaklukkan Sovyet, Amerika pernah juga melakukan hal yang sama, yaitu bekerja sama dengan garis keras Islam yang juga melibatkan Osama. Karena mempunyai keinginan yang sama, maka terjalinlah kerja sama yang rapi untuk menghancurkan musuh bersama saat itu, yaitu Sovyet. Oleh karena itu, ketika kelompok Osama yang dulunyapun dilatih Amerika untuk menghancurkan Sovyet kini berbalik menyerang Amerika, maka penamaan yang tepat untuk kondisi itu tak lain adalah senjata makan tuan. Silang kepentingan yang menjadi pemainnya.
Mari kita bedah perkembangan teror yang terakhir ini banyak menghantam umat Islam sendiri. Ada perbedaan antara koalisi umat Islam dan kelompok garis keras yang dilakukan ketika Amerika menyerang Osama, dengan koalisi yang dilakukan Amerika dan garis keras untuk menghadapi Sovyet. Perbedaannya ada pada tujuan dan sokongan kekuatan. Untuk menumpas "musuh" sebesar Amerika perlu kekuatan tangguh secara militer dan ekonomi. Sedangkan "koalisi tak bersenjata" antara umat Islam dan garis keras tidak mumpuni, lambat launpun melemah dan kemudian hancur. Umat Islampun "menginjak" figur seperti Osama, dengan bermunculannya slogan dimana-mana bahwa Osama merusak citra Islam.
Di sisi lain, kalangan garis keras yang merasa dikhianati, menuduh negara-negara Islam bekerja sama dengan musuh. Aksi kekerasanpun mulai dialamatkan kepada mereka, termasuk Arab Saudi, Maroko, Mesir dan kami Indonesia. Kitalah yang selalu menjadi sasaran kekecewaan siapapun dan apapun terhadap perputaran waktu yang senantiasa mengandung kejadian, peristiwa dan yang kemudian menjadikannya sebagai sejarah.
Sekarang tentang saudara seibu kita disini. Keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi bahan bakar minyak dan membagikan dana kompensasinya dalam bentuk bantuan langsung secara tunai kepada rakyat telah mengalihkan isu politik yang sensitif tentang hal itu, menjadi isu yang sangat teknis di lapangan. Ketika bantuan tunai dana kompensasi BBM itu sedang dibagikan kepada seluruh rakyat, antrian warga yang sedemikian panjang membuat kondisi fisik saudara kita menjadi lemas dan akhirnya pingsan dalam barisan rakyat miskin. Bahkan ada yang pingsan dan tak tertolong lagi hingga menemui ajalnya. Ada pula diantara kita yang mengomel karena tidak dapat menahan diri untuk bersabar menghadapi situasi di lapangan. Bahkan seorang nenek di Jogjakarta nekat menerjunkan dirinya ke dalam sungai untuk bunuh diri saja karena sudah frustrasi dengan urusan penerimaan kartu kompensasi BBM itu. Jika takut bunuh diri tapi tidak takut membunuh yang lainnya, seseorang di negeri inipun dapat dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain di luar dirinya hanya karena faktor emosi. Seorang ketua RT (rukun tetangga) di daerah Jambi kabupaten Bungo, tewas dibunuh salah seorang warganya yang emosi karena korban tidak mendaftarkan warga tersebut sebagai warga miskin penerima dana kompensasi BBM.
Ada lagi pernik yang lucu. Di Sulawesi tengah kabupaten Donggala, ada keluarga yang menolak di daftar sebagai warga miskin karena malu dengan anggapan itu. Yah, istilahnya biar miskin yang penting sombong. Ini menyulitkan badan pusat statistik disana. Karena selain kurangnya waktu untuk pendaftaran dan tenaga pendata, juga kondisi geografis yang sulit dijangkau. Untuk mencapai daerah pegunungan dan kepulauan di sana harus naik kuda, bahkan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Kalau ada warga yang malu dianggap miskin dan menolak bantuan tunai tersebut--padahal memang miskin keadaannya--ada lagi keluarga yang keadaannya cukup layak namun mengaku miskin supaya bisa mendapatkan bantuan itu. Ada pula diantara kita yang mengajukan protes jika tidak didaftar sebagai warga miskin, karena kemiskinan adalah identitas rakyat di negeri ini. Kita khawatir jika tanpa identitas kemiskinan itu, pemerintah tidak dapat mengenali kita lagi...
Padahal, penentuan kriteria keluarga miskin inipun sebenarnya tidak luput dari persoalan tentang bagaimana variabel yang disebut miskin itu, jika dikaitkan dengan tingkat penghasilan keluarga. Ada sebuah keluarga yang rumahnya dibangun dengan sistem gotong royong--seperti arisan pembangunan rumah-- sehingga kondisi rumah yang ditempatinya tampak layak. Padahal jika ditinjau dari besarnya penghasilannya perbulan, mereka tergolong miskin.
Ada lagi yang berkesan seperti bantuan salah alamat. Dana kompensasi BBM dikirim kepada keluarga yang tergolong mampu, sehingga bantuan tunai itu bukan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari , tapi malah digunakan untuk membeli baju baru buat lebaran. Ada kepala desa yang dihajar karena urusan pembagian subsidi tunai langsung itu, namun ada pula kepala desa yang diam-diam ketahuan menyunat uang bantuan itu hingga 20%. Ini semua terjadi memang karena buruknya pengamanan dan kontrol kita selama di lapangan.
Dan yang paling memprihatinkan, semua ini terjadinya justru pada bulan Ramadhan. Bulan yang seharusnya tepat untuk sebuah kontemplasi yang manis pada diri setiap umat Islam.
Rakyat di negeri ini selalu terpapar sebagai model dari dua realita hidup: Islam dan kemiskinan. Kemiskinanlah yang menobatkan dirinya menjadi ibu dari semua keturunan dan anak cucu persoalan di negeri ini. Agama yang tidak mampu menggerakkan umatnya untuk mengamalkan ibadahnya dalam hidup bermasyarakat, diibaratkan sebagai bapak yang lama kelamaan menjadi impoten karena setiap hari ibu selalu mengomel tentang urusan dapur. Dan bapakpun mulai banyak berdiam diri karena sudah pusing tak menemukan lagi cara jitu untuk menenangkan ibu yang selalu menuntut penghasilan yang memadai, sebagai landasan kebutuhan hidup.
Posted by Cisca at 5:24 PM
